#Post Title #Post Title #Post Title #Post Title #Post Title #Post Title
Showing posts with label if you give your heart ff. Show all posts
Showing posts with label if you give your heart ff. Show all posts
Thursday, September 15, 2011

[FF/S/PG-17/11] IF YOU GIVE YOUR HEART

<< Part 1 << Part 2 << Part 3 << Part 4 << Part 5 << Part 6 << Part 7 << Part 8 << Part 9 << Part 10





TITLE: IF YOU GIVE YOUR HEART
GENRE: ROMANCE
LANGUAGE: BAHASA INDONESIA
RATING: PG-17/Straight
CASTS:
- Oh Won Bin
- Han Ye Won
- Song Seung Hyun
- Choi Jong Hoon
- Kim Yun Mi
- etc


Yewon keluar dari kamar Wonbin pagi itu dan Seunghyun yang saat itu hendak turun langsung tertegun.
“Eh? Kalian sudah tidur bersama?,”tanya Seunghyun dan Yewon langsung menoleh. Yewon tersenyum samar. “Tidak, jangan salah paham,”ucapnya lalu pergi menuju kamarnya. Seunghyun memandang Yewon yang pergi menjauh. “Aneh sekali.. apakah mereka bertengkar?,”terka Seunghyun.

Yewon masuk ke kamarnya dan menghempaskan tubuhnya. Gadis itu memandang langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. “Apakah aku harus mengungkapkan semuanya?,”gumamnya. Yewon kemudian bangun dan masuk ke kamar mandi. Dia tidak tau bagaimana nanti saat bertemu Wonbin. Pria itu pasti masih marah padanya, atau bahkan benci. “Kau memang gadis bodoh, Yewon-a,”ucapnya seraya memandang pantulan wajahnya di cermin westafel.

Saat Yewon turun tangga, tepat pada saat itu Wonbin berjalan ke arahnya. Pria itu seolah tidak memandang Yewon dan terus berlalu menuju ruang makan. Yewon memandang punggung Wonbin yang perlahan menjauh dan mendesah pelan. “Kurasa semuanya memang harus diakhiri sekarang juga,”gumam Yewon. Ntah kenapa perasaan sedih melingkupinya. Bukankah dia seharusnya bahagia bahwa dia tidak akan jadi menikah dengan Wonbin?

Wonbin menatap sekilas ke arah Yewon saat gadis itu datang dan duduk di sisinya. Seunghyun yang duduk di hadapan mereka menatap kedua orang di hadapannya dengan pandangan menyelidik.
“Kau semalam tidur dimana,hyung?,”tanya Seunghyun dan Wonbin menatapnya. “Di ruang kerja,”jawab Wonbin. “Tapi tadi pagi aku melihat Yewon keluar dari kamarmu,”ucap Seunghyun dan semua yang ada di meja makan itu sontak mengangkat kepalanya dan menatapnya. Wonbin membalas tatapan semua orang yang ada disana, kecuali Yewon. “Memang. Tapi aku tidak tidur disana karena Yewon ingin tidur di kamarku,”jawab Wonbin tenang.

Kedua orang tua Wonbin dan Seunghyun kini menatap Yewon, meminta jawaban dari gadis itu. “Aku semalam memang tidur di kamar Wonbin oppa, tapi kami tidak tidur sekamar,”jelas Yewon. “Ahh… aku pikir. Padahal aku senang sekali jika dengan segera mendapatkan cucu,”ucap Hyegyo dan Hyunbin menatapnya,”Memangnya kau tidak mau segera menimang cucu?,”tanya Hyegyo. “Tentu saja aku ingin. Tapi tidak secepat itu,”jawab Hyunbin.

“Itu tidak akan terjadi,”ucap Yewon tiba-tiba seraya menatap piringnya. Semua langsung menatapnya. Yewon kemudian menggigit bibir bawahnya dan mencoba memberanikan diri untuk menatap mereka semua. “Aku tidak akan pernah memberikan omma dan appa cucu. Karena aku…,”ucap Yewon perlahan dan kembali menundukkan kepalanya. “… tidak akan menikah dengan Wonbin oppa,”lanjut Yewon dan Hyegyo langsung tercengang. Hyunbin pun membelalakkan matanya, begitu juga dengan Seunghyun. Wonbin dengan kesal melempar serbetnya dan langsung menarik Yewon dan membawanya pergi meninggalkan ruangan itu. “Yeobo, apa tadi ada suara gaib?,”tanya Hyegyo. “Kurasa itu nyata,”jawab Hyunbin.

“Kau apa-apaan,huh?!,”tanya Wonbin saat akhirnya mereka tiba di ruang kerja Wonbin. Yewon berusaha melepas cengkraman tangan Wonbin di pergelangan tangannya, tetapi cengkraman itu begitu kuat. “Apa? Memang ada yang salah dengan ucapanku?,”tantang Yewon. Wonbin menatap tajam matanya dengan penuh kekesalan. “Tentu saja itu salah! Apakah kau tidak bisa berpikir,huh? Apakah kau selalu melakukan tindakan bodoh? Tidak bisakah kau berpikir terlebih dahulu sebelum bicara?,”tanya Wonbin dengan nada membentak. Yewon tetap berusaha menatap mata Wonbin walau mata gadis itu sudah terlihat berair.

“Aku memang selalu melakukan tindakan bodoh. Aku memang tidak pernah berpikir dulu sebelum bicara. Tapi ucapanku tadi bukan tanpa sebab. Aku tau diri bahwa aku tidak pantas bersanding denganmu. Sampai kapanpun tidak akan pantas. Terlebih aku sudah membohongi semua orang. Dan lagi pula, kau pasti sangat benci padaku. Jadi untuk apa aku menikah dengan orang yang membenciku?,”ucap Yewon. Wonbin menatapnya.

“Bodoh…,”ucap pria itu seraya menyentil dahi Yewon. “Apa kau berpikir aku membencimu?,”tanya Wonbin dengan nada lembut. Yewon menatapnya masih dengan mata berair dan akhirnya air mata itu perlahan turun. “Apa kau tidak membenciku?,”tanya Yewon hendak mengusap air matanya,tetapi Wonbin menahannya. “Tidak bisakah kau sekali saja bertanya dulu padaku sebelum menyimpulkan sesuatu?,”tanya Wonbin seraya menghapus air mata di pipi Yewon. “Kau benar-benar keras kepala. Menyimpulkan semua hal sendiri. Memikirkan sesuatu yang tidak seharusnya dipikirkan,”ucap Wonbin. Wonbin kemudian menatap dalam mata Yewon. “Dengar, aku tidak membencimu. Tidak pernah membencimu. Dan tidak akan pernah membencimu,”ucap Wonbin meyakinkan.

“Tapi aku sudah membohongimu,”ucap Yewon. “Tidak, kau tidak membohongiku. Kau membohongi Seunghyun. Bukan aku. Kau berinteraksi denganku sebagai dirimu sendiri. Dan air mata ini…,”ucap Wonbin seraya menangkup pipi Yewon. “…juga air matamu. Air mata yang berasal dari kesedihanmu. Bukan kesedihan Yunmi ataupun orang lain.” Yewon menjauhkan diri dari Wonbin dan memutar tubuhnya. “Apa Seunghyun akan membenciku?,”tanya Yewon tanpa berani menghadap Wonbin. “Ntahlah…,”jawab Wonbin.

Wonbin dengan perlahan mendekati Yewon dan menyentuh bahu gadis itu. “Tapi satu hal yang perlu kau tau, aku tidak akan melepaskanmu. Aku tidak akan memberikanmu pada Seunghyun mesti suatu saat nanti dia akan mengetahui yang sebenarnya,”ucap Wonbin. “Tapi aku tidak menyukaimu,”ucap Yewon memutar tubuhnya dan menatap Wonbin. Wonbin tersenyum. “Kau menyukaiku, tentu saja. Kau bahkan mencintaiku melebihi kau mencintai Seunghyun,”ucap Wonbin yakin dan terlihat raut bingung di wajah Yewon. “Kau hanya belum menyadarinya saja.”

============================================


“Aku mendengar berita menggemparkan pagi ini,”ucap Jonghoon saat menjemput Yewon di rumah Wonbin. Yewon menatap pria di sampingnya seraya mengerucutkan bibirnya. “Tskkk… Kau ini sebenarnya apa? Kenapa tau masalah itu?,”tanya Yewon kesal. “Bukankah aku sudah katakan berkali-kali bahwa aku adalah guardian angel-mu?,”tanya Jonghoon dan Yewon mencibir. “Kenapa kau bisa mengatakan hal itu? Apa karena Wonbin sudah tau semua jadi kau mengambil kesimpulan bahwa dia tidak akan mau menikah denganmu?,”tanya Jonghoon lagi dan Yewon membuka mulutnya shock. “Woahh… kau bahkan sudah tau bahwa Wonbin mengetahui semuanya?,”tanya Yewon tidak percaya. Jonghoon hanya meliriknya dan tersenyum.

“Tskk… apakah kau meletakkan sebuah chip di tubuhku sehingga kau mengetahui semua gerak-gerikku?,”tanya Yewon seraya menatap tajam Jonghoon yang kini tengah menyetir. “Apakah menurutmu aku sepintar itu untuk membuat sebuah chip?,”Jonghoon balik bertanya. “Tidak. Kau itu bodoh,”ucap Yewon. “Tapi aku benar-benar tidak mengerti. Kenapa kau bisa tau semuanya? Kau bahkan bisa membaca pikiranku. Atau… pikiran semua orang,”ucap Yewon. “Suatu saat nanti aku akan memberitahumu semuanya. Tapi tidak untuk saat ini,”ucap Jonghoon misterius seraya tersenyum.

“Ahh… bagaimana dengan Yunmi?,”tanya Yewon. Jonghoon menghela napasnya. “Ntahlah…,”jawab Jonghoon. “Eh? Apa maksudnya itu?,”tanya Yewon bingung. “Aku tidak pernah dengannya lagi,”ucap Jonghoon. Yewon kemudian memandang Jonghoon dengan kesal. “Jangan marah, Yewon-a. Walau bagaimana pun, aku terus bersamanya karena ada kau, tapi sejak kau tidak ada…,”ucap Jonghoon. “Kau jahat sekali! Apakah kau tidak bisa mengerti perasaan Yunmi? Apakah kau tidak bisa menghargai perasaannya untukmu?,”tanya Yewon emosi.

“Dan apakah kau sendiri bisa menghargai perasaanku untukmu?,”Jonghoon balik bertanya dan Yewon menatapnya shock. Gadis itu sudah kehilangan kata-kata. “Sulit bukan? Itulah yang aku rasakan. Aku bukanlah kau yang bisa menganggap semua hal sebagai hal yang biasa. Dan bagiku, masalah perasaan adalah hal yang rumit. Aku bukanlah orang yang bisa berpura-pura,”jelas Jonghoon. “Tapi setidaknya… Kau harus memperlakukan Yunmi dengan baik,”ucap Yewon seraya membenarkan posisi duduknya. “Tentu saja aku memperlakukannya dengan baik. Aku bukanlah pria yang tidak berperasaan, asal kau tau,”ucap Jonghoon.

“Apakah sangat sulit berada di sisiku?,”tanya Yewon beberapa saat kemudian saat akhirnya mereka tiba di pelataran parkir kampus. Jonghoon mematikan mesin mobil dan menatap Yewon. “Maksudmu?,”tanya pria itu. “Mmm… berada di sisi orang yang sudah menolakmu. Apakah itu sulit?,”tanya Yewon seraya menatap Jonghoon perlahan. Jonghoon menyandarkan tubuhnya dan mengetuk-ngetuk stir seraya berpikir. “Tentu saja. Apalagi aku harus menyamakan aktingku dengan aktingmu yang sangat bagus itu. Itu sangat sulit. Apa lagi, saat hanya berdua seperti ini denganmu. Tapi aku sadar, kau membutuhkanku. Dan begitupun aku. Walaupun kau hanya menganggapku sebagai kakak atau apapun, tapi itu tidak masalah selama kau terus bergantung padaku,”jawab Jonghoon.

“Kau tau, aku bahkan menanti saat dimana kau harus memilih antara aku atau kekasihmu,”ucap Jonghoon beberapa saat kemudian seraya tersenyum. “Dan aku yakin, kau akan lebih memilihku,”lanjut Jonghoon seraya melepas seatbelt Yewon. “Sudah saatnya kau masuk,”ucap Jonghoon menatap Yewon yang masih terpaku. “Kata-katamu menakutkan,”ucap Yewon sebelum akhirnya turun dari mobil. “Kau milikku, Yewon-a. pada akhirnya,kau akan menjadi milikku,”ucap Jonghoon seraya menatap Yewon yang kian menjauh.

Jonghoon menoleh saat mendengar ketukan di kaca mobil, dilihatnya Wonbin yang berdiri disana. Jonghoon pun melepas seatbeltnya dan membuka pintu mobil. Wonbin mundur selangkah dan menatap Jonghoon. “Ada yang perlu aku bicarakan denganmu,”ucap Wonbin. “Aku sudah tau,”jawab Jonghoon seraya menyandarkan tubuhnya di pintu mobil. “Tskkk… Sudah kuduga kau bermuka dua, Jonghoon-ssi,”ucap Wonbin dan Jonghoon tersenyum sinis menatapnya. “Lalu kenapa? Apa salah? Kau tidak suka? Itu bukan urusanmu,”ucap Jonghoon.

“Aku tidak akan pernah melepaskan Yewon,”ucap Wonbin. “Seharusnya aku yang mengatakan hal itu,”ucap Jonghoon seraya menatap Wonbin dengan tajam. “Kau tidak mencintai Yewon. Kau terobsesi padanya,”ucap Wonbin kemudian. “Benarkah? Apa kau yakin? Kenapa kau bisa menyimpulkan hal itu? Apa kau sangat mengenalku? Dengar, Wonbin-ssi. Kita baru saja bertemu,”ucap Jonghoon dengan nada meremehkan. “Dan dengar, pada akhirnya Yewon akan lebih memilihku. Kita lihat saja nanti,”ucap Jonghoon seraya membuka pintu mobil. “Ahh… satu hal lagi. Yewon akan menuruti semua perkataanku. Jadi kuharap kau bersikap sopan padaku jika kau tidak ingin aku menyuruh Yewon meninggalkanmu. Dan juga, jangan coba-coba menyentuhnya lebih dari waktu itu. Tidak akan kumaafkan,”ucap Jonghoon menatap Wonbin dengan kilat amarah sebelum masuk dan menyalakan mobil.

============================================


“Yunmi-a, apa kau marah padaku?,”tanya Yewon pada Yunmi yang saat itu tengah membaca buku. Yunmi menatap Yewon dengan pandangan bingung. “Marah kenapa?,”tanya gadis itu. “Karena aku sangat egois,”jawab Yewon. “Bodoh! Aku sudah terbiasa dengan hal itu,”ucap Yunmi kembali membaca bukunya.

“Wonbin oppa sudah tau semuanya,”ucap Yewon beberapa saat kemudian dan Yunmi menutup bukunya. “Maksudmu?,”tanya Yunmi. “Dia sudah tau bahwa aku membohongi Seunghyun. Terlebih, dia sudah tau tentang hubunganku dengan Seunghyun,”jawab Yewon dan Yunmi membuka mulutnya shock. “Lalu bagaimana? Kau sudah keluar dari rumah itu?,”tanya Yunmi dan Yewon menggeleng. “Wonbin oppa tetap ingin menikahiku,”jawab Yewon seraya menggigit bibir bawahnya.

“Apa?! Kenapa jadi begitu rumit?,”tanya Yunmi. “Ntahlah… aku sangat bingung. Apa yang harus aku lakukan?,”tanya Yewon. “Yang pasti kau harus memilih salah satu dari mereka. Dan yang pertama harus kau lakukan, kau harus berterus terang pada Seunghyun,”ucap Yunmi. “Tidak mungkin,Yunmi-a. aku tidak mau Seunghyun oppa membenciku,”ucap Yewon. “Lalu bagaimana? Apa kau mau menghilang begitu saja? Kau harus mempertanggung jawabkan semuanya, Yewon-a. Tidak bisa seenaknya begitu,”ucap Yunmi.

“Ntahlah, aku benar-benar tidak tau. Rasanya aku ingin memutar waktu kembali. Memang tidak seharusnya waktu itu aku pergi ke Jepang. Seharusnya aku mendengarkan perkataan Jonghoon oppa,”ucap Yewon. “Ya, memang. Tskkk… Biar bagaimana pun, Jonghoon oppa memang selalu tepat dalam berucap maupun bertindak. Kau ini sangat keras kepala,”ucap Yunmi. “Jadi aku harus bagaimana? Bertanya pada Jonghoon oppa?,”tanya Yewon. “Ya, kurasa itu hal yang baik. Ahh… memang tadi saat kesini kalian tidak membahas hal itu?,”tanya Yunmi dan Yewon menggelengkan kepalanya.

“Tapi… Jonghoon oppa aneh sekali,”ucap Yewon. “Seharusnya aku yang mengatakan hal itu. Kau tau? Dia sekarang jadi dingin sekali padaku. Menyebalkan! Seharusnya dulu kau menerima cintanya. Kenapa malah memikirkan aku?,”ucap Yunmi. “Aish! Jangan ungkit hal itu,”ucap Yewon kesal. “Tapi memang benar kan? Seharusnya kau dengannya. Jika kau dengannya, masalah tidak akan rumit. Kau tinggal katakan pada omma dan appa kalau kau dan Jonghoon oppa adalah sepasang kekasih dan perjodohan konyol ini tidak akan pernah ada,”ucap Yunmi. Yewon terdiam dan berpikir.

“Apakah jika aku mengatakannya sekarang maka akan tetap berlaku?,”tanya Yewon. “Bodoh! Jika kau mengatakanna sekarang justru semua akan semakin rumit. Sudahlah, sekarang kau fokus saja pada pernikahanmu. Jelaskan pada Seunghyun saat kau sudah resmi menjadi istri Wonbin oppa saja. Dengan begitu, tidak akan ada apapun terjadi. Seunghyun tidak mungkin nekad merebut istri kakaknya kan?,”saran Yunmi. “Tapi dia pasti akan membenciku, Yunmi-a,”ucap Yewon.

“Itu resiko. Tapi kurasa… dia tidak akan membencimu. Bukankah orang tidak akan bisa membenci orang yang dicintainya?,”terka Yunmi. “Tapi kesalahanku ini sangat fatal, Yunmi-a,”ucap Yewon. “Hah… aku jadi pusing. Sudahlah, jangan membahasnya denganku. Bahas saja dengan Jonghoon oppa,”ucap Yunmi. “Ahh.. dan kau tau, aku sudah malas dengan Seunghyun. Aku menjauh darinya. Kuharap dia sadar dan akhirnya mengakhiri hubungan ini. Jadi, masalahmu akan berkurang satu,”ucap Yunmi.

“Hey! Kenapa melakukan hal itu?,”tanya Yewon kesal. “Tskk… memang kau pikir aku bisa terus berpura-pura? Sulit sekali menjadi dirimu,”jawab Yunmi. “Sudahlah, Seunghyun biar aku yang urus,”ucap Yunmi. “Apa kau akan membuatku putus dengannya?,”tanya Yewon. “Tentu saja! Aku lebih setuju kau dengan Wonbin oppa dari pada dengannya. Kau tau, Seunghyun itu hanya cocok dijadikan pacar, tetapi tidak untuk menjadi suami. Pria seperti dia hanya bisa membuatmu senang tapi tidak bisa membahagiakanmu,”nasihat Yunmi.

============================================


“Oppa, aku sudah mengatakannya pada Yewon,”ucap Yunmi malam itu. Jonghoon yang sedang menatap langit malam langsung menoleh. “Mengatakan apa?,”tanya Jonghoon. “Mengatakan pada Yewon untuk memilih salah satu saja,”jawab Yunmi seraya ikut bersandar di pagar balkon. “Tapi Yewon sangat keras kepala. Ini hal yang rumit untuknya,”ucap Jonghoon. “Kenapa kau tidak mencoba mendapatkannya? Apa karena dia menolakmu dan kau menyerah?,”tanya Yunmi.

“Jangan kau kira aku tidak mengerti pikiranmu, Yunmi-a,”ucap Jonghoon dan Yunmi terlihat gugup. “Kau mulai menyukai Seunghyun. Benarkan?”tebak Jonghoon dan Yunmi terdiam. “Sudahlah, tidak ada yang perlu kau tutupi. Tapi sayang sekali, Yunmi-a. Seunghyun tidak akan pernah menyukaimu meskipun kau sangat mirip dengan Yewon,”ucap Jonghoon. “Kenapa tidak mungkin? Aku bisa terus berpura-pura sebagai Yewon agar dia tetap bersamaku,”ucap Yunmi dan Jonghoon tertawa pelan.

“Terserah kau saja. Lakukan saja apa yang kau mau,”ucap Jonghoon. “Tskkk.. Kau aneh sekali, oppa. Sebenarnya kau ini punya niat apa?,”tanya Yunmi. Jonghoon menatapnya. “Aku akan memiliki Yewon. Tapi aku tidak akan menggunakan hal bodoh seperti yang kau lakukan,”jawab Jonghoon. “Sudah kuduga. Kau memang tidak sebaik yang kuduga. Untung saja aku membuka laptopmu dan membaca semuanya,”cibir Yunmi. “Bukankah kau pernah mencintaiku, huh?,”tanya Jonghoon seraya tertawa pelan. “Sial! Aku benar-benar menyesali hal itu. Mari kita lupakan saja!,”ucap Yunmi.

“Tapi ingat, aku tidak mau kau menyakiti Yewon,”ucap Yunmi. “Kau tenang saja. Aku mencintainya. Mana mungkin aku menyakitinya?,”ucap Jonghoon. “Ya, lagi pula aku merasa Yewon lebih baik denganmu. Sudahlah, cepat jalankan rencanamu sebelum Yewon menjadi gila. Aku benar-benar kasihan padanya,”ucap Yunmi seraya menatap langit. “Ternyata berada di antara tiga pria sangat sulit. Untung aku tidak dalam posisinya,”ucap Yunmi.

“Ya, karena kau akan bekerja sama denganku untuk mengeluarkannya dari posisi yang rumit itu,”jawab Jonghoon. “Tapi kau tidak akan melakukan hal yang jahat kan?,”tanya Yunmi. “Apa kau pikir aku seorang penjahat? Tentu saja tidak, aku akan menggunakan cara yang baik. Yang akan menguntungkan semua pihak, termasuk kau,”jawab Jonghoon.

“Tapi… bagaimana jika Yewon tidak memilihmu?,”tanya Yunmi dan Jonghoon tertawa. “Yewon pasti memilihku. Aku bisa memastikan hal itu,”jawab Jonghoon seraya tersenyum. “Tskkk… Kau ini percaya diri sekali,”cibir Yunmi. “Tentu saja. Karena aku lah yang mengendalikan hidup Yewon, asal kau tau,”ucap Jonghoon. “Tskkk… benar-benar manusia setengah iblis,”cibir Yunmi. “Hey! Jaga bicaramu!,”ucap Jonghoon. “Ya.. ya..,”jawab Yunmi sekenanya seraya pergi dari sana.

=====================TBC=======================



DON'T DARE TO PLAGIAT THIS FANFIC!!!


Please leave your comment if u appreciate me! ^^
credit: Yewonnie
Primadonnas' Island blog
[ Read More ]
Tuesday, August 30, 2011

[FF/S/PG-17/10] IF YOU GIVE YOUR HEART

<< Part 1 << Part 2 << Part 3 << Part 4 << Part 5 << Part 6 << Part 7 << Part 8 << Part 9





TITLE: IF YOU GIVE YOUR HEART
GENRE: ROMANCE
LANGUAGE: BAHASA INDONESIA
RATING: PG-17/Straight
CASTS:
- Oh Won Bin
- Han Ye Won
- Song Seung Hyun
- Choi Jong Hoon
- Kim Yun Mi
- etc


Wonbin mengetikkan sesuatu di ponselnya dan beberapa saat kemudian pria itu terlihat tersenyum membaca pesan balasan di ponselnya. Saat ini dia sedang berada di kantin Universitas Seoul, menunggu Yewon yang saat ini berada di kelasnya. Pria itu mengamati sekelilingnya dan melihat Yewon dan Yunmi berjalan memasuki kafetaria itu.
“Kalian datang berdua kesini apa untuk mengetesku?,”tanya Wonbin tepat pada saat kedua gadis itu berdiri di hadapannya.
“Memang kau bisa membedakan kami?,”tanya Yunmi seraya duduk di hadapan Wonbin, Yewon sendiri mengikutinya.
“Tentu saja. Kau Yunmi dan kau Yewon,”ucap Wonbin seraya menunjuk keduanya bergantian. Yewon dan Yunmi saling melempar pandangan, ternyata mereka menemukan Jonghoon kedua.
“Kau kenapa datang kemari,oppa? Bukankah kau sangat sangat sangat sangat sangat sangat sibuk?,”tanya Yewon.
“Hei! Apa kau sedang menyindirku?,”tanya Wonbin.
“Tidak. Apakah kau merasa tersindir?,”tanya Yewon lagi.
“Ntahlah… aku hanya merasa kau sedang menyindirku dengan tatapan polo situ,”jawab Wonbin.
“Sepertinya aku harus pergi!,”pamit Yunmi saat dilihatnya Cheolyong terlihat mencari-cari. Wonbin dengan bingung menatap kepergian Yunmi dan menatap Yewon. Yewon hanya menjawab dengan mengangkat dagunya tinggi menunjuk ke arah Cheolyong yang sedang berjalan ke arahnya.
“Apa kau Yunmi?,”tanya Cheolyong.
“Cheolyong-sii, apa kau yakin benar-benar menyukai saudaraku? Masa kau tidak bisa membedakan kami?,”Yewon balik bertanya dan Cheolyong menggaruk kepalanya seraya meringis.
“Sulit sekali untuk membedakan kalian,”ucapnya.
“Lalu Yunmi dimana?,”tanya Cheolyong.
“Kau cari saja sendiri. Jika kau tidak bisa menemukannya, tanyakan saja pada hatimu,”jawab Yewon dan Wonbin mengulum bibirnya berusaha menahan tawa mendengar ucapan aneh yang Yewon lontarkan.
“Oh. Baiklah,”ucap Cheolyong lalu pergi dari sana.
“Ya! Ucapan macam apa itu?,”tanya Wonbin langsung seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kenapa? Memang mada yang salah?,”tanya Yewon seraya mengerucutkan bibirnya.
“Hanya aneh saja. Tidak menyangka gadis sepertimu bisa mengatakan hal seperti itu,”jawab Wonbin.
“Memang aku gadis seperti apa?,”tanya Yewon semakin mengerucutkan bibirnya. Wonbin memajukan tubuhnya ke arah Yewon dan berbisik,”Menggairahkan.” Yewon langsung merasakan sekujur tubuhnya memanas mendengar kalimat bernada sensual itu. Sial! Wonbin sedang menggodanya.
“Kau mau makan apa?,”tanya Wonbin seolah dia tidak pernah mengatakan hal aneh.
“Jjangjjangmyun. Kau?,”tanya Yewon. Wonbin menatap konter-konter yang ada disana.
“Aku mau pizza,”jawab Wonbin.
“Biar aku yang belikan,”ucap Yewon seraya bangkit dan berjalan ke arah konter-konter penjual makanan.

Wonbin menoleh sekilas menatap Yewon yang tengah cemberut di sampingnya, sepertinya dia sudah membuat kesalahan-lagi, tapi dia tidak tau apa.
“Yewon-a, apa aku salah berucap lagi?,”tanya Wonbin dan Yewon melirik sebal. Dia benar-benar tidak mengerti mengapa ada pria dewasa seperti Wonbin tetapi memiliki pemikiran yang sangat polos.
“Menurutmu?,”Yewon balik bertanya. Wonbin mendesah dan membanting stir hingga mobil itu menepi. Pria itu kemudian mematikan mesin mobil dan menatap Yewon.
“Bukankah dulu aku sudah pernah katakan padamu? Jika aku ada kesalahan, tolong langsung bilang. Kau tiba-tiba menjadi diam begini, aku benar-benar tidak mengerti,”ucap Wonbin. Yewon hanya terdiam dan memejamkan matanya.
“Ya! Jawab aku!,”ucap Wonbin dengan nada suara tetap lembut. Yewon kemudian membuka matanya dan menatap Wonbin.
“Aku mengantuk. Cepatlah pulang,”ucap Yewon.
“Katakan yang sebenarnya!,”ucap Wonbin lagi.
“Mengatakan apa?,”tanya Yewon.
“Baiklah, terserah kau saja,”ucap Wonbin akhirnya dan kembali menyalakan mesin mobil lalu melajukannya.
“Aku tidak suka,”ucap Yewon beberapa saat kemudian setelah mobil melaju cukup jauh. Wonbin melirik sekilas dan tidak mengucapkan sepatah katapun, menunggu kalimat selanjutnya yang akan Yewon ucapkan.
“Aku tidak suka saat teman-temanku menatapmu seperti ingin memakanmu. Aku tidak suka kau yang terlalu ramah pada mereka. Aku tidak suka mendengar gadis lain memanggilmu oppa. Aku tidak suka saat tadi kau beramah-tamah dengan teman-temanku. Menyebalkan sekali melihatnya,”ucap Yewon dengan nada suara yang penuh kekesalan. Wonbin benar-benar tidak tau harus merespon apa, karena baginya semua itu wajar.
“Dan kau terlihat sangat menikmatinya saat gadis-gadis itu menggodamu,”ucap Yewon dengan tatapan tajam. Wonbin berdehem pelan.
“Apa kau cemburu?,”tanya pria itu tanpa menatap Yewon dan Yewon terdiam. Dia kembali menatap jalanan di depannya dan tidak menjawab pertanyaan pria itu.

==============================

“Apakah kau akan terus mendiamiku seperti itu?,”tanya Wonbin seraya berjalan mendekati Yewon yang ntah sudah kapan berada di dalam ruang kerjanya. Gadis itu seolah tidak peduli dan tetap membaca buku yang ada di pangkuannya. Wonbin berlutut di depan Yewon dan mengambil buku yang gadis itu baca. Yewon dengan kesal menatap Wonbin yang kini tengah meletakkan buku itu di meja di belakangnya.
“Kita selesaikan masalah ini. Aku benar-benar tidak suka kau mendiamiku seperti itu,”ucap Wonbin seraya menyentuh lutut Yewon perlahan. Yewon memalingkan wajahnya.
“Aku sudah berlutut seperti ini dan kau tetap tidak mau menatapku?,”tanya Wonbin tetapi Yewon tetap bergeming. Wonbin pun akhirnya bangkit dan menarik tangan Yewon perlahan, Yewon langsung mendelik menatapnya.
“Ikutlah…,”ucap Wonbin. Yewon pun dengan segan akhirnya berdiri dan mengikuti Wonbin yang kini menuntunnya. Yewon sedikit terkesiap saat menyadari bahwa Wonbin membawanya ke arah kamarnya, ke kamar pria itu.
“Mau apa?,”tanya Yewon saat Wonbin menyentuh gagang pintu kamarnya, Wonbin tersenyum.
“Kau tenang saja. Aku tidak ada maksud jahat,”jawab Wonbin dan akhirnya membuka pintu kamarnya. Yewon pun masuk dan mengamati kamar itu. Kamar itu sangat simple,tetapi nyaman. Yewon menatap tempat tidur Wonbin dan ntah kenapa dia ingin sekali tidur disana, karena terlihat benar-benar nyaman jika merebahkan tubuh disana.
“Duduklah dimana pun kau mau,”ucap Wonbin dan Yewon hanya mengangguk lalu duduk di atas karpet yang sangat lembut dan nyaman. Yewon memperhatikan Wonbin yang tengah berjalan ke arah sisi tempat tidur dan melihat pria itu membungkukkan tubuhnya untuk mengambil sesuatu di kolong tempat tidur itu.
“Gitar?,”tebak Yewon saat melihat benda yang ditarik Wonbin. Wonbin hanya tersenyum dan membuka tempat gitar itu.
“Ya, aku menyembunyikan ini,”jawab Wonbin seraya berjalan perlahan mendekati Yewon dan duduk di hadapannya. Wonbin memangku gitarnya dan memainkan gitar itu perlahan.
“Aku sangat menyukai musik. Tapi appa melarangku,”cerita Wonbin seraya tersenyum perlahan pada Yewon.
“Aku bukanlah pria sempurna yang kau pikirkan. Dan kau tau, aku sudah terbiasa didekati gadis-gadis sejak aku masih SMA. Dan masalah tadi siang, aku bukan bermaksud untuk tebar pesona. Mereka lah yang mendekatiku,”ucap Wonbin.
“Aku tidak mengerti. Kenapa kau malah membawaku kesini dan menunjukkan gitar itu?,”tanya Yewon.
“Agar kau tidak marah. Dengar, kau sangat menakutkan saat diam seperti tadi. Rasanya seperti ada gunung es yang menyelimutimu sehingga aku tidak bisa mendekat,”jawab Wonbin.
“Apa yang harus aku lakukan agar kau tidak marah?,”tanya Wonbin. Yewon terdiam.
“Ijinkan aku tidur disini,”jawab Yewon dan Wonbin membelalakan matanya.
“Tempat tidurmu terlihat sangat nyaman,”ucap Yewon dan Wonbin tersenyum.
“Jika kau tidur disini, lalu aku tidur dimana?,”tanya Wonbin.
“Kau bisa memakai kamarku,”jawab Yewon.
“Tidak. Tidak. Suasana di kamarmu berbeda sekali. Aku tidak akan bisa tidur,”tolak Wonbin.
“Di kamar Seunghyun, kalau begitu,”ucap Yewon.
“Tidak. Lebih baik aku tidak tidur dari pada harus tidur di kamarnya yang seperti kapal pecah itu,”tolak Wonbin.
“Kalau begitu disini saja,”ucap Yewon dan Wonbin mengangkat alisnya.
“Kau serius? Aku tidak bisa jamin bahwa aku tidak akan melakukan apapun,”ucap Wonbin.
“Aku tidak peduli,”ucap Yewon seraya berjalan menuju tempat tidur Wonbin dan merebahkan tubuhnya.
“Seperti dugaanku. Nyaman sekali,”ucap Yewon seraya menarik selimut menutupi tubuhnya. Gadis itu kemudian melemparkan bantal ke arah Wonbin.
“Karpet itu juga sangat nyaman,”ucap Yewon seraya tertawa.
“Aishhh!! Jadi kau menyuruhku tidur disini?,”tanya Wonbin dan Yewon hanya tertawa.
“Tentu saja. Memang kau pikir aku akan membiarkanmu tidur di sampingku?,”ucap Yewon.
“Ya, baiklah,”ucap Wonbin seraya bangkit untuk meletakkan kembali gitarnya, tetapi kemudian pria itu duduk di sisi tempat tidur.
“Tapi disini lebih nyaman,”goda Wonbin seraya merebahkan tubuhnya di samping Yewon.
“Hey! Kenapa kau tidur disini? Tskkk….,”ucap Yewon kesal lalu bangkit,tetapi Wonbin dengan segera menarik tubuhnya dan membuat Yewon kembali merebahkan tubuhnya.
“Bukankah pada akhirnya kita akan tidur bersama?,”goda Wonbin dan Yewon langsung membalik tubuhnya memunggungi Wonbin.

“Kau tidak tidur?,”tanya Yewon seraya mengerjapkan matanya. Menatap Wonbin yang ternyata sedari tadi duduk di sofa seraya menatap keluar. Wonbin menoleh dan menatap Yewon yang kini duduk bersandar di punggung tempat tidurnya. Gadis itu melirik jam di meja nakas dan melihat angka 3 disana.
“Aku tidak bisa tidur. Benar-benar sulit sekali mengendalikan diri,”jawab Wonbin.
“Maksudmu?,”tanya Yewon seraya menguap dan menutup matanya.
“Memang kau pikir tidur bersebelahan dengan seorang gadis itu mudah? Itu sulit, Yewon-a,”jawab Wonbin.
“Tapi aku tetap saja tidur walaupun kau di sampingku,”ucap Yewon tanpa membuka matanya.
“Itu berbeda,”ucap Wonbin.
“Sudahlah, kau tidur lagi saja. Masih terlalu pagi untuk bangun,”ucap Wonbin sebelum Yewon bertanya semakin panjang. Yewon menyibakkan selimutnya dan berjalan menghampiri Wonbin.
“Ayo!,”ajak gadis itu seraya mengulurkan tangannya. Wonbin hanya menatapnya dan Yewon dengan paksa menarik Wonbin.
“Aku tau kau sangat lelah, jadi kau harus tidur,”ucap Yewon seraya naik ke atas tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di sisi Wonbin.
“Jangan memunggungiku!,”ucap Wonbin tepat saat Yewon hendak membalik tubuhnya. Gadis itu kemudian menatap Wonbin.
“Lalu kau ingin bagaimana?,”tanya Yewon seraya menatap mata Wonbin. Wonbin menghindari tatapan Yewon dan menarik gadis itu mendekat seraya memegang pinggang Yewon. Yewon pun kini tidur menghadap ke arahnya dan Wonbin memejamkan matanya. Yewon membenarkan posisinya dan menatap Wonbin yang kini tertidur.
“Apa kau benar-benar tidur?,”tanya Yewon beberapa saat kemudian. Wonbin membuka sebelah matanya.
“Kenapa? Tidak bisa tidur?,”tanya Wonbin dan Yewon mengangguk sebagai jawaban. Wonbin kemudian benar-benar membuka matanya dan membenarkan posisi tidurnya, menatap langit-langit kamarnya dengan salah satu tangannya berada di belakang kepalanya.
“Apa kau besok libur?,”tanya Yewon dan Wonbin menoleh.
“Memang kenapa?,”tanya Wonbin.
“Apa kau bisa menemaniku semalaman? Kita mengobrol,”ucap Yewon seraya bangun dan duduk menatap Wonbin.
“Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan?,”tanya Wonbin. Yewon menatapnya, menimbang-nimbang apakah dia harus mengatakan yang sejujurnya atau tidak.
“Aku Yewon,”ucap Yewon dan Wonbin mengernyit.
“Tentu saja kau Yewon. Lalu?,”tanya Wonbin.
“Aku bukan gadis baik-baik,”ucap Yewon lagi dan Wonbin memiringkan posisi tidurnya.
“Jika maksudmu kau adalah pacar adikku dan kau mengatakan kau bukan gadis baik-baik, kurasa itu tidak masuk dalam hitungan,”ucap Wonbin dan Yewon tertegun. Wonbin bangun dan duduk menghadap Yewon.
“Aku tau semuanya. Aku menyelidikinya. Aku tidak sebodoh Seunghyun,”ucap Wonbin dengan tatapan lembut.
“Aku tau kau masih ragu dengan perasaanmu. Mungkin aku belum menjadi satu-satunya di hatimu. Dan mungkin Seunghyun lebih mendominasi. Tapi asal kau tau, aku tidak akan membiarkan Seunghyun terus mendominasi hatimu. Kau akan menjadi istriku, kurasa Seunghyun pun tau,”ucap Wonbin lagi.
“Dia tidak tau. Dia berpikir bahwa aku adalah Yunmi. Yunmi lah yang akan menjadi istrimu,”ucap Yewon menatap langsung ke mata Wonbin. Tatapan lembut pria itu perlahan berubah, Wonbin memalingkan wajahnya dan turun dari tempat tidur.
“Aku akan tidur di kamarmu,”ucap Wonbin tanpa menatap Yewon dan berjalan ke arah pintu lalu menutupnya. Yewon hanya bisa terdiam. Sepertinya keputusannya untuk berterus terang benar-benar salah. Wonbin marah padanya dan tak lama lagi, pria itu pasti akan membeberkan semuanya.

“Seunghyun-a, kau sudah tidurkah?,”tanya Wonbin di depan pintu kamar Seunghyun seraya mengetuknya perlahan. Selang beberapa detik, pintu pun terbuka dan terlihatlah wajah Seunghyun dengan wajah lesu.
“Kau sudah tidur?,”tanya Wonbin.
“Aku tertidur,”ralat Seunghyun.
“Ada apa,hyung?,”tanya pria itu seraya berjalan ke arah meja di kamarnya dan menenggak segelas air mineral. Wonbin duduk di kursi yang ada disana dan Seunghyun duduk di tepi tempat tidurnya.
“Siapa pacarmu?,”tanya Wonbin.
“EH? Kenapa tiba-tiba menanyakannya?,”tanya Seunghyun seraya merebahkan kepala di bantal yang dipeluknya.
“Apakah Yewon?,”tanya Wonbin.
“Huh? Maksudmu Yunmi?,”ralat Seunghyun. Karena bagaimana pun dia tidak boleh membuat Wonbin tau bahwa yang ada di rumah mereka adalah Yunmi.
“Ya. Apakah gadis itu?,”tanya Wonbin lagi. Seunghyun merebahkan tubuhnya.
“Kurasa Yewon sudah mengatakannya. Sudahlah,hyung. Aku sangat mengantuk,”jawab Seunghyun seraya memejamkan matanya. Wonbin menatap punggung adiknya itu. Seandainya dia tidak terlanjur jatuh cinta pada Yewon, pasti dia akan dengan sangat rela memberikan gadis itu untuk Seunghyun. Tapi situasi saat ini berbeda. Dia tidak mungkin menyerahkan Yewon begitu saja walau pada kenyataannya Seunghyun lah yang terlebih dahulu bertemu Yewon. Dan lagi pula, jelas-jelas Yewon mencintai Seunghyun. Apakah ada kesempatan baginya untuk mendapatkan tempat yang sama di hati Yewon? Wonbin pun memutuskan untuk pergi dari kamar Seunghyun. Dia sedikit ragu apakah dia harus kembali ke kamarnya, atau sebaiknya dia tidur di ruang kerjanya. Karena rasanya… dia belum siap bertemu Yewon. Bertemu gadis yang sudah membohonginya. Karena sebelumnya dia berpikir bahwa Seunghyun sudah tau yang sebenarnya, tapi ternyata salah. Gadis itu membohongi dirinya dan juga Seunghyun.
“Apakah kau pikir kami mainanmu?,”gumam Wonbin sedih.
=====================TBC=====================
Part 11 >>

DON'T DARE TO PLAGIAT THIS FANFIC!!!


Please leave your comment if u appreciate me! ^^
credit: Yewonnie
Primadonnas' Island blog
[ Read More ]
Sunday, August 28, 2011

[FF/S/NC-17/9] IF YOU GIVE YOUR HEART

<< Part 1 << Part 2 << Part 3 << Part 4 << Part 5 << Part 6 << Part 7 << Part 8




TITLE: IF YOU GIVE YOUR HEART
GENRE: ROMANCE
LANGUAGE: BAHASA INDONESIA
RATING: NC-17/Straight
CASTS:
- Oh Won Bin
- Han Ye Won
- Song Seung Hyun
- Choi Jong Hoon
- Kim Yun Mi
- etc


Wonbin mengulum senyum saat Yewon diam saja di sebelahnya. Mereka saat ini sedang dalam perjalanan pulang dan sepertinya Yewon masih malu dengan kejadian tadi.

“Kenapa diam saja?,”tanya Wonbin angkat bicara.

“Aku mengantuk,”jawab Yewon berbohong.

“Benarkah? Apa kau mau aku melakukan sesuatu agar kau tidak mengantuk?,”tanya Wonbin menggodanya. Yewon mendelik kesal.

“Berhentilah menggodaku, oppa!,”ucap Yewon kesal.

“Siapa yang menggodamu? Memang kapan aku menggodamu?,”tanya Wonbin pura-pura tidak mengerti. Yewon menghiraukannya dan kembali memusatkan tatapannya pada jalanan di sampingnya.

“Setidaknya kau harus bertanggung jawab dengan kissmark di leherku. Mungkin sekarang tidak terlihat karena aku mengenakan kemeja, tetapi aku tidak mungkin memakai kemeja di rumah,”ucap Wonbin. Yewon yang mendengarnya hanya bisa menelan ludahnya.

“Pakai baju berkerah tinggi saja,”usul Yewon.

“Hey! Apa kau ingin aku mati kepanasan, huh?,”tanya Wonbin.

“Tidak mungkin! Rumahmu kan ber-AC. Jika ada yang bertanya, katakan saja kau kedinginan,”ucap Yewon.

“Apa kau ingin aku terlihat bodoh?,”tanya Wonbin.

“Tskk.. terserah kau saja. Aku tidak peduli,”ucap Yewon kesal dan kembali memalingkan wajahnya. Wonbin melirik sekilas wajah Yewon dari pantulan kaca dan pria itu tersenyum. Gadis di sebelahnya benar-benar sensitif. Wonbin tiba-tiba menghentikan mobilnya dan Yewon langsung menoleh. Yewon belum sempat memprotes tetapi Wonbin dengan cepat memegang tengkuk gadis itu dan mengarahkan bibirnya ke sisi kanan leher gadis itu. Yewon hanya bisa terpaku. Gadis itu benar-benar tidak berkutik. Apa yang sedang dilakukan Wonbin? Mencumbunya kah? Yewon pun akhirnya memejamkan matanya menyesapi perasaan nikmat yang tiba-tiba menjalari tubuhnya. Tetapi beberapa menit kemudian gadis itu langsung membuka matanya dan mendorong Wonbin. Sial! Apa yang mereka lakukan di pinggir jalan begini? maki Yewon dalam hati. Yewon menyentuh leher kanannya dan Wonbin tersenyum menatapnya.

“Sekarang sudah impas,”ucapnya tanpa rasa bersalah dan kembali melajukan mobilnya. Yewon dengan perlahan membuka telapak tangannya yang menempel di leher dan melihat ke jendela di sisinya. Gadis itu mengerang kesal saat dilihatnya tanda merah menyala tepat di lehernya. Gadis itu kemudian menyibakkan rambutnya ke depan untuk menutupi tanda merah itu. Sedikit berhasil, tapi tetap ada kemungkinan orang lain bisa melihatnya.

“Kau menyebalkan!,”ucap Yewon kesal seraya menatap Wonbin.

“Kau yang terlebih dahulu memulainya. Ingat itu!,”ucap Wonbin seraya tersenyum menatap Yewon tetapi Yewon hanya mendengus kesal dan menatap lurus ke depan.



[Baby you’re the only one good for you..]

Yunmi terbelalak menatap layar ponselnya. Bukan, ponsel Yewon. Tadi Yewon memberikan ponsel miliknya pada Yunmi, dengan tujuan agar rencananya berhasil. Yunmi dengan ragu menjawab panggilan itu.

“Halo..”ucap Yunmi.

[Jagi, aku sudah bertemu Yunmi.]

Yunmi menelan ludahnya. Sial! Kenapa Seunghyun menelepon? Dia sama sekali belum siap menghadapi laki-laki itu.

“Bagaimana pendapatmu?,”tanya Yunmi.

[Kalian benar-benar mirip. Bahkan sikap pemarah kalian pun sama. Hahaha..]

“Kami kan kembar. Kau harus ingat itu,”ucap Yunmi.

“Oh iya, omong-omong. Ada apa menelepon?,”tanya Yunmi.

[Aku ingin bertemu.. sudah lama sekali kita tidak berkencan]

“Eh?”ucap Yunmi refleks. Bagaimana ini? Dia menoleh pada Jonghoon, tetapi pria tampan itu sama sekali tidak mempedulikannya. Pria itu kini sedang membaca agenda Yewon.

[Kenapa? Apa kau tidak mau bertemu denganku?]

“Bukan begitu. Hanya saja…,”ucap Yunmi bingung. Yunmi berharap Jonghoon menoleh dan merebut ponselnya, seperti apa yang sering pria itu lakukan jika Yewon menerima telepon saat gadis itu sedang mengerjakan tugasnya. Tetapi sepertinya Jonghoon sama sekali tidak peduli. Pria itu hanya duduk di hadapannya, menemaninya mengerjakan tugas, tetapi dirinya justru asyik sendiri membaca agenda Yewon.

“Baiklah. Kau ingin kita bertemu dimana?,”jawab Yunmi akhirnya seraya meninggikan suaranya, berharap Jonghoon sadar. Dan bingo! Pria itu langsung mengangkat kepalanya menatap Yunmi.

[Bertemu di taman dekat kampusmu saja. Bagaimana?]

“Ok. Aku kesana,”ucap Yunmi seraya menutup flip ponsel itu dan membereskan bukunya.

“Kau mau kemana?,”tanya Jonghoon.

“Bertemu dengan Seunghyun,”jawab Yunmi seraya menyampirkan tasnya lalu berdiri dan melewati Jonghoon. Tetapi gadis itu berhenti dan menoleh.

“Kau tidak mau mengantarku?,”tanya Yunmi. Jonghoon menoleh.

“Aku harus menemui Yewon jam 7 nanti,”jawab Jonghoon seraya menatap jam tangannya. Yunmi hanya bisa menghentakkan kakinya dengan kesal. Jonghoon benar-benar menyebalkan! Semenjak Yewon pergi dari rumah –kemarin—pria itu menjadi sangat acuh padanya dan juga galak. Apa-apaan semua ini? Apakah selama ini dia bersikap baik hanya untuk Yewon dan dirinya telah salah paham? Benar-benar menggelikan. Jonghoon mengambil ponselnya dan menghubungi Yewon, tetapi suara Yunmi lah yang menjawab.

“Kenapa kau yang menjawab?,”tanya Jonghoon. Seandainya dia tidak sedang kesal, mungkin dia akan tertegun karena Jonghoon bisa membedakan suaranya dan Yewon padahal suara mereka sama.

[Apa kau bodoh? Bukankah Yewon memberikan hp nya padaku?]

“Ahh… benar. Ya sudah,”ucap Jonghoon langsung memutus sambungan dua arah itu. Yunmi yang saat itu ada di koridor kampus hanya bisa bersungut-sungut menerima perlakuan tidak sopan yang Jonghoon lakukan padanya.

“Menyebalkan! Kurasa pria itu jelmaan malaikat dan iblis,”gerutu Yunmi.



==============================



“Kau mau kemana?,”tanya Wonbin yang saat itu sedang duduk di ruang keluarga bersama Yewon. Yewon yang saat itu berdiri di depan dvd player langsung menoleh.

“Aku mau pergi kencan, hyung. Memang kau pikir aku tidak iri melihat kalian?,”jawab Seunghyun setengah bergurau.

“Tskk… Terus saja meledekku,”omel Wonbin.

“Bilang saja kau ingin aku cepat-cepat pergi supaya kau bisa berduaan dengan Yewon,”cibir Seunghyun seraya berlalu dari sana. Yewon selesai memasukkan kepingan dvd ke dalam dvd player dan gadis itu duduk di sofa. Sangat jauh dari sofa yang diduduki Wonbin.

“Kenapa duduk disana?,”protes Wonbin.

“Kurang jelas,”jawab Yewon sekenanya seraya memperhatikan layar yang sudah menayangkan bagian pembuka film itu. Wonbin tidak memprotes lagi dan ikut menatap layar di hadapannya. Apa ini? Film hantu? tanya Wonbin dalam hati. Pria itu melihat ke arah Yewon dan melihat gadis itu menelan ludahnya saat preview film itu ditayangkan. Wonbin tersenyum melihatnya. Sepertinya Yewon bukanlah gadis yang berani menonton film horror, tapi mungkin rasa penasarannya lah yang membuatnya berani menonton.

“Oppa…”ucap Yewon manja seraya menatap Wonbin.

“Apa?,”tanya Wonbin pura-pura tidak tau. Ruangan disana memang sengaja dimatikan oleh Wonbin saat Yewon mengatakan ingin menonton film, karena itulah kebiasaan keluarganya. Yewon berdiri perlahan-lahan dan menutup kupingnya saat didengarnya teriakan dari film itu. Yewon dengan cepat berjalan ke arah Wonbin, tetapi dia justru menyandung kaki Wonbin dan jatuh di atas badan pria itu.

“Maaf!,”ucap Yewon lalu duduk di samping Wonbin.

“Kurasa ini bukan film horror,”ucap Wonbin saat melihat adegan seorang gadis menusuk-nusuk perutnya sendiri dengan pisau dalam keadaan tidur. Yewon tidak menjawab dan hanya merapat ke bahu Wonbin dan mengintip adegan-adegan disana.

“Aku tidak suka. Oppa, matikan!,”ucap Yewon.

“Bukankah kau yang membawanya?,”tanya Wonbin heran.

“Aku mengambilnya dari kamar Jonghoon oppa sebelum kesini. Aku penasaran karena covernya,”jawab Yewon. Wonbin pun langsung berdiri dan berjalan menuju dvd player lalu mematikannya.

“Apa kau ingin menonton film lain?,”tanya Wonbin dan dilihatnya Yewon mengangguk. Pria itu kemudian membuka rak dvd dan melihat koleksi ibunya karena sepertinya selera Yewon tidak akan berbeda jauh dengan selera ibunya karena mereka adalah perempuan. Wonbin kemudian mengambil satu dvd film jepang. Terlihat tulisan “I Give My First Love to You” di sampul depannya.

“Oppa, kau menyetel film apa?,”tanya Yewon penasaran.

“Yang jelas bukan film yang seperti tadi,”jawab Wonbin seraya menekan tombol close di remote dvd yang di pegangnya dan dia berjalan mendekati Yewon.



Wonbin menolehkan kepalanya dan dilihatnya Yewon mengusap pipinya dengan punggung tangannya. Sepertinya gadis itu menangis. Wonbin pun menjulurkan tangannya ke meja untuk meraih kotak tissue dan memberikannya pada Yewon, Yewon menoleh sekilas.

“Apa kau selalu menangis saat menonton film seperti ini?,”tanya Wonbin dan dilihatnya Yewon menganggukkan kepalanya.

“Aku membayangkan jika diriku mengalami hal yang sama dengan mereka. Konyol bukan? Tapi memang begitulah,”jawab Yewon.

“Bagaimana jika aku yang ada di posisi pria itu? Apakah kau bisa bersikap seperti gadis itu?,”tanya Wonbin memusatkan pandangannya pada film di depannya. Sepanjang film tadi, sang wanita terlihat begitu tegar di hadapan kekasihnya yang sakit, tetapi wanita itu tidak bisa berhenti menangis jika si pria memeluknya.

“Aku tidak yakin. Aku pasti akan terus menangis,”jawab Yewon.

“Tapi aku tidak akan bersikap seperti pria itu,”ucap Wonbin dan Yewon menoleh, menatap wajah Wonbin dari samping yang tengah menatap lurus ke depan.

“Aku tidak akan menjauhi gadis yang aku cintai. Walaupun pasti sangat menyakitkan melihat gadis yang kita cintai berusaha tersenyum padahal dia ingin menangis. Tapi bukankah sangat kejam jika menjauhi gadis yang jelas-jelas selama ini ada untuk kita?,”ucap Wonbin lalu menoleh menatap Yewon dan tersenyum. “Bagaimana menurutmu? Bagaimana jika kau yang ada di posisi pria itu?,”tanyanya.

“Aku akan terus bersama pria yang kucintai hingga akhir hayatku. Tapi… aku benar-benar tidak mau membayangkannya. Walaupun sepertinya sangat romantis, tapi jika akhirnya tidak bahagia bukankah sama saja?,”ucap Yewon.

“Kau salah. Mereka tetap bahagia. Walaupun mereka berpisah pada akhirnya, tapi sangat jelas bahwa mereka tetap saling mencintai, di lubuk hati mereka yang terdalam. Dan walaupun pada akhirnya gadis itu menikah dengan pria lain, tapi di lubuk hatinya pasti masih ada cinta untuk pria itu,”ucap Wonbin menatap adegan pernikahan sang gadis di hadapannya. Yewon ikut menatap layar, dia memikirkan ucapan Wonbin.

“Jadi menurutmu, cinta tidak harus memiliki?,”tanya Yewon dan Wonbin tersenyum.

“Kau jangan salah paham!,”ucap Wonbin dan Yewon kembali menatapnya, pandangan mata mereka bertubrukan.

“Walaupun aku memiliki pandangan seperti itu, tapi bagiku, tiap orang yang saling mencintai harus saling memiliki. Dan hanya mautlah yang bisa memisahkan. Kau tau, siapapun tidak ada yang bisa melawan maut. Walaupun kau berusaha sekuat tenaga untuk terus bersama,”jelas Wonbin dan Yewon tertegun. Wonbin sangat dewasa, itulah yang ada dipikirannya.

“Dan selama maut tidak menjadi halangan, setiap orang yang saling mencintai harus berusaha untuk bersatu. Itulah pendapatku,”ucap Wonbin seraya mengusap rambut Yewon perlahan.

“Kurasa kau belum pernah memikirkannya,”ucap Wonbin.

“Yewon-a, aku penasaran dengan satu hal,”ucap Wonbin tiba-tiba dan Yewon menjadi waspada.

“Kau lebih suka aku bagaimana? Aku yang pendiam atau aku yang agresif?,”tanya Wonbin dan Yewon mengedipkan matanya, jujur saja dia tidak mengerti kenapa Wonbin tiba-tiba menanyakan hal itu.

“Sifat asliku adalah pendiam. Tapi apa kau tau bahwa semua pria memiliki sisi agresif di dalam dirinya? Hanya saja… sisi pendiamku lebih terlihat dari pada sisi agresifku. Dan karena kelakuanmu pagi tadi, kurasa sisi agresifku mulai muncul,”jelas Wonbin. Yewon menelan ludahnya.

“Tapi jika kau lebih suka aku yang pendiam, aku akan tetap seperti ini,”lanjut Wonbin. Yewon berdiri dan menyalakan lampu ruangan itu. Rasanya benar-benar bahaya jika mereka terus berada dalam keadaan seperti itu padahal mereka sedanga atau akan membahas hal yang cukup intim. Yewon kembali duduk di sisi Wonbin dan menatap pria itu.

“Aku sendiri tidak tau. Tapi yang jelas, sikapku pun tidak jelas. Kurasa pagi tadi ada hantu yang merasuki tubuhku,”ucap Yewon dan Wonbin tertawa pelan.

“Jadi maksudmu, itulah hal agresif terakhir yang akan kau lakukan padaku?,”tanya Wonbin.

“EH?”ucap Yewon bingung.

“Jujur saja, aku sangat menyukai sifatmu. Benar-benar tidak bisa ditebak. Kau bisa sangat manis, tetapi beberapa saat kemudian kau menjadi pemarah. Kau tiba-tiba berubah agresif, tetapi beberapa saat kemudian kau menjadi sangat pemalu dan juga polos,”ucap Wonbin. Tangan pria itu terulur dan membelai pipi Yewon.

“Aku menyukai semua sifatmu. Aku benar-benar menyukainya. Kau begitu menarik dimataku,”ucap Wonbin dan kata-kata itu bagaikan sihir di telinga Yewon. Gadis itu menjadi diam tidak berkutik dan bahkan saat Wonbin mendekatkan wajahnya untuk menyapukan bibirnya di bibirnya pun dia hanya diam. Dia masih berusaha mencerna semuanya. Apakah beberapa saat yang lalu Wonbin baru saja mengungkapkan ketertarikannya? Atau pria itu hanya menggodanya? Yewon memejamkan matanya saat Wonbin melumat bibirnya. Rasanya otaknya benar-benar tidak berfungsi menerima kenikmatan nan lembut yang Wonbin salurkan ke seluruh tubuhnya melalui bibirnya. Wonbin tiba-tiba menghentikan ciumannya dan menatap Yewon, Yewon dengan perlahan membuka matanya dan menatap wajah Wonbin yang hanya berjarak beberapa senti di depannya.

“Tunggu! Apakah yang kita lakukan ini benar?,”tanya Wonbin dan Yewon menelan ludahnya. Gadis itu tidak tau harus menjawab apa.

“Sayangnya itu bukanlah pertanyaan yang harus kau jawab,”ucap Wonbin tersenyum dan kembali mendaratkan bibirnya di atas bibir Yewon. Sial! Wonbin sedang menggodanya! Itulah yang dia ketahui. Tetapi ntah mengapa dia tidak bisa memprotes dan mendorong tubuh Wonbin menjauh darinya. Semua ini salah, dia tau itu. Tapi… ntah mengapa untuk saat ini, dalam suasana ini, otaknya berpikir bahwa ini semua benar. Dan sialnya, dia benar-benar tidak tau bagaimana cara menghentikannya. Tubuhnya seolah mendamba tubuh maskulin yang kini melekat di tubuhnya. Dia bisa merasakan otot-otot Wonbin menegang walau terbalut pakaian pria itu. Yewon akhirnya dengan tekad sekuat baja, mendorong tubuh Wonbin perlahan, menjauhkan tubuhnya.

“Kita bisa melakukannya perlahan. Jangan menciumku terlalu lama,”ucap Yewon dengan semburat merah di kedua pipinya. Wonbin tersenyum. Yewon benar-benar sangat menarik. Beberapa saat lalu dia merasakan keagresifan bibir gadis itu yang membalas ciumannya, dan kini, gadis yang sama, gadis yang beberapa saat lalu mengantarkan gelombang kenikmatan, terlihat menatapnya dengan semburat merah menghiasi wajahnya. Wonbin benar-benar tidak bisa menahan dirinya untuk tersenyum dan membelai pipi merah itu. Sesuatu yang baru pertama kali dilihatnya. Melihat seorang gadis merona, apalagi, rona indah itu disebabkan olehnya. Benar-benar pengalaman baru yang sangat menyenangkan, atau mungkin… menggairahkan. Dan sepertinya, mulai detik ini dia harus berusaha keras untuk menjauhkan tangannya agar tidak terus menyentuh gadis di hadapannya dan agar otaknya tidak terus memikirkan bibir merah merekah yang baru saja dicumbunya. Rasanya… semua yang ada di tubuh Yewon benar-benar berbahaya baginya. Menyesalkah dia? Tentu saja tidak, tapi jika memikirkan untuk terus mengendalikan dirinya, rasanya dia menyesal sudah menyentuh gadis itu. Dan sepertinya kejadian pagi tadi akan memiliki banyak akibat, terutama di tubuhnya. Ya, dia harus berusaha keras mengontrol tubuhnya. Mengontrol tubuhnya agar bersabar untuk menikmati lebih dari apa yang sudah dia cicipi.



===============================



Diam-diam Jonghoon mengikuti taksi yang Yunmi tumpangi. Walau bagaimana pun, tetap tanggung jawabnyalah untuk melindungi. Menepis bahwa kini dia tidak memegang tanggung jawab penuh atas Yewon. Dan memikirkan rencana Yewon, terbersit perasaan khawatir pada Yunmi. Bagaimana pun dia tidak mau Yunmi tersakiti. Rasanya menyakiti gadis itu dengan menolaknya saja sudah hal yang buruk, dan juga ucapannya semalam yang terlalu jahat pada Yunmi. Dan sekarang, dia harus mencegah agar Yunmi tidak jatuh cinta pada Seunghyun. Memikirkan bahwa Yewon saja bisa jatuh ke dalam pelukan Seunghyun, apa lagi dengan Yunmi? Dia sangat tau bahwa Yunmi tipe gadis yang mudah salah paham dengan segala kebaikan yang diterimanya, terlebih dari seorang pria. Dan sepertinya, dia harus terus mengingatkan gadis itu bahwa kini dia berperan sebagai Yewon, bukan dirinya sendiri. Dan semua sikap baik yang –akan- Seunghyun berikan padanya semata-mata karena pria itu mengira dirinya adalah Yewon, kekasihnya.



Yunmi sedikit tertegun saat Seunghyun langsung memeluknya dan mengharumi rambutnya. Pelukan pria itu di tubuhnya terasa seperti sengatan listrik, karena jujur saja, sepanjang hidupnya belum ada seorang pria pun yang memeluknya, kecuali ayahnya sendiri.

“Aku benar-benar merindukanmu,”itulah ucapan pertama yang Seunghyun katakan. Dan ntah mengapa suara pria itu terdengar begitu indah di telinganya padahal sebelumnya dia sudah mendengarnya. Apa karena saat ini jarak di antara mereka sangat intim sehingga suara pria itu terdengar begitu indah? Seunghyun meregangkan pelukannya dan menatap Yunmi dengan kening mengernyit.

“Kenapa kau tidak membalas ucapanku? Apa kau tidak merindukanku?,”tanya Seunghyun dengan ekspresi lucu dan mau tak mau Yunmi tersenyum.

“Tentu saja aku merindukanmu. Hanya saja aku begitu terkejut karena tiba-tiba kau memelukku,”jawab Yunmi. Sepertinya dia sedikit berhasil dalam menjalankan peran ini. Untung saja dia akrab dengan Yewon, jadi dia tau bagaimana cara bicara dan juga jalan pikiran saudara kembarnya itu.

“Kau sudah makan? Aku lapar sekali. Kau tau, hyung dan Yunmi benar-benar menyebalkan. Mereka benar-benar mengumbar kemesraan. Aku sampai iri dibuatnya, seharusnya kau juga tinggal di rumah kami,”ucap Seunghyun seraya menggandeng tangan Yunmi dan mengajaknya berjalan mencari restoran terdekat. Yunmi langsung mencubit pinggang pria itu.

“Enak saja kau bicara! Bisa-bisa kau salah mengenali kami,”ucap Yunmi. Seunghyun meringis. Bagaimana pun dia memang tidak bisa membedakan keduanya. Dan Yunmi sendiri, dia merasa sedikit bersalah pada Seunghyun. Sepertinya pria di sampingnya ini adalah pria yang baik. Tetapi dia justru membantu Yewon membohonginya. Dia benar-benar belum bisa menebak bagaimana reaksi Seunghyun nanti jika pria itu tau yang sebenarnya.

==========================TBC======================

Part 10 >>

DON'T DARE TO PLAGIAT THIS FANFIC!!!


Please leave your comment if u appreciate me! ^^
credit: Yewonnie
Primadonnas' Island blog
[ Read More ]
Saturday, August 27, 2011

[FF/S/NC-17/8] IF YOU GIVE YOUR HEART

<< Part 1 << Part 2 << Part 3 << Part 4 << Part 5 << Part 6 << Part 7




TITLE: IF YOU GIVE YOUR HEART
GENRE: ROMANCE
LANGUAGE: BAHASA INDONESIA
RATING: NC-17/Straight
CASTS:
- Oh Won Bin
- Han Ye Won
- Song Seung Hyun
- Choi Jong Hoon
- Kim Yun Mi
- etc


Yunmi membaca buku yang baru saja dibelinya dan Jonghoon menatapnya. Atau bisa dikatakan memperhatikannya dengan intens sejak tadi.
“Oppa, apa yang ingin kau tanyakan? Kenapa terus-terusan menatapku seperti itu? Menakutkan sekali,”ucap Yunmi kesal seraya menutup bukunya. Jonghoon menggaruk kepalanya perlahan dan meringis.
“Aku tidak yakin apakah aku dalam posisi yang tepat untuk menanyakan hal ini,”jawab Jonghoon. Yunmi menjadi waspada. Ntah kenapa belakangan ini dia menjadi sedikit waspada di hadapan Jonghoon, menepis bahwa mungkin pria itu mempunyai ilmu lain.
“Apa kau akan berperan sebagai Yewon?,”tanya Jonghoon kemudian.
“Eh?! Kenapa aku harus berperan sebagai Yewon? Bukankah dia sudah tinggal di rumah calon suaminya?,”Yunmi balik bertanya.
“Apa? Jadi kau tidak tau?,”tanya Jonghoon kaget. Yunmi hanya menampakkan wajah bingung.
“Kau benar-benar tidak tau, Yunmi-a?,”tanya Jonghoon lagi.
“Memang ada hal apa lagi yang mesti aku ketahui?,”tanya Yunmi, dia benar-benar bingung dengan arah pembicaraan pria tampan di hadapannya ini.
“Apa kau tidak tau bahwa kekasih Yewon adalah adik dari calon suaminya?,”tanya Jonghoon dan Yunmi membelalakkan matanya, dia menutup mulutnya dengan telapak tangannya saking terkejutnya.
“Tunggu! Jangan katakan bahwa firasat burukku benar!,”ucap Yunmi was-was. Jonghoon menghela napasnya dan menghembuskannya perlahan. Pria itu kemudian mencondongkan tubuhnya dan menatap Yunmi lekat.
“Yang terburuk adalah… Yewon mengatakan pada kekasihnya bahwa yang tinggal disana adalah kau,”jelas Jonghoon dan Yunmi menggelengkan kepalanya.
“Jadi… aku…,”ucap Yunmi terbata. Dia benar-benar shock sehingga sulit sekali untuk berucap. Apakah dia harus bertukar peran—lagi dengan Yewon? Tapi jika iya. Pertukaran peran yang sekarang benar-benar parah! Bagaimana mungkin dia harus berperan sebagai Yewon di hadapan kekasihnya?
“Kau harus menggantikannya. Menggantikannya di hadapan pria itu, Seunghyun,”lanjut Jonghoon dan Yunmi langsung tertunduk lemas. Sial! Kenapa Yewon tidak memberitahunya? Padahal sebelumnya dia sudah bernapas lega karena semua telah kembali normal, tapi ternyata semua benar-benar abnormal. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran saudaranya itu. Apakah karena saking pintarnya sehingga Yewon memiliki ide-ide yang di luar batas kewajaran seorang manusia?
“Kau harus melakukan itu. Dan maaf sekali, Yunmi-a. untuk kali ini aku berpihak pada Yewon,”ucap Jonghoon dan Yunmi merasa sedih mendengarnya. Bukan hanya untuk kali ini, tapi kau memang selalu berpihak pada Yewon. Yunmi ingin sekali mengatakan kalimat itu. Jonghoon berdiri dan berbalik hendak keluar.
“Apa kau benar-benar tidak peduli dengan perasaanku?,”tanya Yunmi dan Jonghoon menahan gerakan tangannya untuk membuka pintu.
“Apa yang kau pedulikan hanyalah Yewon? Tidak pernahkah kau berpikir bahwa aku memiliki pemikiranku sendiri?,”tanya Yunmi berusaha menahan air matanya. Jonghoon mengehela napasnya.
“Maaf! Tapi Yewon adalah segalanya untukku,”jawab Jonghoon lalu keluar. Yunmi hanya bisa menunduk. Air mata mengucur deras dari kedua belah pipinya. Ternyata benar dugaannya, Jonghoon menyukai Yewon. Tidak! Pria itu bahkan mencintai Yewon. Dan Yewon? Sial! Gadis itu terlalu menyebalkan. Yunmi benar-benar kesal karena sepertinya dia adalah boneka Yewon. Semua yang Yewon instruksikan selalu harus dipatuhinya. Dan sekarang apa lagi? Dia harus menggantikan Yewon?
“Aku harus balas dendam! Aku akan membongkar semua kebohongan Yewon pada Seunghyun. Ya, aku harus melakukan itu,”gumam Yunmi dengan mata berkilat.
“Aku akan membunuhmu jika kau berani melakukan itu,”ucap Jonghoon yang ternyata masih berdiri di luar. Yunmi mengangkat kepalanya dan menatap kilat amarah di mata pria tampan di hadapannya. Jonghoon berjalan mendekat dan Yunmi waspada.
“Apa sisi jahatmu muncul, Yunmi-a?,”tanya Jonghoon dan Yunmi terkesiap.
“Kau tau? Hanya iblis lah yang memiliki pemikiran untuk balas dendam. Dan kau tau, jika kau melakukan itu kau benar-benar tidak tau diri. Bukankah Yewon sudah banyak berkorban untukmu? Mungkin kau tidak menyadarinya dan semua terlihat bahwa kaulah yang berkorban untuknya. Tapi tidakkah kau tau bahwa itu semua sebaliknya? Asal kau tau…,”ucap Jonghoon lalu menyandarkan tubuhnya di meja.
“Pada kenyataannya… ahhh.. bukan. Pada awalnya, kau lah yang dijodohkan, tapi… Yewon menggantikanmu. Bukankah begitu? Dan apakah dia memintamu untuk menggantikannya dalam perjodohan itu saat dia mempunyai kekasih? Tidak kan? Kau mau tau kenapa? Karena Yewon menyayangimu. Dia selalu berpikir untuk melindungimu. Mungkin yang ada di pikirannya ‘Aku harus mendapatkan apa yang tidak Yunmi ingInkan dan memberikan apa yang Yunmi inginkan,”lanjut Jonghoon. Yunmi terdiam.
“Dan asal kau tau… Yewon menolakku karena alasan bahwa kau menyukaiku,”ucap Jonghoon tersenyum miris seraya menatap Yunmi. Yunmi tertegun? Apa-apaan ini? Apakah itu benar?
“Dan lagi, memang dari awal sudah seharusnya Seunghyun yang dijodohkan. Denganmu.. tapi secara kebetulan, atau mungkin memang takdir, tokoh dalam perjodohan ini berubah,”ucap Jonghoon. Jonghoon mendekati Yunmi dan memegang bahu gadis itu, mendorongnya perlahan sehingga punggung gadis itu menyentuh sandaran sofa.
“Kuharap kau bisa berpikir jernih. Jika kau tetap nekad melakukan itu, aku pun akan nekad melakukan apa yang aku katakan,”ucap Jonghoon seraya menatap tajam ke dalam mata Yunmi.

==================================

“Oppa,”Yewon melongokkan kepalanya di pintu kamar Wonbin dan dilihatnya pria itu tengah bersiap-siap untuk berangkat kerja. Yewon masuk ke dalam dan menutup pintu dengan perlahan.
“Kau ada jadwal kuliah? Aku antar,”tanya Wonbin.
“Jadwalku dimulai jam 9 nanti. Aku mungkin nanti dijemput Jonghoon oppa,”jawab Yewon. Gadis itu memperhatikan Wonbin yang tengah mengenakan dasinya. Seandainya dia bisa, dia ingin sekali mengikatkan dasi di leher pria itu. Bukankah itu sangat romantis? Tapi dia tidak tau caranya.
“Apa yang kau pikirkan?,”tanya Wonbin seraya memakai jasnya. Yewon yang saat itu menunduk memandang kakinya langsung menatap Wonbin.
“Tidak ada. Ya sudah, aku duluan. Cepatlah turun! Semuanya sudah menunggu di meja makan,”ucap Yewon lalu pergi dari sana. Wonbin menatap punggung Yewon. Ntah kenapa dia merasa bahwa gadis itu sedang memikirkan sesuatu, sesuatu yang membuatnya gelisah, tapi dia tidak tau apa. Dia tidak akan bertanya padanya, biar Yewon sendiri yang mengatakannya. Rasanya dia harus menunggu waktu lebih lama. Walaupun Yewon sudah mencoba membuka diri padanya, tapi rasanya hati gadis itu masih tertutup rapat.
“Wonbin-a, apa kau benar-benar menyukai gadis itu?,”tanya Wonbin seraya menatap pantulan dirinya di cermin.

“Hyeongsu-nim, apa kau mau aku antar ke kampus?,”tanya Seunghyun seraya memberikan sinyal. Yewon menelan roti yang ada di mulutnya. Bagaimana ini? Dia belum memberitahu Yunmi.
“Tidak usah. Nanti Jonghoon oppa yang mengantarku,”tolak Yewon.
“Kenapa dengannya? Denganku saja, Hyeongsu-nim,”ucap Seunghyun.
“Benar, Yewon-a. lebih baik dengan Seunghyun saja,”ucap Hyunbin setuju. Yewon melirik ke Wonbin.
“Biar aku yang mengantar Yewon,”ucap Wonbin.
“Eh? Apa kau tidak akan ke kantor?,”tanya Hyunbin.
“Apakah appa tidak mau mengijinkan anakmu mengantar calon istrinya?,”tanya Wonbin seraya tersenyum.
“Kau ini. Baiklah, tapi kau harus mengantarnya dengan selamat dan segera ke kantor. Semakin lama kau datang ke kantor, semakin lama pula kau pulang,”pesan Hyunbin.
“Aku mengerti, appa,”ucap Wonbin.
“Yeobo! Kenapa kau begitu? Apa kau tidak kasihan dengan Yewon? Bukankah dia akan sangat bosan menunggu Wonbin di rumah?,”protes Hyegyo.
“Siapa bilang dia harus menunggu di rumah?,”tanya Hyunbin.
“Yewon-a, jika kau rindu pada Wonbin, kau datang saja ke kantor,”ucap Hyunbin dan Yewon mengangguk. Wonbin berdehem.
“Appa.. apa kau menggodaku?,”tanya Wonbin.
“Eh? Memang ada yang salah? Ahh… atau kau tidak bisa berkonsentrasi jika ada Yewon? Apa hatimu berdetak cepat jika dia di dekatmu?,”goda Hyunbin. Wonbin hanya menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan sikap ayahnya itu. Diapun berusaha menghiraukan godaan Hyunbin tetapi Yewon justru menatapnya lekat-lekat saat ini.
“Kau bersemu, oppa,”ucap Yewon seraya menyentuh pipi kiri Wonbin. Wonbin terkesiap, tangannya yang hendak mengambil kopi langsung berhenti seketika. Tetapi untungnya dia bisa dengan segera mengendalikan diri dan meminum kopinya.
“Hyeongsu-nim, bukankah hyung sangat menggemaskan?,”tanya Seunghyun ikut menggoda Wonbin.
“Ya! Apa kau mau kusiram kopi panas?,”ucap Wonbin kesal. Yewon yang duduk di sebelahnya hanya tertawa pelan.
“Iya, dia memang sangat menggemaskan,”ucap Yewon dan semua yang ada disana menertawakan Wonbin.
“Tskk.. Kalian bersekongkol. Baiklah, aku kalah,”ucap Wonbin pasrah.

“Oppa, ada yang mau aku lakukan,”ucap Yewon saat Wonbin menghentikan mobilnya di kampus Yewon.
“Apa?,”tanya Wonbin seraya menolehkan kepalanya. Pria itu tertegun saat Yewon tiba-tiba mendekat ke lehernya.
“Jangan coba-coba mendekati gadis lain!,”ucap Yewon seraya tersenyum dan keluar. Wonbin masih terpaku. Apa yang baru saja dilakukan gadis itu? Wonbin memegang lehernya karena merasakan sedikit perih. Dia kemudian mengubah posisi kaca mobil dan melihat lehernya.
“Apa ini?,”ucap Wonbin kaget saat melihat lehernya memerah.
“Apa dia menggigitku? Tapi aku tidak merasakan giginya,”gumam Wonbin masih memandangi bercak merah itu. Wonbin membenarkan kerah bajunya dan untung saja bekas merah itu tidak terlihat. Wonbin kemudian melajukan mobilnya. Yewon yang saat itu memperhatikan dari kejauhan hanya bisa memukul-mukul kepalanya.
“Sial! Apa yang sudah kulakukan? Kurasa aku benar-benar sudah tidak waras,”umpat Yewon pada dirinya sendiri.
“Membuat kissmark di leher Wonbin kah?,”tanya Jonghoon dan Yewon langsung terperanjat. Sejak kapan Jonghoon berdiri di sebelahnya?
“Oppa! Sejak kapan kau disini? Apa kau hantu?,”tanya Yewon dan Jonghoon hanya menoleh seraya tersenyum lalu menjitak pelan kepala gadis itu.
“Kau saja yang dari tadi sibuk memandang mobil Wonbin dan memukul-mukul kepalamu,”ucap Jonghoon.
“Benarkah?,”tanya Yewon sangsi.
“Tentu saja. Memang kau pikir aku hantu, huh?,”tanya Jonghoon seraya berjalan menjauh.
“Ya, kurasa begitu,”jawab Yewon dan Jonghoon langsung menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Yewon.
“Aku hanya bercanda!,”ucap Yewon seraya bergelayut di lengan Jonghoon.

===================================

Yunmi menatap Yewon yang tengah menyantap makan siang di hadapannya.
“Yewon-a, tidak adakah yang ingin kau katakan padaku?,”tanya Yunmi. Yewon menatap Yunmi dan berpikir.
“Ah~ benar! Ada yang harus aku katakan!,”ucap Yewon ingat.
“Yunmi-a, kumohon jangan marah padaku!,”ucap Yewon sebelum mengatakan inti permasalahannya. Yunmi mengangguk seraya menatap Yewon.
“Kumohon gantikan aku!,”ucap Yewon dengan telapak tangan mengatup di depan wajahnya. Yunmi menghela napas. Bukan itu yang diinginkannya! Dia ingin Yewon memberitahunya tentang pernyataan cinta Jonghoon.
“Gantikan untuk apa? Bukankah semua sudah kembali seperti semula?,”tanya Yunmi berpura-pura tidak mengerti.
“Sebenarnya… kekasihku adalah adik dari Wonbin oppa,”ucap Yewon.
“Benarkah?,”tanya Yunmi terkejut.
“Ya! Aktingmu buruk sekali, Yunmi-a. aku tau kau sudah mengetahui hal ini,”ucap Yewon seraya menggelengkan kepalanya.
“Eh? Aktingku sejelek itukah?,”tanya Yunmi.
“Ya, hanya di part terkejut,”jawab Yewon.
“Jonghoon oppa memberitahuku semalam,”ucap Yunmi. Yewon meneguk lemon es nya.
“Lalu? Apa kau mau membantuku?,”tanya Yewon.
“Memang aku bisa menolak?,”tanya Yunmi dan Yewon tersenyum polos.
“Baiklah baiklah.. aku akan melakukannya. Tapi jangan salahkan aku jika kami saling jatuh cinta,”canda Yunmi dan Yewon langsung cemberut menatapnya.
“Aku hanya bercanda,”ucap Yunmi.
“Itu sama sekali tidak lucu,”ucap Yewon seraya melanjutkan makannya. Yunmi menatap Yewon. Dia memperhatikan wajah saudara kembarnya itu. Pikiran untuk balas dendam benar-benar sudah menguap setelah mendengar ucapan Jonghoon. Yang dia pikirkan sekarang adalah… Kenapa Jonghoon tidak bisa menyukainya seperti pria itu menyukai Yewon? Bukankah wajah mereka mirip?
“Yewon-a,”panggil Yunmi.
“Hm?,”tanya Yewon.
“Bagaimana cara Jonghoon oppa menyatakan cinta padamu?,”tanya Yunmi dan Yewon langsung tersedak. Gadis itu buru-buru minum dan menatap Yunmi.
“Apa maksudmu?,”tanya Yewon.
“Jangan berbohong, Yewon-a! Jonghoon oppa sudah mengatakannya padaku,”ucap Yunmi.
“Aku menolaknya,”ucap Yewon akhirnya.
“Aku sudah tau. Tapi aku belum tau kapan dia menyatakan cintanya padamu dan bagaimana dan juga mengapa kau menolaknya?,”tanya Yunmi.
“Uhh… Hari dimana Jonghoon oppa memergokiku dengan Seunghyun,”jawab Yewon.
“Apa?,”pekik Yunmi kaget. Yewon menopang dagunya dengan tangannya.
“Yang jelas, dia mengatakan bahwa dia menyukaiku. Aku menolaknya tentu saja karena aku sudah mempunyai kekasih,”jawab Yewon. Yunmi menatapnya. Yewon masih tidak mau mengaku. Yewon benar-benar tipikal gadis yang tidak bisa menunjukkan sikap pedulinya. Saudaranya ini memang bersikap acuh di luar.
“Aku bahagia menjadi saudara kembarmu,”ucap Yunmi seraya tersenyum menatap Yewon.
“Tentu saja. Karena aku sempurna kan?,”ucap Yewon dan Yunmi langsung melempar wajahnya dengan tissue. Jonghoon yang memperhatikan dari kejauhan bisa bernapas lega. Syukurlah Yunmi mengurungkan niat jahatnya. Dan masalah perasaannya pada Yewon, tentu saja dia masih dan akan terus mencintai gadis itu. Tapi mungkin karena terlalu lama dan terlalu sering bersamanya, dia jadi tidak mempedulikan kebahagiaannya sendiri dan hanya mempedulikan kebahagiaan Yewon.
“Suatu saat aku pasti akan pergi meninggalkanmu, Yewon-a. jika aku sudah mencapai batas limitku untuk bertahan melihat kau tersenyum untuk pria lain,”ucap Jonghoon.

===================================

Wonbin benar-benar terkejut saat melihat sekretarisnya membukakan pintu untuk Yewon. Yewon langsung melambaikan tangannya pada pria itu.
“Apa aku menganggumu, Tuan?,”tanya Yewon seraya berjalan perlahan menuju meja kerja Wonbin.
“Silahkan duduk. Dan tunggulah. Sebentar lagi aku selesai dan kita bisa pulang,”ucap Wonbin. Yewon pun duduk di hadapan pria itu, mengamati meja kerja Wonbin. Banyak sekali map bertumpuk dan juga kertas.
“Yewon-ssi, tadi pagi apa yang kau lakukan padaku?,”tanya Wonbin sambil tetap mengetik di keyboard nya. Tangan Yewon yang sedang memegang barang-barang Wonbin langsung berhenti di udara.
“Uh? Kau tidak tau atau pura-pura tidak tau?,”tanya Yewon menatap Wonbin, Wonbin menoleh menatapnya.
“Apa maksud dari itu?,”tanya Wonbin berusaha mengalihkan kegugupannya karena bertatapan langsung dengan mata cokelat Yewon.
“Kau benar-benar tidak tau? berhentilah berpura-pura!,”ucap Yewon sedikit kesal. Dia tidak percaya bahwa pria dewasa seperti Wonbin belum pernah mengalami pengalaman itu.
“Kau tidak adil,”ucap Wonbin kembali menatap Yewon.
“Eh?,”tanya Yewon bingung.
“Seharusnya aku melakukan hal yang sama padamu,”ucap Wonbin dan Yewon langsung menelan ludahnya.
“Uhh… Toilet dimana?,”tanya Yewon mengalihkan pembicaraan.
“Aku akan tanyakan pada sekretarismu,”ucap Yewon segera berlalu dari sana. Dia merasa wajahnya benar-benar memerah, tidak menyangka Wonbin bisa mengatakan hal seintim itu. Wonbin hanya tersenyum melihat kegugupan Yewon.
“Cantik sekali dengan wajah bersemu seperti itu. Kurasa aku harus lebih sering membuatnya merona,”gumam Wonbin.

===================TBC===================

Part 9


DON'T DARE TO PLAGIAT THIS FANFIC!!!


Please leave your comment if u appreciate me! ^^
credit: Yewonnie
Primadonnas' Island blog
[ Read More ]
Friday, August 26, 2011

[FF/S/NC-17/7] IF YOU GIVE YOUR HEART

<< Part 1 << Part 2 << Part 3 << Part 4 << Part 5 << Part 6




TITLE: IF YOU GIVE YOUR HEART
GENRE: ROMANCE
LANGUAGE: BAHASA INDONESIA
RATING: NC-17/Straight
CASTS:
- Oh Won Bin
- Han Ye Won
- Song Seung Hyun
- Choi Jong Hoon
- Kim Yun Mi
- etc


Yewon masuk ke dalam gerbang kediaman keluarga Wonbin dan melihat Wonbin sudah menunggunya di pintu masuk.
“Kurasa dia,”ucap Jonghoon seraya mematikan mesin mobil dan keluar. Pria itu langsung membuka bagasi dan mengeluarkan koper Yewon. Yewon sendiri turun dan dengan canggung tersenyum pada Wonbin. Dia sedikit terpesona melihat senyuman pria itu, sangat manis. Eye-smile, batin Yewon. Dia sangat menyukai pria yang memiliki eye-smile. Wonbin mengambil koper yang diturunkan Jonghoon.
“Ayo masuk!,”ajak pria itu.
“Tidak. Aku harus kembali. Aku harus menjemput Yunmi,”tolak Jonghoon halus.
“Yewon-a, jangan menyusahkan orang lain. Cukup aku saja yang kau susahkan,”pesan Jonghoon dan Yewon langsung mencubit pinggang pria itu. Wonbin terkekeh pelan melihat interaksi kedua orang itu. Akhirnya dia benar-benar bertemu dengan Yewon, Yewon yang asli. Dia sedikit bimbang apakah dia harus menanyakan soal semalam atau tidak, tapi sepertinya tidak usah, putus Wonbin mengurungkan niatnya.
“Ayo masuk!,”ajak Wonbin dan membuka pintu.
“Yo!!,”tiba-tiba Seunghyun sudah berjalan ke arah mereka. Pria itu tersenyum pada Yewon.
“Maafkan aku… Yewon-ssi,”ucap Seunghyun sedikit bingung. Pria itu hampir saja mengucapkan nama Yunmi. Dia berpikir bahwa gadis di hadapannya saat ini adalah Yunmi dan Yewon hanya meringis menanggapi ucapan pria itu.
“Meminta maaf untuk apa?,”tanya Wonbin bingung.
“Semalam, hyung,”jawab Seunghyun dan Wonbin mengernyitkan keningnya.
“Sudahlah, cepat antar dia ke kamar. Dan, hyung. Kau harus lebih sering pulang cepat seperti ini, supaya Yewon tidak kesepian,”pesan Seunghyun.
“Hei! Kau berani menasihatiku?,”tanya Wonbin dan Seunghyun hanya mengibaskan tangannya dan berlalu ke dapur.
“Ah.. Yewon-ssi. Kalau kau lapar, kau ambil saja makanan di dapur,”ucap Seunghyun berbalik. Yewon hanya menganggukkan kepalanya.
“Kamarmu di kamarku,”ucap Wonbin saat mereka menaiki tangga.
“Eh?,”pekik Yewon.
“Aku hanya bergurau,”canda Wonbin, lagi-lagi menunjukkan eye-smile-nya. Yewon memaki dalam hati. Bisa-bisa dia jatuh cinta pada pria di hadapannya ini jika pria itu terus tersenyum seperti itu padanya.
“Uhmm.. Wonbin-ssi,”panggil Yewon.
“Oppa,”ralat Wonbin seraya membuka pintu kamar Yewon.
“Kedua orangtuamu dimana?,”tanya Yewon.
“Ini kamarmu. Tepat di samping kamarmu adalah kamarku dan di depan adalah kamar Seunghyun,”jelas Wonbin.
“Appa masih di kantor dan kurasa umma sedang berbelanja. Kau tau, dia bahagia sekali saat tau kau akan tinggal disini. Dan kuharap kau bersiap-siap dengan semua sikap anehnya padamu nanti. Dia sangat ingin anak perempuan,”ucap Wonbin.
“Benarkah? Kenapa dia tidak membuatnya lagi?,”gurau Yewon seraya duduk di atas kasur. Wonbin menarik bangku di dekatnya dan duduk di hadapan Yewon.
“Uhh… sejujurnya. Punya adik satu saja sudah menyebalkan,”ringis Wonbin dan Yewon tertawa. Wonbin tersenyum. Ternyata Yewon benar-benar gadis yang diinginkannya. Gadis itu bisa dengan mudahnya merasa… nyaman? di dekatnya.
“Ahh.. Oppa, kau kenapa mau menikah denganku?,”tanya Yewon langsung.
“Tidak tau,”jawab Wonbin jujur.
“Ehhh?? Menyebalkan! Kalau begitu sama denganku,”cibir Yewon.
“Benarkah?,”tanya Wonbin sangsi.
“Benar. Aku tidak mau melihat wajah suamiku sebelumnya. Dan kau tau? Jonghoon oppa menakut-nakutiku dengan mengatakan bahwa wajah suamiku itu jelek dan lain-lain. Tapi ternyata tidak. Kau sangat tampan, oppa,”ucap Yewon blak-blakkan dan Wonbin berdehem. Pria itu sedikit malu mendengar keterusterangan Yewon.
“Kau malu,oppa? Aigoo~~ Kau manis sekali dengan semburat merah itu,”ucap Yewon semakin menggoda Wonbin.
“Ya ya.. terserah kau saja. Aku pergi. Kau silahkan beristirahat,”ucap Wonbin bangkit dan mengembalikan posisi kursi yang tadi dia ambil.
“Tidak mau. Lebih baik kau mengajakku berkeliling rumah ini. Rumah ini sangat besar. Bukankah akan sangat lucu jika aku tersesat di dalam rumah?,”ucap Yewon.
“Uhh… jujur saja, aku masih ada pekerjaan kantor. Bagaimana kalau Seunghyun yang mengajakmu berkeliling?,”usul Wonbin dan Yewon mengerjapkan matanya. Bingung harus menjawab apa. Tapi bagaimana pun, dia harus siap jika harus berinteraksi hanya berdua saja dengan Seunghyun. Dan… Dia harus melatih dirinya sebagai Yunmi.
“Hm? Bagaimana?,”tanya Wonbin lagi karena Yewon tak kunjung menjawab.
“Ok,”jawab Yewon akhirnya.

================================

“Yunmi-ssi, maafkan aku!,”itulah hal pertama yang diucapkan Seunghyun saat dia hanya berdua saja dengan Yewon.
“Tidak apa-apa. Tapi lain kali jangan menatapku seperti semalam,”ucap Yewon.
“Baik. Ah… Kau tidak kuliah, Yunmi-ssi?,”tanya Seunghyun.
“Tidak. Yewon yang menggantikanku,”jawab Yewon.
“Sepertinya menyenangkan sekali mempunyai saudara kembar,”ucap Seunghyun.
“Tidak juga. Terkadang itu sangat menyusahkan. Tapi sangat menyenangkan jika melihat orang-orang bingung membedakan kami,”jawab Yewon.
“Benar. benar. Kalian terlalu mirip. Semalam saja aku sampai marah-marah pada Yewon karena salah paham,”ringis Seunghyun.
“Ahh.. Yunmi-a, apa kau tau tentang hubunganku dan Yewon?,”tanya Seunghyun.
“Aku tau. Tapi sebelumnya Yewon tidak memberitahuku nama dan fotomu, jadi saat semalam bertemu denganmu, aku benar-benar tidak mengenalimu,”jawab Yewon.
“Ahh.. Jadi begitu,”ucap Seunghyun paham.
“Omong-omong, Seunghyun-ssi. Kenapa kita hanya melewati semua ruangan? Apa kau tidak mau memberitahuku ruangan apa itu semua?,”tanya Yewon.
“Ahh… Maaf! Aku lupa,”ucap Seunghyun seraya memeletkan lidahnya.
“Sudahlah, sekarang aku langsung membawamu ke tempat yang paling penting di rumah ini,”ucap Seunghyun. Yewon pun mengikuti Seunghyun melewati beberapa ruangan yang tertutup rapat. Sepertinya pria itu benar-benar tidak berniat menjelaskan seluk beluk rumah ini. Mereka pun berpapasan dengan beberapa pelayan dan setelah melewati ruangan paling besar, yang Yewon duga adalah ruang keluarga, mereka berdiri di depan sebuah ruangan dan Seunghyun langsung membukanya.
“Tada!! Inilah ruangan terpenting! Kau bisa mencari calon suamimu disini!,”gurau Seunghyun. Wonbin yang tengah mengerjakan pekerjaannya langsung menoleh. Yewon pun masuk dan mengamati ruangan itu. Ruangan yang luas, banyak rak-rak buku dan juga terdapat sofa yang nyaman di sudut ruangan. Dan tentu saja 2 buah meja kerja. Satu yang sedang diduduki Wonbin, dan yang satunya sepertinya meja ayah kedua pria itu.
“Kau benar-benar harus mengingat ruangan ini, Yewon-a. aku dedikasikan ruangan ini sebagai ruang kencan kalian berdua,”gurau Seunghyun.
“Hey! Berhentilah bergurau, Seunghyun-a!,”ucap Wonbin dan Seunghyun hanya memeletkan lidahnya.
“Hyeongsu-nim, selamat bersenang-senang!,”ucap Seunghyun lalu menutup pintu.
“Apa… aku boleh disini?,”tanya Yewon. Dia takut mengganggu pekerjaan Wonbin.
“Tentu saja,”jawab Wonbin. Yewon pun berjalan mendekat dan duduk di hadapan Wonbin. Wonbin menatapnya.

“Kau tenang saja. Aku tidak akan menimbulkan suara apapun. Aku hanya ingin mengamati bagaimana pria sedang serius bekerja karena aku tidak pernah melihatnya,”ucap Yewon. Wonbin pun mencoba mengacuhkan Yewon. Mengacuhkan tatapan gadis itu yang tak lepas dari wajahnya. Yewon menopang dagunya di meja dan mengamati gerak-gerik Wonbin. Setelah beberapa saat, Wonbin benar-benar merasa tidak nyaman dengan tatapan intens Yewon. Pria itu pun akhirnya menghentikan pekerjaannya dan berdehem.
“Kurasa kau jangan di hadapanku. Kau mengganggu konsentrasiku,”ucap Wonbin dan Yewon mengerucutkan bibirnya.
“Baiklah,”ucap Yewon lalu bangkit dan menuju rak buku.
“Tidak ada komik kah?,”tanya gadis itu menoleh pada Wonbin.
“Aku sudah tau jawabannya,”ucap gadis itu saat melihat tatapan Wonbin. Yewon pun akhirnya memutuskan untuk duduk di sofa yang berada di pojok ruangan dan mengamati lingkungan luar rumah dari jendela. Terlihat beberapa tukang kebun sedang menyiram tanaman, memberi pupuk dan juga memotong rumput. Harus dia akui bahwa keluarga Wonbin bukanlah keluarga sembarangan. Mengingat hal itu membuatnya meringis. Sepertinya benar ucapan Jonghoon padanya, dia tidak boleh menyusahkan. Dia harus bersikap lebih dewasa dan juga lebih sopan.

==============================

Yewon yang sedang membereskan pakaiannya langsung menoleh saat mendengar pintu dibuka. Dilihatnya wanita paruh baya yang masih sangat cantik tersenyum ramah padanya seraya menutup pintu. Yewon menduga bahwa wanita cantik di hadapannya ini adalah calon ibu mertuanya.
“Apa kau sedang sibuk, Yewon-ssi? Ah.. apa aku boleh memanggilmu dengan panggilang ‘Yewon-a’?,”tanya Hyegyo.
“Tentu saja….,”Yewon sedikit bingung untuk memanggil Hyegyo dengan sebutan apa.
“Omonim,”sambung Hyegyo.
“Aku hanya sedang membereskan pakaianku, omonim. Sebentar lagi selesai. Kau tadi dari mana, omonim?,”tanya Yewon.
“Aku tadi habis berbelanja. Ah.. Apa kau mau memasak makan malam denganku?,”tawar Hyegyo. Yewon meringis mendengarnya.
“Sejujurnya… aku sama sekali tidak pernah masuk ke dapur,”ucap Yewon. Hyegyo mendelik menatapnya. Apakah dia telah memberikan image buruk pada calon ibu mertuanya?
“Benarkah?,”tanya Hyegyo akhirnya dan Yewon mengangguk perlahan seraya menggigit bibir bawahnya.
“Tidak masalah. Aku bisa mengajarimu,”ucap Hyegyo tersenyum ramah.
“Kau tenang saja, Yewon-a. walaupun kau tidak bisa memasak, kau tetaplah calon menantu yang paling aku inginkan,”ucap Hyegyo seraya menggenggam tangan Yewon, mencoba menenangkan hati gadis itu.
“Ya sudah, kau selesaikan dulu saja pekerjaanmu. Aku tunggu di dapur,”ucap Hyegyo lalu bangkit dan menutup pintu. Yewon menghembuskan napasnya. Rasanya dia jahat sekali bersikap seperti ini pada keluarga yang baik ini. Apa dia tetap harus membohongi Seunghyun? Tapi dia benar-benar tidak mau mengecewakan Seunghyun. Dia tetap ingin melihat senyum manis pria itu.

Yewon masuk ke dapur dan mendapati Hyegyo sedang mengeluarkan semua bahan makanan dari kantung belanjaannya.
“Oh, Yewon-a? kemarilah…,”ajak Hyegyo. Yewon menghampiri wanita itu. Sebenarnya dia sedikit bingung dengan Hyegyo. Disana sudah ada banyak pelayan yang membantunya, tapi kenapa dia tetap memintanya untuk membantunya? Memang sebanyak apa makanan yang biasa mereka siapkan untuk makan malam?
“Kita akan membuat kue kesukaan Wonbin,”ucap Hyegyo. Yewon hanya diam dan memperhatikan semua bahan di hadapannya.
“Wonbin sangat menyukai tiramisu. Dan kurasa, sebagai calon istrinya, bukankah sudah seharusnya kau mengetahui makanan kesukaan calon suamimu dan bisa membuatnya?,”ucap Hyegyo.
“Hem. Apa yang bisa kubantu, omonim?,”tanya Yewon.
“Tolong kau ambilkan bahan-bahan yang tertulis di resep,”ucap Hyegyo. Yewon pun membuka buku resep di hadapannya dan mencari-cari resep tiramisu. Setelah mendapatkannya, dia memberikan semua bahan yang dibutuhkan sebagai adonan kepada Hyegyo.
“Yewon-a, bisa tolong kau pegang ini? Aku harus melelehkan cokelat,”ucap Hyegyo menyerahkan mixer kepada Yewon. Yewon pun menerimanya dan mulai mengaduknya.
“Adukkan berlawanan arah jarum jam, Yewon-a,”pesan Hyegyo. Yewon pun menuruti instruksi yang Hyegyo berikan. Dia dengan serius membuat adonan itu.
“Apakah ini sudah, omonim?,”tanya Yewon beberapa saat kemudian. Hyegyo melihat ke dalam adonan Yewon.
“Iya, sudah,”jawab Hyegyo.

“Dimana dia? Apa masih di ruangan yang tadi?,”gumam Yewon seraya membawa kue yang satu jam lalu selesai dibuatnya. Tentu saja dalam keadaan dingin. Yewon mengetuk pintu ruang kerja Wonbin dan Wonbin membukanya. Pria itu menatap Yewon dengan bingung, lalu menatap ke bawah, melihat apa yang Yewon bawa.
“Untukku?,”tanya Wonbin.
“Tentu saja. Memang di dalam ada orang lain?,”tanya Yewon seraya melongokkan kepalanya. Wonbin mengambil nampan yang di bawa Yewon dan mereka masuk. Wonbin menutup pintu menggunakan kakinya dan menghampiri Yewon yang sudah duduk di sofa.
“Kau yang membuatnya kah?,”tanya Wonbin.
“Omonim yang membuatnya. Aku hanya membantunya,”jawab Yewon.
“Apa kau bisa memasak?,”tanya Wonbin seraya mencicipi kue kesukaannya itu.
“Jika itu termasuk kriteria wanita idamanmu, maaf sekali, Tuan. Aku sama sekali tidak bisa memasak,”jawab Yewon sedikit tersinggung, karena sepertinya bisa memasak menjadi kriteria semua pria. Benar-benar menyebalkan.
“Ya, itu adalah salah satu kriteria gadis idamanku,”jawab Wonbin jujur seraya memakan kuenya. Dia tidak memperhatikan perubahan ekspresi wajah Yewon yang berubah keruh.
“Lalu apa lagi kriteria ‘wanita’ idamanmu?,”tanya Yewon penuh penekanan.
“Hebat dalam berolahraga, dan tentu saja pintar,”jawab Wonbin benar-benar tidak menyadari perubahan suasana hati Yewon.
“Kalau begitu, silahkan kau mencarinya!,”ucap Yewon kesal lalu langsung bangun dan keluar dari ruangan itu. Wonbin menatap punggung Yewon dengan bingung.
“Apakah dia marah?,”tanya Wonbin pada dirinya sendiri.

“Hyeongsu-nim, tiramisu ini enak sekali,”ucap Seunghyun dari ruang keluarga saat dilihatnya Yewon melintas. Tetapi gadis itu sama sekali tidak mempedulikannya dan terus berlalu.
“Ada apa dengan dia?,”gumam Seunghyun bingung. Tak berapa lama, dilihatnya Wonbin keluar dari ruang kerjanya.
“Hyung, Yewon kenapa?,”tanya Seunghyun langsung.
“Aku juga tidak tau,”jawab Wonbin lalu pergi mengikuti Yewon yang tentu saja sudah menghilang dari pandangannya.
“Apa-apaan mereka itu? Belum sehari bertemu, sudah bertengkar? Tskk… Aku jadi mengkhawatirkan kehidupan mereka selanjutnya,”gumam Seunghyun.

=========================================

“Yewon-ssi, apa aku boleh masuk?,”tanya Wonbin di depan pintu kamar Yewon.
“Tidak boleh!,”jawab Yewon dari dalam.
“Hey, kau kenapa? Apa aku telah membuat kesalahan?,”tanya Wonbin bingung. Pintu pun kemudian dibuka dengan kasar dan terlihat wajah kesal Yewon.
“Aku mau pulang!,”ucap Yewon kesal.
“Eh?? Kenapa?,”tanya Wonbin bingung.
“Bukankah kau ingin mencari gadis lain?,”tanya Yewon.
“Eh?”ucap Wonbin bingung.
“Tunggu. Kita bicara dulu,”ucap Wonbin seraya memegang bahu Yewon dan mendorong gadis itu perlahan kembali masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya. Wonbin mendudukkan Yewon di kasur dan dia sendiri duduk di atas kursi belajar Yewon.
“Apa maksudmu dengan aku ingin mencari gadis lain?,”tanya Wonbin langsung.
“Bukankah tadi kau mengatakan kau menginginkan gadis yang pintar memasak, pintar berolahraga dan pintar dalam segala hal? Aku tidak termasuk kriteria itu, Tuan. Jadi bukankah itu berarti kau ingin mencari gadis lain sebagai calon pendampingmu?,”ucap Yewon. Wonbin meringis. Ternyata dia benar-benar harus berhati-hati saat bicara dengan gadis di hadapannya ini. Dia tidak menyangka bahwa Yewon yang sangat mudah bergaul, ternyata di dalamnya sangat sensitive.
“Itu sebelum aku tau kau,”jawab Wonbin dan Yewon mengerjapkan matanya. Sial! Maki Wonbin dalam hati. Kenapa Yewon menampakkan ekspresi seperti itu? Membuatnya benar-benar ingin langsung memeluk gadis itu saat ini juga.
“Sudahlah, yang jelas pada intinya dan yang terpenting aku sudah memilihmu sebagai calon istriku. Dan lagi,itu semua hanya kriteria. Bukan berarti aku harus mendapatkan gadis seperti itu,”ucap Wonbin.
“Dan juga, Yewon-ssi. Jika lain kali aku salah berucap atau aku membuatmu marah, tolong langsung katakan. Jangan langsung pergi seperti itu. Kau tau, aku tidak tau cara memperlakukan seorang gadis dengan baik. Untuk itu, aku mengharapkan bantuan darimu. Mungkin pria sepertiku memang sangat menyebalkan karena tidak bisa membaca pikiran dan bahkan tidak bisa mengerti perasaan seorang gadis, tapi jujur saja. Aku benar-benar tidak mengerti. Aku bukan sengaja mengatakan hal seperti tadi karena kupikir kau bertanya dan aku harus menjawabnya. Aku tidak tau bahwa ucapan itu menyakitimu. Aku benar-benar minta maaf!,”ucap Wonbin penuh penyesalan. Yewon sedikit terkesiap mendengar penjelasan Wonbin. Jonghoon saja tidak pernah bersikap selembut ini saat dia sedang marah pada pria itu. Tapi Wonbin? Pria yang baru ditemuinya beberapa jam yang lalu benar-benar bersikap lembut padanya. Bukankah biasanya pria akan sangat kesal dengan sikap kekanak-kanakkannya itu? Apa lagi mereka baru saja bertemu. Tapi Wonbin berbeda. Yewon seperti menemukan sisi lembut pria di hadapannya ini. Dan ntah mengapa, dia mulai sedikit percaya bahwa Wonbin bisa menjadi tempatnya untuk bertumpu. Sepertinya pria ini bisa diandalkan, setidaknya itulah yang ada di benaknya saat menatap mata hitam pria di hadapannya ini.
“Aku juga minta maaf!,”ucap Yewon akhirnya seraya menunduk. Wonbin tersenyum dan mengusap bahu Yewon perlahan.
“Lain kali, kau harus lebih berterus terang padaku. Jika kau marah padaku, kau katakan saja langsung. Ok?,”ucap Wonbin dan Yewon mengangguk.

=====================TBC====================

Part 8

DON'T DARE TO PLAGIAT THIS FANFIC!!!


Please leave your comment if u appreciate me! ^^
credit: Yewonnie
Primadonnas' Island blog
[ Read More ]

[FF/S/NC-17/6] IF YOU GIVE YOUR HEART

<< Part 1 << Part 2 << Part 3 << Part 4 << Part 5




TITLE: IF YOU GIVE YOUR HEART
GENRE: ROMANCE
LANGUAGE: BAHASA INDONESIA
RATING: NC-17/Straight
CASTS:
- Oh Won Bin
- Han Ye Won
- Song Seung Hyun
- Choi Jong Hoon
- Kim Yun Mi
- etc


“Yewon-a, apa kau serius untuk tetap melakukan ini?,”tanya Yunmi untuk kesekian kalinya. Yewon berjalan ke arahnya dengan sebuah gaun di tangannya. Gaun yang diberikan ibunya semalam. Dan ya, tepat sekali. Kurang dari tiga jam, dia akan bertemu dengan calon semuanya. Tidak. Yunmi. Ya, gadis itu yang akan bertemu dengan calon suaminya.
“Tentu saja. Bukankah kita sudah merencanakannya?,”jawab Yewon mantap seraya memutar tubuh Yunmi dan mendorong gadis itu masuk ke kamar mandi.
“Kau cepat ganti bajumu dan berdandan. Aku akan ke kamarmu sekarang,”ucap Yewon lalu berbalik, tapi kemudian dia kembali lagi.
“Yunmi-a, kau akan melakukannya kan?,”tanyanya lagi memastikan seraya menempelkan telinganya di pintu. Yunmi pun membuka pintu kamar mandi itu sedikit.
“Ya, dan aku tidak mau bertanggung jawab jika Jonghoon oppa tau. Dan lagi, Yewon-a. Kau sedang bertengkar dengannya dan kau tetap ingin melakukan hal ini. Kau benar-benar gila,”ucap Yunmi lalu menutup pintu tepat di depan wajah Yewon.
“Setidaknya dia belum tau, Yunmi-a. Aku tidak mau memikirkannya,”ucap Yewon lalu berjalan menuju pintu kamarnya dan keluar. Saat keluar, Yewon berpapasan dengan Jonghoon. Yewon langsung menelan ludahnya, berharap Jonghoon tidak mengenalinya sebagai dirinya.
“Kau mau kemana, Yewon-a? Apa kau tidak perlu bersiap-siap?,”tanya Jonghoon. Sial! maki Yewon dalam hati. Jonghoon mengenalinya! Bagaimana ini?, umpat Yewon.
“Nanti, oppa. Aku mau meminjam sesuatu di kamar Yunmi,”jawab Yewon.
“Anak itu tidak ada di kamarnya. Kau tau dia dimana?,”tanya Jonghoon.
“Eh? Aku tidak tau. Aku pergi dulu, oppa,”pamit Yewon dan dengan segera berlalu dari hadapan Jonghoon. Jonghoon menatap punggung Yewon yang menjauh. Pria itu sedikit penasaran sebenarnya. Tidak biasanya Yewon mau memakai baju seperti itu, itu lebih seperti style nya Yunmi. Tapi pria itu segera menepis pemikiran itu, karena dia pikir, mungki nyonya nyalah yang menyuruh Yewon mengenakan baju itu.


Yunmi yang sedang berdandan langsung menoleh saat mendengar pintu kamar Yewon menutup.
“Eh? Ada apa?,”tanya Yunmi saat dilihatnya Yewon yang masuk.
“Gawat, Yunmi-a! Jonghoon oppa mengenaliku,”ucap Yewon seraya duduk di atas kasur.
“Hah? Benarkah?,”tanya Yunmi sangsi dan Yewon mengangguk.
“Kalau begitu tetap harus kau yang pergi,”ucap Yunmi seraya bangkit dari kursi, tetapi Yewon dengan sigap menahannya.
“Tidak! Tetap kau yang harus pergi. Masalah Jonghoon oppa…. Biar aku yang pikirkan jalan keluarnya,”ucap Yewon seraya menatap Yunmi, mencoba meyakinkan gadis itu.
“Aku tidak mau ikut campur jika nanti Jonghoon oppa semakin marah padamu,”ucap Yunmi.
“Ya. Kau tenang saja,”ucap Yewon. Yunmi pun akhirnya kembali duduk di depan meja rias.
“Uhh… Yewon-a, bisakah kau mendandaniku?,”tanya Yunmi seraya menoleh menatap Yewon. Sebenarnya dia benar-benar tidak bisa berdandan. Dandanan Yewon sangat berbeda dengannya.
“Oh. Baiklah,”ucap Yewon.

“Jonghoon oppa kemana?,”tanya Yunmi spontan saat dilihatnya bukanlah Jonghoon yang akan mengantar mereka, melainkan Sooman ahjussi –sopir ayahnya.
“Jonghoon appa suruh pergi ke Busan,”jawab Jihoon.
“Eh? Busan? Kenapa tiba-tiba?,”tanya Yunmi seraya masuk ke dalam mobil.
“Ada pekerjaan yang tidak bisa appa pegang, jadi appa menyuruhnya. Memangnya kenapa? Apa harus Jonghoon yang mengantar baru kau mau bertemu dengan calon suamimu?,”tanya Jihoon.
“Eh? Ahh… tidak,”jawab Yunmi bernafas lega. Syukurlah.. sepertinya keberuntungan berpihak padanya dan juga Yewon.
“Yewon-a, kau tidak usah tegang,”ucap Eunhye seraya menggenggam tangan Yunmi dan tersenyum. Yunmi hanya balas tersenyum. Sebenarnya dia agak kecewa karena kedua orang tuanya tidak bisa membedakan dirinya dan Yewon, tapi untuk saat ini, sepertinya itu pilihan yang terbaik. Setidaknya rencana Yewon akan berjalan lancar.

===================================================

“Umma, kenapa aku harus ikut menemui mereka? Yang akan dijodohkan itu kan hyung,”protes Seunghyun seraya membuntuti Hyegyo yang sedang sibuk menata makanan di meja makan.
“Sebagai kesopanan, Seunghyun-a. Dan kau pun harus mengenal calon kakak iparmu,”jawab Hyegyo.
“Mantan calon istriku,”ralat Seunghyun. Hyegyo mendelik kesal kepada anak bungsunya itu.
“Lupakan! Awas kau kalau tiba-tiba ingin menikahi gadis itu saat bertemu dengannya!,”ucap Hyegyo memberi peringatan.
“Tenang saja,umma. Aku sudah punya kekasih,”jawab Seunghyun dan pria itu langsung menunjukkan senyum polosnya saat Hyegyo menatapnya dengan kening mengernyit.
“Akan kuceritakan nanti. Sudahlah, umma cepatlah menghubungi hyung. Jangan-jangan dia sengaja kabur dari perjodohan ini. Aku tidak mau menjadi kambing hitam,”ucap Seunghyun lalu naik ke lantai atas, menuju kamarnya.
“Kau nanti harus ikut bertemu mereka, Seunghyun-a!,”teriak Hyegyo.
“Aku tau,”jawab Seunghyun dari lantai atas. Seunghyun masuk ke kamarnya dan membuka lemari pakaiannya. Dia melihat semua baju formal yang dimilikinya dan mengambil sepasang jas hitam.
“Tskkk… Aku khawatir gadis itu akan terpesona dengan ketampananku jika dia melihatku memakai jas ini,”ucap Seunghyun seraya melepas kaosnya dan menggantinya dengan kemeja putih, lalu memakai jasnya.
“Ahh.. celana!,”ucap Seunghyun karena hampir saja dia keluar tanpa mengganti celananya.
“Akan memalukan sekali jika aku lupa mengganti celana,”ucap Seunghyun seraya melepas celana pendeknya dan menggantinya dengan celana jeans panjang.
“Hemm… lebih keren dengan ini. Celana hitam itu hanya akan membuatku terlihat tua seperti hyung,”ucap Seunghyun menatap pantulan dirinya di cermin dan terkekeh pelan.

“Annyeong haseyo!,”sapa Hyegyo saat Yunmi dan keluarganya masuk.
“Silahkan masuk! Ayo duduk dulu,”sapa Hyegyo ramah. Hyunbin dan Jihoon saling berjabat tangan sebelum duduk.
“Yewon-a, duduklah,”ucap Eunhye. Yunmi pun duduk disisi Eunhye dan tersenyum pada Hyegyo yang tengah memandangnya dengan ramah.
“Anak sulungku belum pulang. Tskkk… Anak itu memang suka seperti itu jika sudah bekerja, tapi kalian tenang saja, jika dia sudah menikah dengan Yewon, aku akan melarang anak itu untuk terlalu banyak bekerja,”ucap Hyunbin lalu terkekeh pelan. Hyegyo menoleh saat di dengarnya suara langkah kaki menuruni tangga.
“Ah… ini anak bungsu kami, Seunghyun,”ucap Hyegyo saat Seunghyun sudah berada di sisinya. Seunghyun menundukkan badannya memberi salam hormat. Pria itu duduk di sisi Hyegyo dan matanya langsung terpaku saat menatap Yunmi. Yunmi yang tidak tau apapun hanya balas menatap Seunghyun dan menganggukkan kepalanya memberi salam.
“Yewon-ssi, apa aku boleh menanyakan sesuatu? Tapi kuharap kau menjawabnya dengan jujur,”ucap Hyunbin dan semua yang ada disana menatapnya.
“Mengapa kau menerima perjodohan ini? Apa kau tidak mempunyai seorang kekasih?,”tanya Hyunbin. Yunmi bingung untuk menjawabnya, biar bagaimanapun pada kenyataannya Yewon sudah mempunyai seorang kekasih. Seunghyun menatapnya tajam, tatapan pria itu seolah-olah ingin membunuh Yunmi saat itu juga.
“Aku tidak punya kekasih,”jawab Yunmi akhirnya-menatap Hyunbin. Seunghyun langsung menghela napas kesal. Dia tidak habis pikir dengan semua ini. Yewon jelas-jelas telah menipunya mentah-mentah. Dan sekarang gadis itu duduk tepat di hadapannya dan berakting seolah-olah mereka tidak saling mengenal sebelumnya. Sial!
“Walaupun aku tidak tau wajah calon suamiku. Tapi… aku tau bahwa umma dan appa pasti memilihkanku lelaki yang terbaik, untuk itu aku menerima perjodohan ini,”jawab Yunmi dan semua orang tua tersenyum senang.
“Syukurlah… kami pikir kau menerima ini dengan terpaksa,”ucap Hyegyo lega dan Yunmi tersenyum. Yunmi menoleh menatap Seunghyun dan tertegun menatap tatapan tajam pria itu. Yunmi pun buru-buru mengalihkan pandangannya, dia benar-benar bingung. Ada apa dengan pria di hadapannya ini? Mengapa memandangnya seperti itu? Benar-benar menakutkan, pikir Yunmi.

Wonbin yang baru datang langsung membungkuk memberi hormat dan meminta maaf. Pria itu kemudian duduk di sofa yang masih kosong, di hadapan ayahnya.
“Maaf!,”ucap Wonbin lagi.
“Sepertinya kau sangat sibuk, Wonbin-a,”ucap Jihoon.
“Iya, maaf, ahjussi!,”jawab Wonbin, merasa tidak enak karena telah membuat semuanya menunggu. Wonbin menatap Hyegyo dan melihat isyarat dari ibunya itu. Wonbin mengikuti arah tatapan Hyegyo dan menatap Yunmi. Pria itu sedikit kaget karena bukanlah Yewon yang datang, melainkan Yunmi.
“Annyeong haseyo!,”sapa Yunmi ramah.
“Annyeong haseyo!,”sapa Wonbin.
“Wonbin-a, itu calon istrimu, Yewon,”ucap Hyunbin.
“NE?,”ucap Wonbin refleks. Apa-apaan ini? Bukankah gadis itu Yunmi? Atau dia salah membedakannya? Apa yang sebenarnya terjadi?
“Ah… bagaimana kalau kita makan malam terlebih dahulu?,”usul Hyegyo.
“Kau mandi nanti saja, Wonbin-a,”ucap Hyegyo saat tau Wonbin hendak memprotes. Semuanya pun langsung menuju ruang makan. Wonbin masih linglung dengan semua ini. Sebenarnya apa yang direncanakan Yewon? Dia sangat yakin bahwa gadis di hadapannya sekarang ini bukanlah Yewon, melainkan Yunmi. Tapi dia tidak tau kenapa Yewon menyuruh Yunmi menggantikannya sebagai dirinya. Dan apakah orang tua mereka tidak menyadarinya? Oh yah.. mereka memang sangat mirip, tapi mereka berbeda. Wonbin merasakan ada sesuatu yang menusuk kepalanya, dia langsung menoleh dan melihat Seunghyun menatapnya tajam dengan mata berkilat marah.
“Ada apa?,”tanya Wonbin dengan isyarat mulut. Seunghyun tidak mempedulikannya dan kembali makan. Ada apa dengan anak itu?, batin Wonbin.
“Aku ada usul,”ucap Hyegyo angkat bicara dan semua menatapnya.
“Bagaimana jika Yewon tinggal disini?,”tanya Hyegyo.
“Eh?,”ucap Yunmi kaget.
“Seperti yang kita tau mereka tidak saling mengenal dan karena Wonbin sibuk, mereka juga tidak mungkin berkencan di luar. Jika Yewon tinggal disini, bukankah mereka setidaknya akan sering bertemu dan bisa mengenal satu sama lain?,”jelas Hyegyo.
“Memang benar. Tapi aku tidak yakin Yewon bisa tinggal jauh dari rumah. Anak ini sangat bergantung dengan sopir pribadinya. Jika tidak ada pria itu, Yewon tidak akan mau,”ucap Eunhye.
“Sopir pribadi?,”tanya Hyunbin.
“Iya, anak yang kami pekerjakan 5 tahun lalu. Usia mereka tidak jauh berbeda, jadi mereka sangat dekat,”jelas Jihoon.
“Apakah Yunmi juga begitu?,”tanya Hyunbin.
“Iya, tapi Yewon lah yang lebih bergantung pada Jonghoon. Karena jujur saja, Yewon itu sangat manja dan sifatnya benar-benar tidak bisa ditebak. Dan sepengetahuanku, hanya Jonghoon lah yang bisa mengendalikannya. Untuk itu, sebenarnya… aku merasa was-was. Aku takut Yewon akan menyusahkan Wonbin kelak,”jelas Jihoon.
“Tidak apa-apa. Bukankah Wonbin akan mengenal sifatnya? Aku yakin lambat laun mereka pasti akan saling mengerti. Aku sangat senang jika Yewon bisa tinggal disini. Bagaimana, Yewon-ssi? Apa kau mau?,”tanya Jihoon.
“Aku mau,”jawab Yunmi langsung dan semua langsung tertegun. Bagaimapun dia tidak bisa selamanya menggantikan Yewon. Dan dia berjanji pada Yewon bahwa dia hanya akan menggantikan gadis itu saat ini. Biarlah Yewon yang melanjutkannya. Siapa sangka semua akan berjalan seperti ini? Sepertinya semua hanya mulus di awal. Yewon-a, kau harus melanjutkannya sendiri. Maafkan aku!
“Baguslah kalau begitu,”ucap Hyegyo senang.

=======================================

“Yewon-a, umma tidak menyangka kau mau menerima tawaran itu. Umma pikir kau tidak akan mau,”ucap Eunhye di perjalanan pulang.
“Awalnya aku memang tidak mau. Tapi setelah mendengar penjelasan Hyegyo ahjumma, aku jadi berpikir ulang dan kupikir itu ada benarnya juga. Lagi pula, tidak mungkin aku bisa menjalankan kehidupan rumah tangga tanpa mengetahui sifat suamiku,”jawab Yunmi.
“Syukurlah. Akhirnya kau bisa berpikir secara dewasa, Yewon-a. kalau begitu, besok umma akan membantumu membereskan pakaianmu dan Jonghoon yang akan mengantarmu kesana,”ucap Eunhye.
“Appa harap kau tidak akan berbuat macam-macam, Yewon-a. kau harus menjaga nama baik keluarga kita!,”pesan Jihoon.
“Aku mengerti,”jawab Yunmi.

“Yewon-a, besok kau harus tinggal di rumah calon suamimu,”ucap Yunmi saat masuk ke kamar Yewon.
“APA??!!! APA KAU GILA??,”pekik Yewon.
“Tidak ada pilihan lain. Sudahlah, peranku cukup sampai disini. Kau tau, aku benar-benar takut dengan adik calon suamimu. Pria itu menatapku dengan tatapan seolah-olah ingin memakanku. Tapi kau tenang saja. Calon suamimu cukup tampan dan dia ramah. Ya sudah, aku sudah mengantuk,”ucap Yunmi langsung keluar kamar, tidak membiarkan Yewon mengucapkan satu kalimat pun. Yewon hanya diam tak bergerak. Dia tidak menyangka bahwa semuanya akan berjalan seperti ini benar-benar di luar kendalinya.
[Baby u’re the only one good for you..]
Yewon langsung mengambil ponselnya dan melihat nama Seunghyun terpampang disana. Gadis itu tersenyum senang karena akhirnya Seunghyun menghubunginya.
“Yeoboseyo!,”sapa Yewon.
[YA! Tidak usah bersikap manis padaku. Kau tadi apa-apaan, huh?]
“Ne?,”Yewon mengernyitkan keningnya tidak mengerti mengapa Seunghyun langsung marah-marah.
“Apa maksudmu, Seunghyun-a?”
[Kenapa kau tidak mengatakan padaku bahwa kau dijodohkan dengan hyungku?]
“Tunggu! Aku tidak mengerti,”
[Tskk.. Aku tidak habis pikir bahwa kau sangat lihai dalam berakting. Baru satu jam yang lalu kau bersikap seolah tidak mengenalku. Dan sekarang kau bersikap seolah-olah kau tidak mengerti apapun. Kurasa kau seharusnya jadi aktris. Aktingmu keren sekali].
Yewon terdiam. Dia mencoba berpikir.
“Maksudmu… Kau tadi bertemu dengan Yunmi?,”tanya Yewon paham.
[APA?!! Tskk.. sekarang apa lagi, Yewon-a? Yunmi? Siapa lagi dia? Jelas-jelas tadi kita bertemu]
“Kau salah! Itu saudara kembarku,”ucap Yewon.
[APA?! Ya! Jelas-jelas orang tuamu memanggilmu. Ah.. gadis itu, dengan panggilan Yewon. Kau tidak usah berbohong lagi. Semua sudah terbongkar]
“Tskkk… Kau menyebalkan sekali. Dia saudara kembarku! Memang aku yang akan dijodohkan, tapi aku menyuruh Yunmi menggantikanku, tapi kedua orang tua kami tidak tau. Jadi mereka memanggilnya dengan nama Yewon,”jelas Yewon.
[Tunggu! Aku benar-benar tidak mengerti. Bisa kau jelaskan?]
Yewon menghela napasnya. “Jadi, memang aku yang seharusnya dijodohkan dengan pria itu. Tunggu! Dia kakakmu?,”tanya Yewon.
[Ya, dia kakakku.]
“Tapi aku menyuruh Yunmi menggantikanku. Orang tua kami tidak tau, jadi mereka berpikir bahwa akulah yang datang bersama mereka, padahal itu adalah Yunmi,”jelas Yewon. SIAL! Kenapa dia memberi penjelasan seperti ini? Bukankah pada akhirnya dia yang akan menikah dengan pria itu? Sudahlah, masalah itu pikirkan nanti. Yang penting Seunghyun tidak marah padanya--sekarang.
[Jadi yang besok akan mulai tinggal disini adalah Yunmi? Bukan kau?]
Yewon terdiam. “Ya,”jawab gadis itu kemudian. Dia terpaksa harus melanjutkan kebohongan ini. Tapi targetnya berubah, Seunghyun lah yang dibohonginya.
[Ah… Syukurlah. Tapi kau jujur kan? Tadi itu benar-benar saudara kembarmu kan?]
“Aku jujur! Tskk… besok aku akan menyuruh Yunmi membawa foto kami berdua. Atau kau ingin bertemu dengan kami berdua?,”tanya Yewon.
[Bertemu]
“Baiklah… Oppa, jujur saja. Kau sangat menyeramkan saat marah-marah seperti tadi,”ucap Yewon.
[Benarkah? Haha… Maaf! Aku benar-benar kesal karena kupikir tadi kau berpura-pura tidak mengenalku. Aku harus minta maaf pada Yunmi, kalau begitu]
“Tentu saja. Karena tadi Yunmi lapor padaku bahwa kau menatapnya seolah ingin memakannya,”ucap Yewon.
[Tolong sampaikan penyesalanku!]
“Baiklah,”jawab Yewon.

=====================================

“Yewon-a, apa kekasihmu tau bahwa kau akan menikah dengan kakaknya?,”tanya Jonghoon sore itu. Mereka sedang dalam perjalanan menuju kediaman keluarga Wonbin.
“Dia sudah tau,”jawab Yewon.
“Tapi tidak tau semua kan? Aku yakin ada yang kau sembunyikan,”ucap Jonghoon.
“Sudahlah, kau tidak usah peduli kan aku. Biar aku yang menentukan jalan hidupku,”ucap Yewon kesal.
“Baiklah.. tapi jangan meminta bantuanku jika nanti ada masalah,”ucap Jonghoon. Yewon melirik kesal.
“Tentu saja kau harus membantuku,”ucap Yewon.
“Jujur padanya!,”saran Jonghoon.
“Tidak!,”tolak Yewon bersikeras.
“Jadi kau akan memainkan 2 peran sekaligus, begitu? Sebagai Yunmi di hadapan Seunghyun dan sebagai dirimu sendiri di hadapan keluarganya yang lain? Oh ayolah, Yewon-a. jangan menjerumuskan diri sendiri ke dalam masalah!,”nasihat Jonghoon.
“Bukankah kau dan Yunmi siap membantuku jika ada masalah? Atau kalian memang tidak mau membantuku?,”tanya Yewon. Jonghoon memutuskan untuk diam. Biar bagaimana pun, dia tidak akan bisa membiarkan Yewon dalam masalah –sendirian.

====================TBC=====================

Part 7 >>

DON'T DARE TO PLAGIAT THIS FANFIC!!!


Please leave your comment if u appreciate me! ^^
credit: Yewonnie
Primadonnas' Island blog
[ Read More ]
 
 

Followers

My Update