#Post Title #Post Title #Post Title #Post Title #Post Title #Post Title
Showing posts with label i dont know why ff. Show all posts
Showing posts with label i dont know why ff. Show all posts
Sunday, July 10, 2011

[FF/S/PG-15/3-END] I DON'T KNOW WHY



TITLE: I DON'T KNOW WHY
GENRE: ROMANCE
LANGUAGE: BAHASA INDONESIA
RATING: PG-15/Straight
CASTS:
- Han Ye Won
- Kim Soo Yoon (Drummer of Royal Pirates)
- Kim Myoung Jae (Korean ulzzang boy)


Myoungjae menghentikan langkahnya saat dilihatnya Yewon berdiri di depan gerbang sekolahnya, menatapnya dengan tangan bersedakap di perutnya. Myoungjae dengan ragu berjalan menghampirinya, menghampiri Yewon yang kini tengah menatapnya dengan kesal. Dia kurang yakin dengan kemungkinan maksud kedatangan Yewon ke sekolahnya. Apakah Yewon akan memarahinya? Ntahlah, hanya saja memang sudah 1 bulan ini dia tidak bertemu dengan Yewon, atau lebih tepatnya dia menghindari Yewon.
“Oh? Noona. Ada apa?,”tanyanya saat sudah berdiri di hadapan Yewon. Yewon masih saja menatapnya dengan kesal.
“Kemana saja kau sebulan ini?,”tanya Yewon langsung. Myoungjae lama terdiam hanya untuk menjawab pertanyaan itu. Haruskah dia menjawabnya dengan jujur?
“Aku sibuk untuk ujian, noona,”jawab Myoungjae tidak sepenuhnya berbohong, walau memang alasan utamanya bukanlah itu.
“Apakah kau benar-benar sesibuk itu? benar-benar tidak bisa meluangkan satu haripun untukku?,”tanya Yewon sangsi.
“Maaf, noona,”ucap Myoungjae menundukkan kepalanya. Yewon menghela napas kesal melihat perlakuan Myoungjae padanya. Kenapa pria itu jadi sekaku ini padanya?
“Kau tidak perlu membungkuk sampai 90 derajat, Myoungjae-a,”ucap Yewon menghela napas kesal saat dilihatnya semua orang atau murid-murid menatap ke arah mereka.
“Noona, kita tidak usah bertemu lagi,”ucap Myoungjae menatap lurus mata Yewon.
“Anggap saja, perkenalan kita sampai hari ini. Aku tidak mau bertemu denganmu lagi, noona,”jelas Myoungjae. Yewon terlihat membuka mulutnya shock. Dia benar-benar tidak percaya dengan ucapan Myoungjae. Tetapi belum sempat dia menanyakan kebenaran hal itu, Myoungjae telah terlebih dahulu berjalan meninggalkannya. Yewon hanya bisa terdiam beberapa saat di tempatnya, sebelum akhirnya dia meninggalkan tempat itu, melalui arah yang berlawanan dengan Myoungjae.

Myoungjae duduk di tepi sungai Han sambil melempar kerikil ke dalam sungai itu. Ntah kenapa perasaannya sama sekali tidak menjadi lega setelah mengatakan kalimat itu pada Yewon. Padahal sebelumnya dia berpikir bahwa dia akan merasa lebih tenang jika menyampaikan hal itu secara langsung, tapi nyatanya? Perasaannya menjadi galau dan... sedih. Ntahlah, sejujurnya sebulan tidak bertemu Yewon bukan membuatnya bisa melupakan gadis itu, tetapi justru sebaliknya. Apakah dia benar-benar jatuh cinta pada Yewon? Dia sendiri tidak tau, bahkan dia mencoba mengingkari hal itu. Dia tetap berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanyalah cinta sesaat. Ya, pasti.
Myoungjae menoleh saat ada seseorang yang duduk di sebelahnya, dia sedikit tertegun saat menyadari bahwa orang itu adalah Yewon.
“Apakah kau sedang memikirkanku?,”tanya Yewon tanpa menatap Myoungjae. Myoungjae hanya terdiam.
“Kakiku mengantarku kesini, karena sepertinya kau memanggilku. Jika tidak, aku akan pergi. Seperti yang kau pinta,”ucap Yewon lalu berdiri. Myoungjae segera meraih tangan gadis itu.
“Duduklah...,”perintahnya tanpa memandang Yewon.
“Untuk apa? Bukankah kau ingin aku pergi?,”tanya Yewon tetap berdiri.
“Ya, tapi aku juga bilang bahwa perkenalan kita biarlah hanya sampai hari ini. Dan hari ini belum berakhir,”jawab Myoungjae.
“Aku tidak suka dengan perpisahan. Sebaiknya tidak usah ada kata perpisahan kalau kau memang tidak ingin mengenalku lagi,”ucap Yewon menyingkirkan genggaman Myoungjae pada tangannya dan beranjak pergi. Myoungjae menoleh menatap punggung yang semakin menjauh itu.
“Aku juga tidak suka perpisahan. Hanya saja, mungkin itu justru jalan terbaik,”gumam Myoungjae.

Yewon berjalan dengan lesu. Ntah sudah berapa lama dia berjalan, dia hanya tau bahwa langit sudah gelap. Pikirannya terus tertuju pada ucapan Myoungjae. Apakah dia ditinggalkan pria untuk kedua kalinya? Jika iya, maka malang sekali nasibnya. Apakah semua ini takdir hidupnya? selalu ditinggalkan oleh pria yang dicintainya. Yewon menghela napasnya berat, dia benar-benar tidak mengerti dengan semuanya. Jika pada akhirnya dia harus patah hati, untuk apa Tuhan mempertemukannya dengan Myoungjae? Padahal, dia sudah sedikit berharap pada pria itu. dia sudah berpikir untuk memberikan cintanya pada pria itu. tidak peduli bahwa pada kenyataannya Myoungjae jauh lebih muda darinya. Tapi, sepertinya semua itu tidak mungkin. Ya, tidak mungkin Myoungjae mau menerima cintanya. Bahkan pria itu sudah secara terang-teranganya menolaknya tanpa perlu dia mengungkapkan cintanya.
“Yewon-a, malang sekali nasibmu,”ucap Yewon pada dirinya sendiri.
-_-_-_-_-_-_-_
Sooyoon masuk ke dalam kamar Yewon, kamar itu sangat gelap, sehingga Sooyoon pun menyalakan lampu kamar itu. dilihatnya Yewon sedang terduduk memeluk kakinya di sisi tempat tidur. Wajah gadis itu terlihat sedih. “Apa yang sudah terjadi?,”pikirnya. Dia pun menghampiri Yewon dan gadis itu mendongak menatapnya. Sooyoon merengkuh bahu Yewon dan menyuruhnya berdiri.
“Kau kenapa?,”tanya Sooyoon memandang wajah Yewon. Yewon tidak menjawab dan langsung memeluk pria itu. Sooyoon sudah bisa menebak apa yang terjadi.
“Kau sudah bertemu dengannya?,”tanya Sooyoon sambil membelai rambut panjang Yewon, Yewon hanya mengangguk dalam pelukannya.
“Lalu apa yang terjadi?,”tanya Sooyoon.
“Dia memintaku untuk tidak bertemu dengannya lagi,”jawab Yewon. Sooyoon meregangkan pelukannya dan menatap Yewon.
“Dan apa yang akan kau lakukan?,”tanya Sooyoon. Yewon mendongak dan menatapnya.
“Aku akan pergi. Aku akan pergi dari kehidupannya,”jawab Yewon, membuat Sooyoon mengernyitkan keningnya.
“Aku akan kembali ke California. Kurasa, disanalah seharusnya aku melewati hari-hariku,”jelas Yewon.
“Dan kau akan meninggalkanku?,”tanya Sooyoon. Yewon hanya tertawa sumbang.
“Ya, aku akan meninggalkanmu. Aku tidak akan menjadi bebanmu lagi, oppa,”ucap Yewon.
“Kau bukanlah bebanku. Kau adalah orang yang paling aku cintai,”ucap Sooyoon. Yewon terdiam beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum simpul dan menyentuh pipi Sooyoon.
“Aku tau. Terima kasih. Tapi maaf, aku tidak bisa berada di posisi itu,”ucap Yewon.
“Oppa, pasti ada gadis yang lebih baik dariku yang bisa menemani hari-harimu,”ucap Yewon lagi setelah menghela napas berat, menatap dalam mata Sooyoon. Sooyoon meraih tangan Yewon yang ada di pipinya dan menggenggamnya.
“Mengapa kau lakukan itu padaku?,”tanya Sooyoon.
“Apakah kau tidak percaya dengan perasaanku?,”desak Sooyoon. Yewon tersenyum dan mendekatkan bibirnya pada wajah Sooyoon, mengecup bibir pria itu pelan.
“Aku percaya. Hanya saja, aku tidak yakin bahwa aku bisa membalas cintamu. Aku tidak yakin bahwa aku bisa mencintaimu sebesar kau mencintaiku,”jawab Yewon.
“Oppa, aku mohon. Ijinkan aku pergi. Biarkan aku keluar dari kehidupanmu. Dan kau carilah kehidupan barumu yang baru, yang lebih baik. Aku yakin, semua akan berjalan seperti biasa dan kau akan bisa melalui hari-harimu dengan lebih baik setelah aku pergi,”ucap Yewon.

Malam itu juga, Sooyoon langsung bertemu dengan Myoungjae di sebuah cafe. Awalnya Myoungjae menolak ajakannya, tetapi saat dia mengatakan dia ingin membicarakan sesuatu yang penting tentang Yewon, Myoungjae pun akhirnya menyetujui untuk bertemu.
“Besok Yewon akan kembali ke California,”ucap Sooyoon langsung lalu meneguk wine nya. Myoungjae sedikit terkesiap mendengarnya.
“Aku sudah tau apa yang kau katakan pada Yewon dan diapun memutuskan pergi karena itu,”ucap Sooyoon lagi.
“Apa kau benar-benar menginginkan Yewon pergi dari kehidupanmu?,”tanya Sooyoon akhirnya menatap matanya. Myoungjae terdiam.
“Aku tau kau tidak ingin dia pergi. Hanya saja... kau tidak tau bahwa dia tidak akan membatalkan keputusan yang telah dia buat,”ucap Sooyoon.
“Besok datanglah ke bandara jam 3 sore untuk mengantar Yewon,”ucap Sooyoon lalu pergi meninggalkan Myoungjae. Myoungjae tetap diam di tempatnya. Benarkah semua harus berakhir? Benarkah akan ada perpisahan itu? Myoungjae pun akhirnya melangkah keluar cafe dengan sejuta pertanyaan dan penyesalan di benaknya. Dia tidak tau apa yang akan terjadi padanya jika dia benar-benar tidak akan bertemu Yewon untuk selama-lamanya, cinta pertamanya.
-_-_-_-_-_-_-_
“Ternyata kau datang untuk mengantarku,”ucap Yewon tersenyum saat dilihatnya Myoungjae berdiri di hadapannya dengan napas tersengal. Yewon mengulurkan tangannya dan mengelap peluh di dahi Myoungjae.
“Kenapa berlari?,”tanya Yewon.
“Aku takut terlambat untuk mengantarmu, noona,”jawab Myoungjae.
“Kau tidak perlu memaksakan diri begitu. Aku tau kau masih ada jam pelajaran. Kau memboloskan?,”tanya Yewon.
“Kau tidak perlu melakukan itu, Myoungjae-a. Masih ada Sooyoon oppa yang mengantarku,”ucap Yewon.
“Tapi aku ingin bertemu, noona. Untuk yang terakhir kali,”ucap Myoungjae menatap mata Yewon. Yewon hanya tersenyum samar.
“Apa kau benar-benar tidak ingin bertemu denganku di lain waktu?,”canda Yewon.
“Bukan begitu, hanya saja--,”
“Ya, aku tau,”potong Yewon.
“Myoungjae-a, terima kasih untuk semuanya. Aku tidak akan pernah menyesal karena telah mengenalmu. Kau sangat berjasa bagiku,”ucap Yewon. Yewon menoleh pada Sooyoon dan tersenyum padanya.
“Oppa, kau harus menjengukku,”pesan Yewon.
“Tentu saja. Kurasa tahun depan aku akan kembali ke CA,”jawab Sooyoon.
“Baiklah, aku akan menunggumu,”ucap Yewon. Yewon menolehkan wajahnya saat panggilan untuk keberangkatannya terdengar.
“Aku harus pergi. Jaga diri kalian, ok?,”pesan Yewon lalu berbalik dan melangkah menjauhi kedua pria itu, dua orang yang mencintainya. Yewon melambaikan tangannya sebelum memasuki pintu keberangkatan. Sebuah senyuman tersungging di bibirnya, gadis itu bahkan membentuk simbol hati dengan tangannya, membuat Sooyoon dan Myoungjae tersenyum. Walaupun mereka tidak bisa bersama Yewon dan menjadikan gadis itu miliknya, tapi mereka tau dengan pasti bahwa Yewon mencintai mereka.
-_-_-_-_-_-_-_
----4 tahun kemudian----
Myoungjae berdiri di luar sebuah cafe di tepi pantai, memandang lautan yang membentang luas di hadapannya. Saat ini, dirinya berada di California. Dia tidak menyangka bahwa kota ini begitu luas. Dan dia tidak menyangka, bahwa dirinya telah menyebrangi lautan hanya untuk mencapai kota ini. Yewon. Ya, satu nama itu yang terus ada di pikirannya. Mungkin rasa cintanya untuk Yewon memang sudah pudar, hanya saja, dia ingin bertemu dengan gadis itu. Ingin melihat Yewon yang sekarang. Apakah tetap sama seperti dulu?
“Kau semakin tampan, Myoungjae-a,”sebuah suara terdengar. Dia sudah tau pasti bahwa ada seseorang yang berdiri di sampingnya, ikut menatap lautan. Hanya saja, dia tidak berani untuk membalikkan badannya, karena dia tidak mau terlalu berharap dan akhirnya kecewa jika yang dia lihat bukanlah Yewon. Jika suara yang didengarnya hanyalah sebuah ilusi.
“Kau bahkan tidak mau menatapku. Apa kau tidak merindukanku?,”tanya suara itu.
“Apa kau... Yewon noona?,”tanya Myoungjae tanpa mengalihkan tatapannya dari lautan di hadapannya.
“Tentu saja,”ucap suara itu lalu sebuah tangan menarik lengannya sehingga membuatnya berbalik. Dilihatnya sosok Yewon di hadapannya. Yewon tetaplah cantik di matanya, hanya saja... Yewon terlihat lebih anggun.
“Ya!! Jangan bengong begitu. Aku benar-benar Yewon. Apa kau tidak percaya?,”ucap Yewon sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Myoungjae. Myoungjae akhirnya tersadar dan tersenyum.
“Apa kabar? Kurasa noona sekarang sudah bahagia,”ucap Myoungjae.
“Tentu saja. Karena sekarang sudah ada malaikat kecil di kehidupanku,”jawab Yewon, membuat Myoungjae mengernyit bingung. Yewon menggamit tangan Myoungjae dan mengajaknya berjalan menuju pantai. Yewon mengisyaratkan dengan dagunya dan Myoungjae pun memandang arah yang diisyaratkan Yewon. Disana terlihat seorang anak kecil perempuan tengah bermain air dengan seorang pria dewasa. Myoungjae menoleh menatap Yewon dengan tatapan bertanya dan Yewon tersenyum.
“Oppa!!! Yebin-a!!!!!!!!,”teriak Yewon sambil melambaikan tangannya. Kedua orang itu menoleh dan ikut melambaikan tangannya. Yewon berlari menghampiri kedua orang itu dengan tangan menarik Myoungjae agar ikut bersamanya.
“Umma...,”ucap gadis kecil itu langsung meminta Yewon untuk menggendongnya.
“Aigoo~~ Kau basah sekali, Yebin-a,”ucap Yewon.
“Appa juga basah,”ucap Yebin menunjuk pria di sampinya.
“Appa itu kan memang nakal. Kau tidak seharusnya mencontohnya,”ucap Yewon.
“Ahh... Aku hampir lupa,”ucap Yewon kemudian.
“Myoungjae-a, kenalkan suami dan anakku,”ucap Yewon.
“Wonbin imnida,”ucap Wonbin.
“Myoungjae imnida,”ucap Myoungjae.
“Aku sudah tau tentangmu,”ucap Wonbin.
“Ne?,”tanya Myoungjae bingung.
“Istriku sudah pernah menceritakan tentangmu. Aku mengucapkan terima kasih untuk jasamu,”jawab Wonbin tersenyum. Myoungjae hanya tersenyum dan hatinya merasa bahagia menatap keluarga kecil itu.
“Annyeong!! Kenalkan, aku Myoungjae, samcheon mu,”ucap Myoungjae pada Yebin. Yebin mengulurkan tangannya dan Myoungjae langsung menggendong gadis kecil itu.
“Bajumu nanti jadi basah,”ucap Yewon mengingatkan.
“Tidak apa-apa,”
“Yebin-a, ayo kita buat istana pasir,”ucap Myoungjae lalu menurunkan Yebin dan mereka mulai memasukkan pasir ke ember dan menatanya. Yewon dan Wonbin hanya tersenyum menatap mereka.
“Haruskah kita mengadopsi Myoungjae?,”canda Wonbin yang langsung mendapatkan cubitan dari Yewon di pinggangnya.
====END====


Please give reaction and leave comment

Primadonnas' Island blog
[ Read More ]
Thursday, June 23, 2011

[FF/S/PG-15/2] I DON'T KNOW WHY



TITLE: I DON'T KNOW WHY
GENRE: ROMANCE
LANGUAGE: BAHASA INDONESIA
RATING: PG-15/Straight
CASTS:
- Han Ye Won
- Kim Soo Yoon (Drummer of Royal Pirates)
- Kim Myoung Jae (Korean ulzzang boy)


Yewon berdiri di balkon kamarnya, menunggu Myoungjae. Ya, sejak pertemuan 2 bulan lalu, mereka menjadi rutin bertemu. Pria itu mengatakan padanya untuk menunggunya. “Noona,jam 4 aku pulang sekolah. Kau tunggulah aku, ok?” Dan seperti yang dijanjikan, Yewon pun menunggu Myoungjae. Ntah kenapa dia merasa nyaman berada di dekat Myoungjae, mungkin karena pria itu yang tidak terlalu banyak bertanya, walau tidak dipungkiri Myoungjae adalah pria yang banyak bicara. Saat mereka menghabiskan waktu bersama, pria itu terus saja bicara, walaupun dirinya tidak ditanggapi atau lebih tepatnya Yewon tidak berkomentar mengenai semua cerita pria itu. Tetapi, Myoungjae dengan sukses membuatnya tertawa dengan semua ceritanya. Ternyata pria itu begitu banyak memiliki cerita konyol. Dan Yewon yakin, kehidupan sekolah pria itu pasti sangat menyenangkan. Dia hanya bisa tersenyum saat Myoungjae menceritakan bahwa dia pernah secara tidak sengaja melempar sapu hingga mengenai jendela kelas saat dia piket dan karena bosan, dia bermain dengan sapu itu dan akhirnya sapu itu melayang. Myoungjae menceritakan hal itu sambil mempraktekannya membuat Yewon tertawa terbahak-bahak melihatnya.

“Noona!!!!,”Yewon langsung menundukkan kepalanya dan melihat ke luar pagar rumahnya, dilihatnya Myoungjae melambaikan tangannya dengan semangat, pria itu masih mengenakan seragamnya. Yewon pun tersenyum dan masuk ke kamarnya lalu tak berapa lama kemudian dia keluar rumah dan membukakan pagar untuk Myoungjae.
“Noona, apakah kau sudah lama menungguku?,”tanya Myoungjae yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Yewon.
“Tadi aku mendapat hukuman, noona. Kau tau--,”cerita Myoungjae sambil menggenggam tangan Yewon dan menariknya lembut, mengajak gadis itu berjalan-jalan di sore hari.
“—tadi aku melakukan kesalahan lagi, aku menumpahkan air bekas mengepel ke tubuh kepala sekolahku,”lanjut Myoungjae lalu menatap Yewon yang tengah membelalakkan matanya.
“Aku tidak sengaja, noona. Aku sebenarnya berniat membuang air itu begitu saja, tapi karena melihat halaman yang gersang, jadi aku langsung saja menumpahkan air itu dari jendela kelasku dan ternyata kepala sekolahku lewat,”ucap Myoungjae sambil mempraktekan ceritanya.
“Ahhh... Seharusnya aku merekam ekspresi pria itu saat memarahiku tadi, kau pasti akan tertawa, noona,”sesal Myoungjae. Yewon hanya tersenyum dan mengusap kepala Myoungjae. Myoungjae langsung terdiam seketika menerima sentuhan itu.
“Noona, kau membuat jantungku berdegup kencang,”ucap Myoungjae memegang dadanya. Yewon bukannya menghentikan aksinya, malah sekarang mengacak-acak rambut pria itu.
“Ahh... Noona, andwae!! Cukup! Rambutku jadi berantakan,”ucap Myoungjae berusaha menghindar, tetapi Yewon tetap menjangkau pria yang kini mengelak dengan menundukkan badannya.
“Noona, cukup,”mohon Myoungjae dengan tampang memelas. Yewon pun hanya tersenyum dan menghentikan aksinya. Dia mengulurkan tangannya pada Myoungjae, membantu pria itu untuk berdiri. Saat pria itu berdiri, Yewon menyisir rambut Myoungjae yang berantakan dengan jari-jarinya. Myoungjae hanya terpaku dan menatap wajah Yewon yang sekarang berada sangat dengan dengan wajahnya.
“Noona, boleh aku menciummu?,”tanya Myoungjae. Yewon langsung berhenti menyisir rambut pria itu dan menatapnya bingung. Myoungjae meraih tangan Yewon yang masih berada di rambutnya dan mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu. Yewon hanya bisa diam terpaku merasakan bibir lembut dan hangat Myoungjae di bibirnya.
“Maaf, aku terbawa suasana,”ucap Myoungjae setelah menjauhkan wajahnya. Yewon buru-buru melepaskan pegangan tangan Myoungjae di tangannya dan tersenyum. Yewon kembali merapikan rambut Myoungjae, bertingkah seolah tidak pernah ada hal spektakuler yang baru saja terjadi.

“Noona, aku sedang memikirkan bagaimana membuatmu bicara,”ucap Myoungjae berpikir keras. Yewon menatap pria yang kini duduk di sampingnya. Ingin sekali dia mengeluarkan suaranya dan berbicara pada pria itu. Yewon membuka mulutnya, tetapi ntah kenapa rasanya susah sekali untuk mengeluarkan suaranya. Myoungjae masih berpikir keras, mencari metode paling tepat untuk membuat Yewon mau bicara.
“Noona, apakah terapi ciuman yang aku berikan tadi berhasil? Cobalah bicara, noona!,”pinta Myoungjae menatap Yewon dengan tatapan memohon. Yewon terdiam.
“Sudahlah, kalau kau masih belum mau bicara. Sekarang dengarkan aku bercerita saja, ok?,”ucap Myoungjae.
“Kau mau cerita apa, noona?,”tanya Myoungjae. Yewon hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban.
“Ahh... padahal aku memancingmu untuk bicara,”ucap Myoungjae menggembungkan pipinya.
“Baiklah, aku akan menceritakan kehidupanku saja,”ucap Myoungjae akhirnya.
“Noona, apakah kau tau kalau aku adalah seorang ulzzang?,”tanya Myoungjae. Yewon hanya menatapnya dan menggeleng.
“Aku ini ulzzang, noona. Sebenarnya aku tidak ingin, tapi teman-teman wanitaku yang seenaknya mempromosikan aku di internet. Kau bayangkan saja, kamera mereka selalu mengintaiku seperti paparazzi. Karena aku kesal diintai seperti itu, akhirnya aku posting saja semua foto-foto selcaku supaya mereka puas memangdang wajahku. Apakah aku tampan?,”Myoungjae menolehkan kepalanya menatap Yewon. Yewon memiringkan kepalanya menatap wajah Myoungjae, seolah mengamati dan hendak memberikan penilaian mengenai wajahnya.
“Noona, jangan pandangi aku seperti itu! Kau membuatku gugup,”ucap Myoungjae seraya memalingkan wajahnya. Yewon hanya tersenyum melihat sikap Myoungjae. Pria di sampingnya ini benar-benar polos.
“Kau tampan,”Myoungjae langsung tertegun mendengar suara itu. Dengan perlahan dia memutar kepalanya dan menatap Yewon yang kini tersenyum.
“Kau tampan, Myoungjae a,”ulang Yewon. Myoungjae tetap terdiam. Matanya membulat shock.
“A-apa...,”tiba-tiba saja pria itu kehabisan kata-kata. Ternyata dia tidak salah mendengar. Ternyata suara itu memang suara Yewon. Suara yang begitu indah di telinganya.
“Kau... benar-benar bicara, noona?,”tanya Myoungjae tidak percaya. Yewon hanya mengangguk. Myoungjae menggenggam tangannya dan menatap penuh harap,”Apa kau akan terus bicara?,”tanya Myoungjae. Yewon hanya membalasnya dengan senyuman.
“Teruslah bicara, noona. Aku suka mendengar suaramu,”pinta Myoungjae. Yewon hanya tertawa dibuatnya.
“Sudah malam, ayo kita pulang!,”ajak Yewon lalu bangkit dari duduknya. Myoungjae berjalan mengikuti Yewon dan menjajari langkah gadis itu.
“Noona, teruslah bicara!!,”pinta Myoungjae sambil bergelayut manja di lengan gadis itu.
“Baiklah, aku akan berbicara,”ucap Yewon.
“Ahhh... ternyata terapi ciuman dariku berhasil,”ucap Myoungjae sambil merangkul Yewon. Yewon sedikit tertegun dengan perlakuan ini, walaupun Myoungjae memang sudah sering merangkulnya seperti ini.
“Lepaskan tanganmu,”ucap Yewon. Myoungjae menundukkan wajahnya menatap Yewon.
“Kenapa? Bukankah aku sudah sering seperti ini? dan kau tidak pernah protes,”ucap Myoungjae.
“Atau jangan-jangan sebenarnya kau dari dulu keberatan? Baiklah,”Myoungjae langsung melepaskan rangkulannya di bahu Yewon, tetapi tangannya beralih menggenggam tangan Yewon.
“Kalau begini bolehkan?,”tanya Myoungjae dengan senyum manisnya.
====
Sooyoon menatap cemas ke arah Yewon dan Myoungjae yang berjalan ke arahnya. Dia khawatir karena sudah jam 9 Yewon belum pulang. Dan amarahnya tiba-tiba muncul saat melihat Yewon bersama pria itu lagi.
“Kenapa baru pulang?,”tanya Sooyoon ketus saat kedua orang itu baru saja menghentikan langkahnya.
“Maaf, hyung. Kami sampai lupa waktu. Oiya, hyung. Seperti janjiku tempo hari. Aku telah berhasil membuat Yewon noona bicara,”ucap Myoungjae bangga. Sooyoon langsung mengalihkan pandangannya pada Yewon.
“Benarkah?,”tanyanya tidak percaya.
“Benar, oppa,”jawab Yewon. Sooyoon langsung terdiam. Akhirnya dia bisa mendengar suara itu lagi. Suara yang sangat dirindukannya. Sooyoon langsung mendekap Yewon, memeluk gadis itu dengan erat.
“Akhirnya Yewon-ku yang dulu kembali,”ucap Sooyoon. Myoungjae langsung tertegun mendengarnya. Apa maksudnya itu? apakah maksudnya adalah mereka berdua sepasang kekasih? Bukankah pria itu hanya sahabat Yewon noona? Pertanyaan-pertanyaan terus berkelebat di benak Myoungjae.
“Aku pamit dulu,”ucap Myoungjae langsung beranjak pergi. Yewon meregangkan pelukan Sooyoon dan menatap punggung Myoungjae yang menjauh, rasa bersalah menyeruak di hatinya.
“Ayo masuk! Udara dingin sekali,”ucap Sooyoon menggamit tangan Yewon.

“Oppa, aku menyukai pria itu,”ucap Yewon saat Sooyoon hendak menutup pintu kamarnya. Sooyoon terdiam beberapa saat,”Aku tau,”ucap Sooyoon kemudian lalu menutup pintu kamar Yewon. Yewon terdiam. Rasanya dia adalah gadis paling kejam karena telah berkali-kali menyakiti hati Sooyoon. Dia tau tentang perasaan pria itu padanya, tentu saja dia tau. Tapi ntah mengapa, hatinya memang tidak pernah memiliki perasaan pada pria itu selain sebagai seorang sahabat. Sooyoon yang selalu menemaninya selama ini adalah sosok pria yang baik dan itu tidak dipungkirinya. Kasih sayang yang pria itu berikan selama ini sangatlah berlimpah, tetapi ntah mengapa hal itu justru membuatnya menyayangi Sooyoon hanya sebagai seorang kakak. Sooyoon yang selalu membuatnya merasa terlindungi. Membuatnya merasa bahwa hidupnya tidak akan hancur walau tanpa Shiwon yang dulu meninggalkannya. Dia masih ingat dengan jelas peristiwa 2 tahun lalu. Saat kedua orang tuanya menyerahkan tanggung jawab atas dirinya pada Sooyoon. Kedua orang tuanya memang sangat mengenal Sooyoon. Sosok pria yang baik dan bertanggung jawab juga mandiri. Kedekatan dirinya dengan Sooyoon sudah terjalin sejak 8 tahun lalu, saat mereka masih tinggal di California. Saat itu, dirinya yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di tempat itu tentunya merasa asing dengan semua. Dia hanya bisa menyendiri. Tetapi Sooyoon, pria itu datang menghampirinya dan mengajaknya bicara. Dia masih ingat saat pria itu duduk di hadapannya dengan makan siang di depannya. “Jadilah temanku. Jangan selalu menyendiri,”ucap Sooyoon sambil tersenyum. Dan tepat 2 tahun lalu, mereka berdua memutuskan untuk ke Seoul. Sooyoon mengatakan bahwa dirinya ingin tinggal di negri ini. karena selama ini dia tidak pernah menginjakkan kakinya disini. Dan disinilah mereka tinggal sejak 2 tahun lalu. Sooyoon sangat memanjakanya, tentu saja. Pria itu bahkan tidak mengijinkannya untuk bekerja. “Karena kedua orang tuamu mempercayakanmu padaku. jadi aku bertanggung jawab penuh atasmu. Kau harus menuruti semua perkataanku. Mengerti?,”ucap Sooyoon tegas. Dan itulah jawaban yang diberikan pria itu. semua itu kini membuat Yewon kembali berpikir. Ntah kenapa dia seperti tidak peduli pada perasaan Sooyoon yang pasti sakit hati jika mendengar dia mengatakan bahwa dia mencintai pria lain. Sebenarnya, dirinya melakukan itu agar Sooyoon tidak berharap banyak padanya. Dia tidak yakin bisa membalas cinta pria itu, sebagaimana yang Sooyoon berikan untuknya. Apakah dia mencintai Sooyoon? Ya, itulah jawaban sebenarnya. Dia sangat tau pasti. Hanya saja, dia selalu meyakinkan dirinya sendiri bahwa perasaan itu hanyalah perasaan cinta pada seorang sahabat, pada seorang kakak.
“Aku takut mencintaimu, Sooyoon-a,”ucap Yewon pelan.
=====
Sooyoon duduk di meja kerjanya dengan tatapan termenung. Pria itu memikirkan kalimat yang baru saja diucapkan Yewon dan juga memikirkan pria yang telah berhasil membuat Yewon mau berbicara. Dirinya sangat iri pada Myoungjae, pria itu dengan mudahnya membuat Yewon berbicara. Ya, walaupun waktu 2 bulan yang dilalui Myoungjae bukan waktu yang singkat, setidaknya pria itu telah berhasil membuat Yewon mau bicara lagi. Padahal selama 6 bulan terakhir, dirinya terus berusaha membuat Yewon berbicara tetapi hasilnya nihil. Jika bukan demi Yewon, mungkin sejak 2 bulan lalu dia akan langsung mengusir Myoungjae agar pria itu tidak mendekati Yewon. Tetapi janji dan tekad kuat yang Myoungjae katakan dulu, membuatnya berpikir ulang dan akhirnya membiarkan Myoungjae berusaha membantu Yewon. Dia tidak pernah berpikir bahwa semua itu malah akan membuat Yewon semakin jauh dari genggamannya. Dia tidak pernah berpikir bahwa Myoungjae akan berhasil. Dan yang terpenting, dia tidak pernah berpikir bahwa Yewon akan jatuh cinta pada pria itu. tetapi sekarang semua itu sudah terlambat. Dirinya sudah tidak mungkin bisa mencegah kedekatan hubungan kedua orang itu. sebenarnya bisa saja dia mengancam Myoungjae untuk tidak mendekati Yewon lagi, tapi dia tau justru dengan itu dia akan menyakiti Yewon. Dia tidak ingin Yewon bersedih lagi. Dan faktanya, sejak Yewon bertemu Myoungjae, gadis itu menjadi lebih ceria. Sinar kesedihan yang terpancar di mata gadis itu kian meredup dan sinar kebahagiaan kembali muncul di mata itu. dan untuk semua itu, untuk kedua kalinya dirinya harus merelakan Yewon bersama pria lain. Dan ntah mengapa dia yakin bahwa Myoungjae akan selalu membahagiakan Yewon, tidak seperti Shiwon, pria yang membuat gadis yang dicintainya bersedih selama ini.

Myoungjae terduduk di samping jendela kamarnya, pikirannya melayang pada semua kejadian hari ini. masih terasa bibir lembut Yewon di bibirnya. Dia tidak pernah menyangka bahwa dia bisa melakukan itu, bahwa dia benar-benar terhanyut dalam pesona gadis itu. saat itu, dia berpikir Yewon akan pergi darinya karena telah berbuat tidak sopan pada gadis itu, tapi ternyata tidak. Apakah Yewon menyukainya? Bolehkan dia berpikir seperti itu? Myoungjae menghela napas berat. Dia sadar, tidak seharusnya dia memiliki perasaan khusus pada Yewon. Pada awalnya dia memang hanya berniat untuk membantu gadis itu, tapi semua kejadian yang telah berlalu ternyata sedikit demi sedikit membuat timbul perasaan ingin memiliki gadis itu. Sampai saat ini, dia tidak tau apa status Yewon dengan Sooyoon. Jika yang dipikirannya benar—dua orang itu adalah sepasang kekasih, tentunya dia harus menahan perasaan cintanya pada Yewon. Tentu saja dia tidak boleh menyatakan cintanya pada gadis itu. Myoungjae menatap langit, menyadari bahwa janjinya sudah dia tepati, Yewon sudah mau berbicara. Dan... apakah itu berarti dia harus meninggalkan gadis itu? menjauh dari gadis itu dan tidak menemuinya. Dan, sepertinya itu memang keputusan terbaik. Cara terbaik yang bisa membuatnya menghilangkan rasa cintanya pada Yewon. Mungkin perasaan ini hanya cinta sesaat yang timbul karena kedekatan mereka selama 2 bulan terakhir. Dia yakin dirinya bisa melupakan gadis itu dan menghilangkan perasaan cintanya jika dia tidak lagi bertemu dengan Yewon.
“Yewon noona, selamat tinggal. Hiduplah dengan bahagia,”ucap Myoungjae.
***TBC***

Please give reaction and leave comment

Read chapter 3

CREDIT to Yewonnie @Primadonnas' Island blog
[ Read More ]
Monday, June 20, 2011

[FF/S/PG-15/1] I DON'T KNOW WHY



TITLE: I DON'T KNOW WHY
GENRE: ROMANCE
LANGUAGE: BAHASA INDONESIA
RATING: PG-15/Straight
CASTS:
- Han Ye Won
- Kim Soo Yoon (Drummer of Royal Pirates)
- Kim Myoung Jae (Korean ulzzang boy)


Sooyoon menatap gadis di hadapanya dengan sedih. Gadis manis yang sudah sebulan terakhir tidak mengeluarkan suaranya. Gadis yang hanya diam dengan tenang. Gadis yang sangat dicintainya. Ya, Han Yewon. Dia sangat mencintai gadis itu. hanya saja... gadis itu tidak membalas cintanya dan menYukai pria lain. Pria yang menurutnya tidak lebih baik dari dirinya. Masih segar diingatannya saat 2 bulan lalu Yewon masuk ke kamarnya dengan wajah berseri. Gadis itu mengatakan bahwa Choi Shi Won, kekasihnya selama 4 tahun terakhir telah melamarnya. Gadis itu menceritakan semuanya dengan wajah berseri dan mata berbinar. Tentu saja dirinya sedih saat mendengar berita itu. Menyadari bahwa dirinya sudah tidak bisa berharap lagi untuk dapat memiliki gadis itu. Tetapi senyum ceria dan wajah berseri yang Yewon tunjukkan membuatnya merasa sedikit bahagia, karena setidaknya Yewon merasa bahagia. Tetapi sebulan lalu sebuah mimpi buruk datang. Tepat di hari pernikahannya, seorang gadis cantik datang menemui Yewon dan menangis. Gadis itu mengatakan bahwa dirinya tengah mengandung anak Shiwon. Yewon hanya bisa mematung mendengar ucapan gadis itu. Tentu saja awalnya dia dan kami semua tidak percaya sepenuhnya. Hanya saja, saat Shiwon datang, pria itu membenarkan perkataan gadis itu. Berkali-kali pria itu meminta maaf pada Yewon bahkan berlutut di kakinya. Yewon seperti tidak peduli dan langsung menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya. Saat itu tak seorang pun menyangka Yewon akan berubah seperti ini. Seperti gadis bisu. Ya, Yewon sama sekali tidak mengeluarkan suaranya sejak peristiwa itu. Sinar matanya yang selalu berbinar pun meredup, seolah tidak ada lagi kebahagiaan terpancar di dalamnya. Gadis itu hanya mengangguk atau menggeleng setiap kali diajak berbicara, bahkan tidak jarang Yewon hanya diam dan menatap lawan bicaranya. Sooyoon sakit melihat gadis yang paling dicintainya seperti itu. Dia tentu saja sudah berupaya, tetapi apa daya, Yewon tidak mempunyai keinginan untuk kembali seperti semula. Sehingga semua upaya pengobatan yang telah dilakukanpun tidak bermanfaat. Gadis itu tetap sama, diam seribu bahasa. Sooyoon sangat rindu dengan suara Yewon. Suara yang dulu selalu dia anggap mengganggu karena setiap pagi Yewon pasti akan berteriak membangunkannya. Tetapi suara itu bagai alarm terindah yang pernah dia dengar. Sooyoon masih ingat dengan jelas suara merdu Yewon saat mendendangkan lagu dan gadis itu akan terdiam saat menyadari bahwa dirinya memperhatikannya dan mendengarkan suaranya. Yewon pun tidak jarang mengomelinya jika ia bekerja sampai lupa makan atau pulang telat. Gadis itu pasti akan mengomel panjang lebar sampai dia menuruti semua perkataannya. Dia rindu dengan kecerewetan Yewon. Dia sudah terbiasa mendengar semua itu. tetapi sekarang rumah ini menjadi sepi. Tidak ada lagi suara Yewon yang berteriak membangunkannya, mengomelinya ataupun alunan lagu lembut dari bibirnya. Sooyoon rindu semua itu. Dia sangat merindukannya. Ingin rasanya dia bisa mendengarkan keluh kesah Yewon dan kesedihannya. Mungkin akan lebih baik baginya jika Yewon bercerita padanya dan menangis di hadapannya dari pada harus melihat gadis itu seperti ini, memendam penderitaannya sendiri di dalam hati.

“Yewon a, ayo kita makan di luar. Kau bersiaplah dulu,”ajak Sooyoon di ambang pintu kamar Yewon. Yewon menoleh dan mengangguk. Sooyoon pun menutup pintu kamar Yewon dan menuruni tangga. Dia duduk di ruang tamu menunggu Yewon selesai berganti pakaian. Rumah ini terasa gersang dan sepi semenjak Yewon berubah. Dia masih ingat semua kenangannya bersama Yewon di tiap sudut rumah ini. Semua peristiwa yang terjadi sebelum malapetaka itu datang. Sebelum segalanya berubah menjadi seperti sekarang.
Suara langkah kaki menuruni tangga membuat Sooyoon menoleh. Dilihatnya Yewon menuruni tangga dengan pakaian simple kesukaannya. Hanya kaos dan skinny jeans yang melekat di tubuhnya. Gadis itu terlihat sexy dan juga cantik, hanya saja semua itu terasa hambar karena tidak ada kebahagiaan yang terpancar dari dirinya.
“Kau mau makan dimana?,”tanya Sooyoon. Sebuah pertanyaan yang tentu saja percuma karena Yewon tidak mungkin menjawab pertanyaan itu.
“Bagaimana kalau kita makan jjajjangmyun saja? Kau sangat sukakan?,”tawar Sooyoon. Yewon hanya mengangguk mengiyakan. Sooyoon pun akhirnya menggamit tangan Yewon dan mereka berjalan keluar menuju mobil yang sudah terparkir. Yewon duduk dengan tenang di sebelahnya, gadis itu membuka kaca jendela dan menikmati angin malam yang menerpa wajahnya.
“Apa kau tidak kedinginan?,”tanya Sooyoon menoleh sekilas. Dilihatnya Yewon menggelengkan kepalanya dan tetap menikmati hembusan angin malam yang menerpa wajahnya. Sooyoon mengulurkan tangan kanannya dan menggenggam tangan Yewon. Gadis itu balas menggenggam tangannya seolah mengisyaratkan agar dirinya tidak perlu mengkhawatirkannya.

“Bagaimana? Kau suka?,”tanya Sooyoon melihat Yewon yang sedang makan dengan lahap di hadapannya. Yewon hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
“Kau harus makan lebih banyak. Kau terlihat kurus, Yewon a,”ucap Sooyoon. Yewon hanya menatapnya dan akhirnya mengangguk lalu kembali meneruskan makannya. Yewon menaruh kimchi di mangkuk Sooyoon,mengisyaratkan agar pria itu juga memakan makanannya. Sooyoon yang mengerti pun langsung mengambil sumpit dan mengaduk lalu memakan jjangjjangmyun nya. Memori masa lalu kembali melayang di ingatannya. Biasanya Yewon akan makan jjangjjangmyun sambil berceloteh menceritakan apa saja. Dan bahkan tidak jarang gadis itu tersedak karena tidak hentinya bercerita. Dan pada saat itulah dia memiliki kesempatan untuk mengomeli Yewon. Membalas setiap omelan yang selalu gadis itu berikan padanya. Tapi sekarang sangat berbeda. Semua terasa sepi. Yewon makan dalam diam. Tidak ada lagi celotehan gadis itu, hanya dentingan sumpit yang sesekali terdengar.
***
Yewon berdiri di balkon kamarnya memperhatikan seorang remaja pria yang tengah memanjat tembok pagar rumahnya yang cukup tinggi. Terbersit rasa takut dan was-was di benaknya karena saat ini dirinya sendirian di rumah. Dia tidak tau harus bagaimana kalau seandainya pria itu menjahatinya. Yewon terus memperhatikan pria itu dan melihat pria itu jatuh saat melompat masuk dan sedikit mengerang saat lengannya tergores besi dan mengeluarkan darah cukup banyak. Yewon terkesiap melihatnya. Dan tanpa berpikir panjang, Yewon segera masuk ke kamarnya, mengambil kotak P3K dan bergegas menghampiri pria itu.

“Noona, maaf,”ucap pria itu merasa bersalah. Kini dia berada di teras rumah Yewon dan Yewon sedang mengobati lukanya.
“Noona, aku tidak bermaksud jahat memanjat tembok pagar rumahmu. Tolong jangan adukan aku ke polisi,”ucap pria itu. Yewon menatap lelaki itu seolah bertanya mengapa.
“Tadi aku dikejar segerombolan preman. Aku tidak tau harus lari kemana, jadi tanpa pikir panjang aku langsung memanjat tembok pagar rumahmu,”jelas pria itu. Yewon hanya diam dan melanjutkan memperban luka pria itu. Pria itu hanya menatap Yewon, memperhatikan betapa telatennya gadis itu mengobatinya.
“Noona, aku Kim Myoung Jae. Siapa namamu?,”tanya Myoungjae. Yewon hanya mendongak dan menatap Myoungjae sekilas dan kembali menyelesaikan pengobatan pada lengan pria itu. Myoungjae terdiam, dia sepertinya menyadari bahwa Yewon sangat diam. Dan dia pun berpikir mungkin Yewon bisu, jadi dia membuka tasnya dan mengeluarkan buku catatannya dan juga pulpen lalu diberikan pada Yewon.
“Kau tulis saja namamu kalau kau tidak mau mengatakannya, noona,”ucap Myoungjae saat Yewon menatapnya. Yewon menerima uluran buku dan juga pulpen dari Myoungjae dan diapun menuliskan namanya.
“Han... Ye... Won,”gumam Myoungjae saat Yewon menggoreskan tinta di bukunya.
“Ahh... Yewon noona,”ucap Myoungjae paham. Yewon mengembalikan buku dan pulpen Myoungjae lalu berdiri. Myoungjae dengan segera mengemasi barang-barangnya.
“Noona, terima kasih sudah mengobatiku,”ucap Myoungjae. Yewon hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan terima kasih pria itu.
“Aku pulang dulu, noona,”pamit Myoungjae lalu pergi. Myoungjae menoleh setelah beberapa langkah dan menatap Yewon yang masih memandangnya.
“Kau tenang saja. Aku akan berhati-hati. Aku yakin mereka pasti sudah pergi,”ucap Myoungjae agak keras agar Yewon mendengarnya. Pria itu mengatakan hal itu karena ntah mengapa dia merasa bahwa Yewon mengkhawatirkannya.

“Yewon a, aku pulang,”teriak Sooyoon malam itu. Yewon yang saat itu berada di dapur segera menghampirinya.
“Kau memasak?,”tanya Sooyoon. Pertanyaan pria itu hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Yewon.
“Aku mau mandi dulu baru makan,”ucap Sooyoon. Yewon hanya mengangguk mengiyakan dan kembali ke dapur untuk melanjutkan kegiatannya karena masih ada masakan yang belum matang.
Setelah meletakkan semua makanan, Yewon duduk di kursi menunggu Sooyoon. Pikirannya kembali tertuju pada Shiwon. Dia benar-benar merasa kecewa pada pria itu. tapi ntah mengapa saat itu dia tidak bisa menangis untuk menunjukkan kesedihannya. Dia sendiri tidak tau sejak kapan dirinya menjadi diam seperti ini. Rasanya dia benar-benar ingin berada dalam kesunyian. Maka dari itu dia memutuskan untuk diam dan dia merasa nyaman dengan keadaan ini. Dia tau bahwa keadaan yang dipilihnya ini telah membuat keluarganya dan termasuk Sooyoon merasa sedih. Hanya saja, inilah yang dia pilih. Baginya menjadi diam seperti ini adalah yang terbaik. Dia merasa bahwa kebahagiaan tidak akan pernah datang lagi semenjak mala petaka itu.
“Yewon a, kau sedang memikirkan apa?,”suara yang diiringi tepukan di bahunya membuatnya sedikit kaget.
“Maaf mengagetkanmu,”ucap Sooyoon merasa bersalah dan menarik kursi di hadapannya. Yewon hanya menggeleng dan mengambilkan nasi untuk pria itu.
“Kau baik-baik saja kan?,”tanya Sooyoon khawatir. Yewon hanya mengangguk dan mengisi mangkuk pria itu dengan lauk-pauk, mengisyaratkan agar pria itu segera makan.
“Kau juga makanlah,”ucap Sooyoon. Yewon mengambil sumpitnya dan mulai memakan masakan buatannya sendiri. Dia merasa ingin muntah saat memakan masakannya sendiri. Masakannya terasa sangat asin, tetapi Sooyoon tetap melahap makanannya. Yewon meraih tangan pria itu, membuat gerakan tangan pria itu terhenti dan menatapnya. Yewon hanya menatapnya, dia berharap Sooyoon mengerti maksudnya.
“Tenang saja. Aku tidak akan mati hanya karena makan masakan yang asin. Masakanmu tetap enak kok,”uca Sooyoon sambil tersenyum berusaha menenangkan Yewon. Yewon secara perlahan menjauhkan tangannya dan menatap Sooyoon yang melanjutkan makannya. Yewon pun akhirnya kembali meraih sumpitnya dan memasukkan dengan paksa masakan buatannya sendiri ke dalam mulutnya.

Sooyoon masuk ke dalam kamar Yewon dan membenarkan selimut yang menutupi tubuh gadis itu. Ditatapnya wajah Yewon yang tertidur dengan tenang di hadapannya. Dia senang menatap Yewon saat tidur, karena dia tidak akan melihat sinar kesedihan terpancar dari kedua mata Yewon yang terpejam. Seandainya dulu dia berusaha merebut Yewob dari tangan Shiwon, mungkin semuanya akan lain. Mungkin Yewon tidak akan sakit hati dan berubah seperti sekarang. Mungkin sampai detik ini dia masih bisa melihat Yewon yang dulu. Yewon yang tempramental dan gampang marah dan selalu memarahi dirinya. Tidak seperti sekarang, gadis di hadapannya ini kini bagaikan sebuah manekin yang hanya terlihat indah di luar. Dia benar-benar menyayangkan semua yang telah terjadi. Dan dia pun selalu berharap semoga waktu bisa diputar kembali dan dia bisa memperbaiki semuanya.
***
Yewon ketakutan saat dirinya dikelilingi oleh preman-preman. Para preman itu memandangnya dengan tatapan mesum dan berusaha menyentuh tubuhnya. Yewon sekuat tenaga menjauhkan dirinya dari sentuhan tangan nakal preman-preman itu. Ingin rasanya dia berteriak, tetapi ketakutannya membuatnya tetap terdiam. Dia rasanya ingin menangis dan menjerit saat preman-preman itu merobek lengan bajunya.
“YA!!!!!!!!!!,”sebuah teriakan terdengar, membuat para preman itu menghentikan usahanya untuk berbuat lebih pada Yewon dan menoleh. Yewon dapat melihat sekilas sosok pria berseragam yang tempo hari dia obati.
“Ya! Anak kecil! Kenapa kau berteriak begitu? Kau berani pada kami?,”ucap salah satu preman. Myoungjae memasang kuda-kuda dan menatap preman-preman itu dengan kesal.
“Kalian mau melakukan apa? Hah?,”tantang Myoungjae. Preman-preman itu tidak menjawab dan langsung maju berusaha melancarkan pukulan di badan pria itu. Myoungjae dengan lihai menghindari preman-preman itu dan mendekati Yewon, lalu menarik tangannya.
“Ayo lari, noona!,”ucap Myongjae lalu menarik tangan Yewon. Yewon pun akhirnya ikut berlari bersama pria itu dan sesekali menoleh ke belakang, melihat preman-preman itu berusaha menangkap mereka. Myoungjae semakin menarik Yewon, menyuruh gadis itu berlari lebih cepat. Yewon pun mengerahkan seluruh tenaganya dan berlari secepat yang dia bisa dan berharap para preman itu tidak bisa menangkap mereka.

Yewon dan Myoungjae berhenti dan berusaha mengatur napas mereka. Yewon merasa dirinya akan mati jika dia harus berlari lebih lama.
“Maaf, noona,”ucap Myongjae yang tengah menopang badannya dengan lutut dan mengatur napasnya dalam posisi itu.
“Aku mengajakmu berlari seperti tadi. Maaf,”ucapnya lagi. Yewon hanya mengangkat tangannya dan mengisyaratkan bahwa sudahlah tidak usah memikirkannya.
“Aku tau perbuatanku itu tidak gentle sama sekali. Hanya saja, aku memang tidak yakin bisa mengalahkan mereka jika aku harus berkelahi melawan mereka,”jelas Myoungjae. Yewon menatap Myoungjae dan menggeleng seraya tersenyum, membuat Myoungjae sedikit terkesiap. Senyuman itu berbeda dari senyuman yang tempo hari dilihatnya.

Myoungjae menyerahkan sebotol air mineral pada Yewon. Saat ini mereka duduk di bangku taman. Jas hitam seragam Myoungjae tersampir di bahu Yewon. Pria itu sengaja meminjamkan jas nya karena tidak tega melihat keadaan baju Yewon yang sudah sedikit rusak.
“Noona, kenapa kau tadi tidak berteriak saat preman itu memperlakukanmu seperti itu?,”tanya Myoungjae. Yewon langsung menoleh menatapnya.
“Aku tau kau tidak bisu, noona. Apa kau memliki trauma sehingga kau tidak mau bicara?,”tanya Myoungjae hati-hati. Yewon memalingkan wajahnya dari tatapan Myoungjae dan kembali menatap lurus ke depan. Perlahan gadis itu menganggukkan kepalanya dan menunduk.
“Aku tidak akan bertanya padamu tentang penyebab traumamu itu, tapi aku akan mencoba untuk membuatmu mau bicara lagi, noona,”ucap Myongjae. Yewon kembali menolehkan kepalanya menatap pria itu.
“Sebagai balasan terima kasihku karena kau telah menyembuhkan lukaku tempo hari. Jadi, akupun akan menyembuhkan lukamu, noona,”jelas Myoungjae yakin. Myoungjae mengulurkan kelingkingnya memberikan isyarat agar Yewon mengaitkan kelingkingnya. Myoungjae segera meraih tangan Yewon dan mengaitkan kelingking gadis itu.
“Baik,tanda tangan,”ucap Myoungjae sambil menggerakkan tangannya mengikat janji seperti yang orang banyak lakukan dengan isyarat tangan.
“Mulai sekarang, Kim Myoung Jae akan menjadi dokter pribadi Han Ye Won noona,”ucap Myoungjae penuh tekad. Yewon hanya tersenyum menatap pria di sampingnya itu.
***TBC***


Please give reaction and leave comment

Read chapter 2

CREDIT: Yewonnie @Primadonnas' Island blog
[ Read More ]
 
 

Followers

My Update