#Post Title #Post Title #Post Title #Post Title #Post Title #Post Title
Showing posts with label cherish ur heartache ff. Show all posts
Showing posts with label cherish ur heartache ff. Show all posts
Friday, July 29, 2011

[FF/S/NC-17/13] CHERISH YOUR HEARTACHE

previous chapter: 1|2|3|4|5|6|7|8|9|10|11



TITLE: CHERISH YOUR HEARTACHE
GENRE: ROMANCE
LANGUAGE: BAHASA INDONESIA
RATING: NC-17/Straight
CASTS:
- Oh Won Bin
- Han Ye Won
- Song Seung Hyun


Yewon hanya bisa duduk merengut di sisi Wonbin. Dia sudah tau pasti kemana Wonbin mengajaknya karena kini di sisinya terdapat hamparan laut yang luas. Wonbin pasti mengajaknya ke pantai dan jujur saja, dia tidak suka dengan pantai. Dia tidak suka saat harus berjalan di atas pasir yang halus dan tidak suka saat tubuhnya harus basah terkena air laut. Wonbin sesekali melirik Yewon dan tersenyum. Mungkin keputusannya mengajak Yewon kesini memang mengecewakan gadis itu, tapi dia tidak tau tempat mana lagi yang dirasa aman bagi mereka untuk berduaan dan bertindak selayaknya sepasang kekasih. Bagaimanapun dia tidak ingin mengambil resiko jika nanti ada orang yang salah paham melihat kedekatan mereka.

“Sudahlah, jangan cemberut begitu!,”ucap Wonbin seraya mengelus pelan pipi Yewon dengan jemarinya. Yewon menoleh dan menatap Wonbin dengan tatapan kesal.
“Kau menyebalkan sekali, oppa! Bukankah kau tau aku benci laut?,”ucap Yewon kesal tetapi Wonbin hanya tersenyum.
“Aku tidak tau lagi dimana tempat yang pas. Atau kau ingin aku mengajakmu kencan ke Jeju,huh?,”goda Wonbin. Yewon langsung mengalihkan pandangannya dan bersandar di jok seraya melipat tangannya di dada dan bungkam. Wonbin hanya melirik sekilas dan dia tau bahwa Yewon tidak akan bicara lagi padanya sepanjang perjalanan ini.
“Aku takut ada yang mengenalmu dan melihat kita berdua lalu salah paham. Bukankah kau tidak ingin itu terjadi?,”ucap Wonbin mencoba menjelaskan tetapi Yewon hanya diam saja.
“Baiklah, nanti kita tidak usah ke laut. Kita diam saja di hostel dan ke luar sebentar untuk berjalan-jalan dan aku berjanji tidak akan memaksamu mendekati laut, bagaimana?,”ucap Wonbin mencoba bernegosiasi tetapi Yewon tetap diam. Wonbin pun hanya menghela napas dan membiarkan kesunyian menyelimuti mereka. Dia tidak mencoba berbicara dengan Yewon lagi dan membiarkan gadis itu terus terdiam dan menatap lurus ke depan dengan ekspresi yang masih terlihat kesal.

=============================

Wonbin langsung merangkulkan sebelah tangannya di pinggang Yewon dan tangan yang lain membawa tas berisi pakaian mereka berdua. Yewon tetap saja cemberut di sampingnya dan berjalan dengan malas-malasan.
“Kau menyebalkan sekali, oppa. Aku tidak suka,”ucap Yewon. Wonbin hanya diam saja dan terus mengajak Yewon semakin mendekati sebuah hostel yang memang sudah dipinjamnya dari Jonghoon.
“Oppa, apakah tidak terlalu berlebihan sampai menyewa hostel segala?,”tanya Yewon menatap bangunan yang ada di hadapannya.
“Kau tenang saja. Ini milik Jonghoon dan aku meminjamnya,”jawab Wonbin.
“Benarkah? Jadi ini punya Jonghoon oppa?,”tanya Yewon tidak percaya dan melangkahkan kakinya masuk. Dia menatap sekeliling dan merasa kagum dengan desain hostel itu yang minimalis, sangat mencerminkan Jonghoon.
“Iya, memang Yunmi tidak pernah mengatakan padamu? Kurasa mereka pernah kesini,”jawab Wonbin dari arah dapur dan menuangkan air ke dua buah gelas dan membawanya. Dia memberikan pada Yewon dan duduk di depan gadis itu.
“Oppa, apakah akting kita sebagai sepasang kekasih sudah dimulai?,”tanya Yewon setelah meneguk air dingin dan tenggorokannya terasa benar-benar segar.
“Tentu saja,”jawab Wonbin.
“Ah~~ Aku sudah memutuskan apa keinginan ketigaku,”ucap Wonbin kemudian.
“Apa?,”tanya Yewon seraya mengambil earphone dari tasnya.
“Ijinkan aku menyentuhmu,”jawab Wonbin dan gerakan tangan Yewon langsung terhenti. Gadis itu menatap Wonbin dengan mata terbelalak.
“Kau jangan berpikiran terlalu jauh! Maksudku, ijinkan aku menggandeng tanganmu, merangkulmu, memelukmu dan... menciummu,”jelas Wonbin.
“Ya! Aku tidak setuju dengan pilihan terakhir!,”ucap Yewon.
“Tskkk... jika kau tidak mengijinkanku menciummu, itu sama saja bukan sepasang kekasih. Mana ada sepasang kekasih tidak berciuman,”ucap Wonbin merengut kesal. Yewon menatapnya tetapi kemudian tawa gadis itu langsung pecah, membuat Wonbin bingung dibuatnya.
“Kau lucu sekali, oppa. Ternyata kau bisa juga bersikap kekanak-kanakan,”ucap Yewon di sela tawanya.
“Aishh~~ menyebalkan,”gerutu Wonbin menatap Yewon yang melihat wajahnya dan kembali tertawa.

Yewon yang sedang memandang keluar langsung terperanjat saat Wonbin tiba-tiba memeluk pinggangnya dan mengecup bibirnya.
“Kenapa?,”tanya Wonbin saat melihat Yewon terperanjat dan tetap melingkarkan tangannya di pinggang Yewon, mendekatkan tubuh gadis itu ke tubuhnya.
“Kenapa tiba-tiba begitu? Untung aku tidak pingsan,”omel Yewon meletakkan tangannya di dada Wonbin, mencoba membuat jarak di antara keintiman itu karena ntah kenapa jantungnya berdebar keras dan dia tidak ingin Wonbin mengetahuinya. Wonbin kemudian melepaskan tubuh Yewon dan berdiri di samping Yewon, menatap lurus ke depan menatap hamparan pasir dan juga ombak yang berkejar-kejaran.
“Apa kau mau kesana?,”tanya Wonbin.
“Bukankah aku sudah bilang bahwa aku tidak mau? Dan bukankah kau sudah berjanji tidak akan membawaku kesana?,”ucap Yewon.
“Aku tau. Aku pikir kau ingin kesana, karena sedari tadi kau menatap lautan,”jawab Wonbin. Yewon melangkah menjauh dan duduk di sofa. Wonbin pun membalik badannya dan bersandar di jendela, menatap Yewon yang duduk di sofa.
“Kenapa kau sangat tidak suka laut, Yewon-a?,”tanya Wonbin mengalihkan pandangannya kembali ke lautan.
“Karena aku pernah tenggelam disana,”jawab Yewon dan Wonbin langsung menoleh.
“Benarkah?,”tanya Wonbin tidak percaya.
“Ya, saat aku berusia 6 tahun. Saat kau belum datang,”jawab Yewon seraya mengelus-elus bantal di pangkuannya. Wonbin menghampiri Yewon dan mendudukkan dirinya di samping Yewon lalu berbaring di pangkuan gadis itu, di atas bantal yang ada di pangkuannya.
“Lalu kau trauma?,”tanya Wonbin dan Yewon mengangguk. Yewon tanpa sadar mengelus rambut Wonbin dan menunduk menatap pria itu. Wonbin pun dengan perlahan menarik rambut panjang Yewon yang terjulur dan mendekatkan wajahnya. Yewon menutup matanya dan membiarkan Wonbin menciumnya dengan sangat lembut. Sensasi ciuman Wonbin benar-benar menenangkan dan seolah-olah mampu menghapus semua kekhawatirannya. Dia tidak pernah menyangka bahwa dia akan bisa menikmati ciuman pria lain, yang tak lain adalah orang yang selama ini dianggapnya sebagai kakak. Wonbin melepas ciuman itu dan bangun lalu duduk. Yewon sedikit kecewa saat Wonbin tiba-tiba melepaskan ciuman itu padahal dia mulai menikmatinya. Tetapi kekecewaannya itu sirna saat Wonbin kembali memagut bibirnya dan mengelus lehernya perlahan. Ciuman pria itu sangat menggairahkan walaupun tetap berkesan lembut dan tidak menuntut. Dan mau tak mau, Yewon membandingkan ciuman Seunghyun dengan Wonbin dan terdapat perbedaan yang sangat besar disana. Seunghyun selalu langsung menyuruhnya membuka mulutnya dan pria itu akan langsung memasukkan lidahnya tiap kali mereka berciuman. Berbeda dengan Wonbin yang tetap bertahan bermain di luar dan memberinya kecupan-kecupan kecil di tiap sudut bibirnya. Sampai detik ini Wonbin belum mengikut sertakan lidahnya dalam ciuman itu, membuat Yewon sedikit frustasi karena dia benar-benar tidak terbiasa dengan ciuman yang seperti ini. Yewon pun mencengkram baju depan Wonbin berharap agar pria itu sadar bahwa dia menginginkan yang lebih dari pada ini. Wonbin ternyata mengerti sinyal yang diberikannya dan menjulurkan lidahnya walau hanya untuk menyusuri lekuk bibir Yewon. Yewon pun akhirnya memutuskan untuk memulai dan membuka mulutnya dan membalas ciuman Wonbin, menjulurkan lidahnya ke dalam mulut Wonbin yang disambut oleh lidah pria itu. Tangan Yewon pun beralih dari dada Wonbin ke bahunya dan kini melingkarkan tangannya di sana. Wonbin pun menurunkan tangannya yang semula berada di tengkuk Yewon dan kini berada di pinggang gadis itu. Tangan kanan Wonbin naik ke punggung Yewon dan mengelusnya pelan, bisa didengarnya Yewon mendesah pelan di mulutnya. Wonbin tidak menyangka bahwa mencium Yewon akan memabukan seperti ini. Dia tidak menyangka bahwa Yewon akan meresponnya seperti ini. Dia juga tidak menyangka bahwa Yewon justru memperdalam ciuman ini.

Yewon menjauhkan wajahnya dari Wonbin dan menunduk seraya mengatur napasnya yang memburu, begitu juga dengan Wonbin. Tangan Yewon tetap melingkar di bahu Wonbin dan Wonbin menyibakkan rambutnya perlahan dan mengangkat wajah Yewon agar menatapnya. Wonbin bisa melihat semburat merah di pipi Yewon dan diusapnya pipi itu perlahan.
“Kau bagus sekali, Yewon-a,”ucap Wonbin.
“Ne?,”tanya Yewon bingung.
“Kau menarik tubuhmu tepat pada waktunya, karena jika tidak, mungkin aku akan langsung melepas bajumu satu per satu,”jawab Wonbin yang langsung membuat Yewon semakin malu dan membuat semburat merah di wajahnya semakin jelas.
“Kau tidak usah malu, Yewon-a. Aku senang kau seperti itu,”ucap Wonbin seraya mengelus pelan wajah dan rambut Yewon perlahan.
“Posisi ini sangat berbahaya,”ucap Wonbin menatap ke bawah. Yewon ikut menatap ke bawah dan baru menyadari bahwa kini dia berada di pangkuan Wonbin. Sebuah posisi yang sangat intim dan mungkin bisa membuat siapapun akan salah paham jika melihatnya. Wonbin langsung menahan punggung Yewon saat gadis itu hendak menjauhkan tubuhnya.
“Aku suka posisi ini,”ucap Wonbin seraya mencium leher Yewon perlahan. Yewon langsung menahan napasnya saat merasakan sentuhan bibir Wonbin dan juga napas pria itu di lehernya.
“Aku lapar, oppa,”ucap Yewon terbata. Wonbin kemudian menghentikan aksinya dan menatapnya lalu kemudian menatap jam dinding.
“Ternyata makan siang sudah lewat. Baiklah, ayo kita makan,”ucap Wonbin lalu Yewon dengan segera turun dari pangkuan Wonbin dan berdiri. Wonbin lalu berdiri dan berjalan menuju dapur, meninggalkan Yewon disana. Yewon benar-benar merasa sangat malu. Dia menghempaskan tubuhnya disofa dan mengipas-ngipas wajahnya dengan tangannya sendiri.
“Aishhh~~ Ada apa dengan tubuhku ini? Aishhh~~~ Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan tubuhku,”umpat Yewon kesal pada dirinya sendiri yang ntah mengapa menjadi tidak terkontrol saat Wonbin menyentuhnya.

=============================

“Oppa!,”teriak Yewon dari dalam kamar mandi. Wonbin mendekat,”Ada apa?,”tanyanya.
“Tolong belikan aku pembalut,”sahut Yewon dari dalam.
“Apa?!,”pekik Wonbin kaget.
“Aku datang bulan, oppa. Aku tidak membawa pembalut. Tolong belikan!,”ucap Yewon lagi.
“Yang benar saja, Yewon-a! Aishhh~~ Apakah aku benar-benar harus membelinya sekarang?,”tanya Wonbin.
“Tentu saja! Cepatlah, oppa!!,”ucap Yewon kesal.
“Baiklah,”ucap Wonbin kemudian.
“Yang benar saja! Pasti memalukan sekali membeli pembalut. Ckckck... Kenapa bisa begini sih?,”umpat Wonbin kesal seraya keluar dari hostel.
“Kurasa tadi aku melewati supermarket. Sepertinya disana,”gumam Wonbin lalu berbelok ke kiri dan berlari. Dia tau bahwa keadaan ini sangat darurat maka diapun dengan sesegera mungkin masuk ke dalam supermarket. Wonbin menolehkan kepalanya bingung dan akhirnya diapun memutuskan untuk bertanya pada kasir.
“Dimana aku bisa mendapatkan pembalut?,”tanya Wonbin mencoba menepiskan rasa malunya.
“Ne?,”tanya kasir itu kaget.
“Pembalut wanita. Dimana aku bisa mendapatkannya?,”jelas Wonbin mencoba bersabar.
“Disana,”jawab kasir itu akhirnya. Wonbin kemudian dengan segera berlari ke sudut yang dimaksud dan menatap bertumpuk-tumpuk pembalut yang ada disana.
“Aigoo~~ Yang mana yang harus aku beli?,”gumam Wonbin bingung menatap semua pembalut dengan berbagai merk.
“Sudahlah, yang mana saja!,”ucap Wonbin akhirnya lalu menyambar 1 pack pembalut dan segera membayarnya. Dia kemudian berlari lagi menuju hostel. Dia tidak peduli walau peluh sudah membanjiri tubuhnya. Yang penting dia segera sampai dan memberikan pembalut itu pada Yewon.

“Makasih, oppa!,”ucap Yewon tersenyum senang saat sudah keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang lebih segar.
“Sekarang aku mau mandi. Badanku benar-benar lengket. Gara-gara kau aku sampai harus berlari-lari,”ucap Wonbin lalu berjalan menuju kamar mandi. Yewon hanya tersenyum di belakang.
“Hhh... Wonbin oppa baik sekali. Kupikir dia tidak akan mau,”ucap Yewon tersenyum senang lalu menghempaskan pantatnya di sofa dan mengambil cemilan yang ada di meja. Dia kemudian menyalakan tv sambil menunggu Wonbin yang sedang mandi.
“Sepertinya aku harus membalas budi, oppa,”ucap Yewon seraya berpikir dengan cara apa dia bisa membalas budi Wonbin yang sudah dengan rela berlari untuk membelikannya pembalut.
“Tskk... Sudahlah, pikirkan nanti saja,”ucap Yewon kemudian karena sama sekali tidak mendapatkan ide.

=============TBC==============


DON'T DARE TO PLAGIAT THIS FANFIC!!!


Please leave your comment if u appreciate me! ^^
credit: Yewonnie
Primadonnas' Island blog
[ Read More ]
Friday, July 22, 2011

[FF/S/NC-17/12] CHERISH YOUR HEARTACHE

previous chapter: 1|2|3|4|5|6|7|8|9|10|11



TITLE: CHERISH YOUR HEARTACHE
GENRE: ROMANCE
LANGUAGE: BAHASA INDONESIA
RATING: NC-17/Straight
CASTS:
- Oh Won Bin
- Han Ye Won
- Song Seung Hyun

Yewon tengah mengerjakan tugas kuliahnya dan sedari tadi Wonbin duduk di depannya, menatapnya.
“Oppa, ada apa?,”tanya Yewon tanpa menatap Wonbin.
“Aku punya tiga permintaan, Yewon-a,”jawab Wonbin. Yewon langsung mengangkat kepalanya dan menatap Wonbin.
“Tiga permintaan? Memang kau pikir aku jin?,”ucap Yewon heran.
“Ya, anggap saja kau menjadi jin-ku. Bagaimana? Boleh tidak aku mengajukan permintaan?,”tanya Wonbin.
“Asal bukan permintaan yang aneh,”jawab Yewon sedikit was-was.
“Yang pertama, besok...mmm... Tolong perlakukan aku sebagai pacarmu,”ucap Wonbin yang langsung mendapat protes dari Yewon.
“Dengarkan dulu! Aku belum selesai,”ucap Wonbin.
“Tskk... Kau itu seperti anak kecil saja,”ucap Yewon kesal. Wonbin tidak mempedulikan ucapan Yewon dan kembali mengucapkan keinginannya.
“Besok kita kencan. Pergi seharian dan pulang hari Minggu,”ucap Wonbin.
“Lalu...,”ucap Wonbin berpikir.
“Aishh~~ Aku belum memikirkan permintaan terakhir, akan aku pikirkan dulu. Bagaimana? Bersediakah kau menjadi jin-ku selama satu... Ahh... bukan. Selama dua hari?,”tanya Wonbin.
“Apa aku boleh menolaknya?,”Yewon balik bertanya.
“Tidak boleh,”jawab Wonbin.
“Tskkk... Kalau begitu untuk apa kau bertanya?,”ucap Yewon kesal.
“Hahaha... Sebagai formalitas,”jawab Wonbin santai.
“Ya! Apakah kau masih berdiet?,”tanya Wonbin kemudian.
“Hu’um. Berat badanku masih belum kembali seperti semula. Kurasa aku butuh seminggu lagi untuk berdiet,”jawab Yewon kembali menekuri pekerjaannya.
“Ya! Yang benar saja. Kau sudah seminggu berdiet, Yewon-a,”ucap Wonbin tidak percaya.
“Ya, dan kau selalu menjejaliku dengan makanan pada malam hari. Itulah sebabnya dietku kemarin-kemarin menjadi percuma. Jadi kumohon, oppa. Berhentilah memasak makanan yang enak saat tengah malam,”ucap Yewon kesal dan Wonbin hanya mengerucutkan bibirnya sebal.
“Ya, baiklah. Tskkk... Aku kan masak tengah malam untukku sendiri. Aku tidak menawarimu,”gumam Wonbin mengalihkan pandangannya dari Yewon, Yewon sendiri hanya mendelik kesal di belakangnya.

=========================

“Sehyun-a!! Berhentilah!!,”teriak Yoochan saat masuk ke ruangan khusus bagi Sehyun untuk berlatih drum. Sehyun menghentikan latihannya dan menatap sepupunya itu dengan kesal.
“Ada apa, noona?,”tanya Sehyun.
“Aku titip Hwichan padamu. Aku dan Yoochun harus menghadiri pernikahan Yoona ahjumma,”jawab Yoochan.
“Apa? Yoona ahjumma menikah? Lagi? Bukankah baru 6 bulan yang lalu dia menikah? Sekarang siapa lagi korbannya?,”ucap Sehyun heran.
“Ya! Tidak sopan! Itu bukan urusanmu, Sehyun-a. Sudahlah, kau cepat turun dan diam di kamar Hwichan. Tunggu sampai dia bangun daripada nanti dia menangis dan berteriak-teriak saat bangun,”pesan Yoochan lalu keluar.
“Tskk... menyebalkan sekali. Aishh!! Menjaga Hwichan? Menjaga anak itu rasanya sama saja dengan menjaga seluruh anak TK di Daegu,”ucap Sehyun frustasi dan kemudian meletakkan stik drum-nya dan berjalan keluar lalu menuruni tangga dan menuju kamar Hwichan.
“Hyung, kalian kapan pulang?,”tanya Sehyun sebelum memasuki kamar Hwichan, saat dilihatnya Yoochun keluar dari kamar dan diikuti Yoochan.
“Kami pulang malam. Dan... oiya,”jawab Yoochun lalu mengambil dompetnya dan menyodorkan beberapa lembar uang 100.000 won pada Sehyun. Sehyun tersenyum menerima uang itu.
“Kau belilah makanan jika lapar. Aku takutnya kami pulang terlambat,”ucap Yoochun.
“Ahh... Dan...,”lanjut Yoochun teringat sesuatu.
“Belikan Hwichan es krim,”lanjut Sehyun yang sudah bisa menebak ucapan selanjutnya.
“Sehyun-a, kau nanti belikan makanan untuk Hwichan juga. Aku tidak mau nanti anakku kelaparan,”pesan Yoochan.
“Kau tenang saja, noona. Hwichan akan aman bersamaku,”ucap Sehyun percaya diri.
“Ya sudah, pokoknya kami percayakan Hwichan padamu untuk hari ini. Aku tidak mau jika aku pulang rumah dalam keadaan kacau,”ucap Yoochan.
“Ya! Jadi maksudmu aku juga harus membersihkan rumah?,”protes Sehyun, tetapi Yoochan tidak menggubrisnya dan berjalan keluar bersama Yoochun.
“Tskkk... Kurasa aku harus mengurung Hwichan agar dia tidak menghancurkan rumah,”gumam Sehyun lalu berjalan masuk ke kamar Hwichan.

“Hyung, es krim,”ucap Hwichan tepat pada saat anak itu membuka matanya.
“Ya! Kau ini! Baru bangun tidur langsung minta es krim. Di otakmu tidak ada hal lain kah?,”ucap Sehyun heran.
“Hyung...,”rengek Hwichan.
“Aishh! Baiklah. Baiklah. Tapi kau harus mandi dulu, Hwichan-a,”ucap Sehyun akhirnya. Sehyun berdiri dan Hwichan langsung turun dari tempat tidurnya, tetapi beberapa detik kemudian anak itu mengulurkan tangannya.
“Tskk.. Kau ini sudah 5 tahun, tapi tetap saja manja,”ucap Sehyun seraya menggendong Hwichan dan membawanya ke kamar mandi. Sehyun menurunkan Hwichan dan menyuruh anak itu menunggu di dekat pintu. Dia sendiri kini mengisi bak mandi dan mencampurkan air panas dan dingin. Saat dirasanya air sudah cukup hangat, dia lalu menghampiri Hwichan dan melepas pakaian anak itu. Sehyun langsung memasukkan Hwichan ke dalam bak dan membasuh tubuh anak itu. Hwichan sendiri kini tengah menyibukkan dirinya dengan tembak-tembakkan yang terus dia arahkan ke wajah Sehyun.
“Ya! Berhentilah menembakku. Badanku sudah basah!,”protes Sehyun seraya menyabuni Hwichan. Hwichan hanya tertawa dan tetap menembakkan pistol air itu ke wajah Sehyun. Sehyun pun akhirnya merampas mainan itu dan dengan segera membersihkan tubuh Hwichan lalu membopongnya ke luar.
“Kau tunggulah dengan tenang disini, aku mau mandi,”ucap Sehyun mendudukkan Hwichan di kasurnya dan kemudian mengunci pintu kamar lalu masuk ke kamar mandi. Hwichan memandang sekeliling kamar dan anak itu langsung tersenyum senang saat melihat ponsel Sehyun tergeletak di atas meja. Hwichan turun dari kasur dan mengambil ponsel itu. Dia lalu memencet-mencet tombol dengan asal sambil tertawa-tawa.

============================

“Dooorrrrrrr!!!!!!!!!!!,”teriak Seunghyun mengagetkan Yewon.
“Oppa!! Kau menyebalkan!,”ucap Yewon kesal tetapi Seunghyun hanya tertawa dan menarik kursi di depannya.
“Tskk... Jika lain kali kau melakukan itu lagi, aku akan langsung melemparmu dengan sepatuku!,”ancam Yewon.
“Hahaha... Aku hanya bercanda, jagya. Tapi baiklah,”ucap Seunghyun setuju.
“Mmmm... Apa kau mau nonton?,”tanya Seunghyun.
“Memang ada film yang bagus?,”Yewon balik bertanya.
“Tidak tau. Ayo kita lihat!,”ucap Seunghyun seraya berdiri dan megulurkan tangannya. Yewon pun menerima uluran tangan dari Seunghyun dan mereka berjalan menyusuri mall itu dengan bergandengan tangan.
“Oppa! Itu cocok sekali untukmu!,”ucap Yewon menunjuk tempat aksesoris.
“Apa?,”tanya Seunghyun bingung.
“Bando iblis itu,”jawab Yewon.
“Ya! Kau benar-benar menyebalkan,”ucap Seunghyun.
“Hahhaa.. Kita harus membeli itu untukmu,”ucap Yewon menarik tangan Seunghyun menuju toko itu. Yewon kemudian mengambil bando iblis itu dan memakaikannya di kepala Seunghyun. Seunghyun langsung menunjukkan beberapa pose dan ekspresi yang langsung membuat Yewon tertawa.
“Aigoo~~ Kekasihku cantik sekali,”puji Yewon dan Seunghyun langsung cemberut dan mengembalikan bando itu di tempat semula dan pergi melihat-lihat yang lain. Yewon mengambil kembali bando yang Seunghyun taruh dan membawanya.
“Ya! Kurasa bando yang itu cocok untukmu,”ucap Seunghyun menunjuk bando berbentuk telinga panda.
“Ya! Apa maksudmu?,”tanya Yewon kesal.
“Matamu sangat mirip dengan panda, jagi,”jawab Seunghyun asal dan langsung mendapatkan pukulan dari Yewon.
“Lupakan bando itu! Kau ambil bando ini,”ucap Yewon kembali menyodorkan bando iblis pada Seunghyun.
“Dan aku ini,”ucap Yewon seraya memakai bando malaikat dan menatap bayangannya di cermin.
“Ya! Itu tidak cocok untukmu! Kau seharusnya memakai bando iblis juga,”ucap Seunghyun seraya memasang bando iblis di kepalanya dan menatap pantulannya di cermin.
“Tskk... Kalau seperti ini bukan seperti pasangan,jagi,”ucap Seunghyun menatap pantulan wajah mereka di cermin.
“Kau ambil yang iblis juga!,”ucap Seunghyun. Yewon dengan kesal melepas bando malaikatnya dan mengambil bando iblis lalu memakainya.
“Nah, ini baru cocok,”ucap Seunghyun.
“Evil couple,”ucap Seunghyun.
“Oh? Keren,oppa. Baiklah, nama kita adalah Evil Couple. Hahahhaa,”ucap Yewon setuju.
“Ayo kita bayar!,”ucap Seunghyun menarik tangan Yewon menuju kasir.
“Seharusnya kita memakai kostum iblis juga, oppa,”ucap Yewon saat berjalan dari toko.
“Kau benar,”ucap Seunghyun setuju.
“Aku mau piyama couple. Adakah yang berbentuk iblis? Aku belum pernah melihatnya,”ucap Yewon.
“Aku juga belum pernah melihatnya. Kurasa memang tidak ada. Biasanya kan piyama-piyama seperti itu berbentuk hewan,”ucap Seunghyun.
“Ya sudah, lupakan saja untuk hal yang satu itu,”ucap Yewon akhirnya.

========================

Sehyun menuntun Hwichan menyusuri jalanan dan dengan sabar membiarkan Hwichan yang kini tengah digandengnya dan berjalan sambil melompat-lompat.
“Hwichan-a, berhentilah melompat-lompat. Kalau kau terus seperti itu, bisa-bisa kita sampai rumah tengah malam,”ucap Sehyun. Hwichan pun langsung berhenti dan berjalan dengan biasa.
“Hyung, es krim,”ucap Hwichan.
“Ya, aku sudah tau. Kau sudah beribu-ribu kali mengucapkannya. Kita harus membeli makanan dulu baru nanti membeli es krim. Kau mau apa, Hwichan-a?,”tanya Sehyun.
“Kimbab,”jawab Hwichan.
“Bulgogi saja,”ucap Sehyun lalu berjalan menuju restoran terdekat.
“Hyung, aku mau kimbab!!,”rengek Hwichan.
“Aish~~ baiklah, baiklah,”ucap Sehyun kesal.
“Aku pesan kimbab juga satu porsi,”ucap Sehyun pada penjual kimbab. Dia kemudian membayar dan menggendong Hwichan lalu keluar dari restoran itu.
“Es krim, hyung,”ucap Hwichan lagi.
“Bisa tidak kau berhenti mengucapkan kalimat itu?,”ucap Sehyun kesal.
“Es krim, hyung,”Hwichan dengan sengaja mengulang kalimatnya dan tersenyum saat Sehyun mendelik sebal padanya.
“Baiklah. Ayo kita beli es krim! Ingat! Kau hanya boleh mengambil dua,”ucap Sehyun akhirnya. Dia benar-benar hanya bisa pasrah jika Hwichan sudah meminta es krim. Dia tidak mau mengambil resiko jika tidak menuruti permintaan anak itu.

“Es krim, hyung!!!,”rengek Hwichan saat Sehyun mengeluarkan es krim dari plastik dan memasukkannya ke dalam kulkas.
“Nanti. Kau harus makan dulu,”ucap Sehyun tegas lalu membuka bungkusan kimbab dan memberikan Hwichan garpu.
“Tskk... sebaiknya kau makan dengan tangan saja. Ayo cuci tangan dulu!,”ucap Sehyun. Hwichan lalu turun dari kursi dan mengikuti Sehyun yang berjalan ke westafel. Sehyun kemudian mengangkat tubuh Hwichan dan membantu Hwichan mencuci tangannya. Mereka kemudian kembali ke meja makan dan menikmati makan malamnya.
“Hwichan-a, apa kau mau punya adik?,”tanya Sehyun.
“Tidak mau,”jawab Hwichan langsung dan tetap menikmati kimbab kesukaannya.
“Tskk...Malang sekali nasib Yoochun hyung, kalau begitu,”gumam Sehyun.
“Hyung, es krim,”ucap Hwichan. Sehyun menatap piring Hwichan dan melihat masih setengah porsi yang tersisa, tapi dia bisa memaklumi, karena tentunya kapasitas perut anak-anak dan orang dewas berbeda. Sehyun kemudian berjalan menuju kulkas dan mengambil sekotak es krim chocochip. Hwichan langsung tersenyum senang saat es krim itu sudah terhidang di hadapannya.
“Jangan kau habiskan semua! Nanti Chan noona bisa memarahiku,”pesan Sehyun. Hwichan tampaknya tidak peduli dan anak itu tetap menikmati es krimnya.
“Tskk.. Kau ini seperti memiliki dunia sendiri jika sudah bersama es krim,”decak Sehyun heran.

===========================

“Wonbin-a, aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu,”ucap Jonghoon pada Wonbin yang malam ini tiba-tiba saja datang ke rumahnya dan menceritakan rencanya.
“Kenapa? Apakah aku salah?,”tanya Wonbin.
“Tskkk... Jelas-jelas kau tau bahwa Yewon sudah punya kekasih, tetapi kau malah meminta permintaan seperti itu. Bagaimana jika nanti ada orang lain yang melihat dan salah paham, huh? Dan bagaimana jika Seunghyun yang melihatnya? Apakah kau mau hubungan mereka hancur?,”ucap Jonghoon tidak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya itu.
“Aku memang berharap hubungan mereka berakhir, tapi tentu saja aku akan menggunakan cara yang baik. Dan lagi pula, jika besok Seunghyun melihatnya pun, kurasa dia tidak akan cemburu. Bukankah aku sudah mengatakan padamu bahwa kami saling mengenal?,”jelas Wonbin.
“Ya, aku tau. Hanya saja... Jangan mencoba-coba begitu, Wonbin-a. Dengar, pada akhirnya kaulah yang akan menjadi pihak paling tersakiti. Resikomu sangat besar jika kau tetap bertahan untuk mencintai Yewon dan bahkan berusaha untuk memilikinya. Apakah kau tidak sadar bahwa peluangmu itu sangat kecil,huh?,”ucap Jonghoon.
“Aku tau. Tentu saja aku tau, hanya aja... Aku masih tetap berharap, Jonghoon-a. Setelah sekian lama memendam perasaan, rasanya lega sekali saat akhirnya aku bisa mengungkapkannya. Tapi aku yakin kau pasti mengerti, jika kita mencintai seseorang, bukankah kita ingin mendapatkannya? Dan aku akan berjuang untuk itu, Jonghoon-a,”jelas Wonbin. Jonghoon terdiam, mencoba mencerna perkataan Wonbin.
“Aku tau. Baiklah, aku akan terus mendukungmu, Wonbin-a. Tapi saranku tetap sama, mundurlah dengan teratur sebelum terlambat,”ucap Jonghoon.
“Hahaha... Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, tapi tekadku benar-benar sudah bulat dan aku tidak akan mundur,”ucap Wonbin.
“Terserah kau sajalah,”ucap Jonghoon akhirnya. Dia rasa dia sudah tidak bisa ikut campur. Jika Wonbin sudah bertekad begitu, sudah tidak akan mungkin bisa digoyahkan, jadi yang terbaik adalah... terus mensuport Wonbin. Ya, walaupun dia sendiri tidak merasa yakin bahwa sahabatnya itu akan bisa mendapatkan Yewon, merebut gadis itu dari tangan Seunghyun.

=======================TBC=====================



DON'T DARE TO PLAGIAT THIS FANFIC!!!


Please leave your comment if u appreciate me! ^^
credit: Yewonnie
Primadonnas' Island blog
[ Read More ]
Thursday, June 23, 2011

[FF/S/NC-17/11] CHERISH YOUR HEARTACHE

previous chapter: 1|2|3|4|5|6|7|8|9|10



TITLE: CHERISH YOUR HEARTACHE
GENRE: ROMANCE
LANGUAGE: BAHASA INDONESIA
RATING: NC-17/Straight
CASTS:
- Oh Won Bin
- Han Ye Won
- Song Seung Hyun


Yewon masuk ke kamar Seunghyun dan mendesah dengan kesal melihat Seunghyun yang tengah tidur dengan nyenyak. Dia menoleh menatap jam di meja belajar Seunghyun yang sudah menunjukkan pukul 5 sore dan seharusnya Seunghyun sudah bangun dan menyambutnya. Yewon menghampiri Seunghyun dan mengguncangkan bahu pria itu pelan.
“Seunghyun-a, bangunlah!,”ucap Yewon. Seunghyun bukannya membuka matanya tetapi dia justru malah menaikkan selimutnya hingga menutupi kepalanya dan berbaring menyamping. Yewon pun memutuskan untuk berlutut di depan Seunghyun dan kembali membangunkan pria itu.
“Kau mengagetkan saja!,”ucap Seunghyun terkejut saat dilihatnya wajah Yewon tepat berada di depan wajahnya.
“Cepatlah bangun! Bukankah malam ini kita akan merayakan hari ke-200 kita?,”ucap Yewon seraya membuka gorden kamar Seunghyun. Seunghyun duduk dan mengacak-ngacak rambutnya, terlihat sekali dia masih mengantuk.
“Apakah kau benar-benar baru bangun? Jangan katakan bahwa kau belum mandi!,”ucap Yewon menatap Seunghyun.
“Tskk... enak saja. Aku tadi pagi sudah bangun dan aku tidur lagi, badanku pegal sekali,”ucap Seunghyun seraya berdiri dan Yewon membelalakkan matanya saat dilihatnya bagian bawah Seunghyun hanya tertutup boxernya.
“Cepatlah mandi!,”ucap Yewon seraya mendorong badan Seunghyun dan memberikan handuk pada pria itu.

“Haruskah aku mengenakan tuxedo?,”tanya Seunghyun yang berjalan kearah Yewon sambil mengeringkan rambutnya.
“Untuk apa?,”tanya Yewon.
“Bukankah seharusnya kita merayakan dengan cara formal?,”tanya Seunghyun.
“Dan kau malah mengenakan pakaian itu. Seharusnya kau mengenakan dress, jagi,”ucap Seunghyun.
“Tidak. Aku tidak suka. Kita rayakan biasa saja. Sesuai dengan gaya kita. Aku benar-benar tidak suka jika harus merayakannya dengan cara formal seperti candle-light dinner dan sebagainya,”ucap Yewon seraya membolak-balik majalah di tangannya.
“Benarkah? Untung saja aku belum memesan tempat,”ucap Seunghyun heran dan Yewon langsung mendelik padanya.
“Jangan membuang-buang uang untuk hal yang tidak penting,”ucap Yewon.
“Aigoo~~ Kurasa aku tidak salah memilih kekasih,”ucap Seunghyun seraya mengusap pelan rambut Yewon.
“Ahh... apa kau tidak lapar?,”tanya Seunghyun.
“Kita makannya nanti malam saja. Dari pada sekarang makan dan nanti beli lagi,”tolak Yewon.
“Tapi aku benar-benar lapar,”ucap Seunghyun seraya mengusap perutnya.
“Aku masakkan ramyeon,”ucap Yewon yang langsung berdiri.
“Benarkah? Woah~~ Ini pertama kalinya kau memasak untukku, jagi,”ucap Seunghyun tidak percaya dan mengikuti Yewon ke dapur. Seunghyun langsung menahan tangan Yewon saat gadis itu hendak membuka kulkas.
“Biar aku yang ambilkan sayuran dan bahan-bahannya. Sebaiknya kau masak air dulu,”ucap Seunghyun. Walaupun Yewon merasa sedikit aneh, tapi pada akhirnya gadis itu menuruti Seunghyun dan menjauh dari kulkas dan mengambil panci lalu mengisinya dengan air. Dia juga mengambil 2 bungkus ramyeon yang ada di lemari atas. Seunghyun membuka kulkas dan mengambil 2 buah telur dan juga sawi. Dia tersenyum saat melihat cake yang memang sudah dibelinya siang tadi. Untung saja Yewon belum membuka kulkas, jika tadi dia tidak sempat mencegahnya mungkin kejutan yang sudah direncanakannya akan gagal. Yewon mengambil bahan-bahan yang disodorkan Seunghyun dan mencuci sawi. Seunghyun sendiri memasukkan ramyeon, telur dan juga bumbu ke dalam panci yang airnya sudah mendidih. Yewon memotong-motong sawi dan saat mie dan semua bahan-bahan hampir matang, dia memasukkan sawi itu.
“Ya! Nanti bisa-bisa mie nya akan sangan lembek,jagi,”protes Seunghyun.
“Kenapa? Ini kan sudah matang,”ucap Yewon seraya mengaduk pelan dan kemudian mematikan kompor.
“Ya! Memangnya sawinya sudah matang?,”protes Seunghyun mengikuti Yewon yang membawa panci ramyeon itu ke meja.
“Tentu saja. Lagi pula tidak boleh terlalu matang agar kandungan klorofil nya tidak hilang,”jawab Yewon.
“Ahh... Jadi begitu,”ucap Seunghyun paham dan mengambil sumpitnya.
“Kau mau makan dengan nasi kah?,”tanya Yewon.
“Tidak perlu,”jawab Seunghyun seraya mencicipi ramyeon itu.
“Enak,”pujinya. Yewon hanya tersenyum dan kemudian mengambil gelas lalu berjalan ke arah kulkas.
“Jangan buka kulkas, jagi! Minum ini saja,”ucap Seunghyun menunjuk botol yang ada di hadapannya.
“Kenapa?,”tanya Yewon heran.
“Sudahlah, turuti saja perkataanku,”jawab Seunghyun sambil tetap memakan ramyeonnya. Yewon pun akhirnya menurut saja dan tidak jadi membuka kulkas.
“Kupikir kau tidak bisa masak, ternyata bisa,”ucap Seunghyun.
“Tskk... Kalau hanya ramyeon tentu saja aku bisa. Kalau yang lain... jangan suruh aku mencobanya,”ucap Yewon lalu berjalan ke ruang tamu. Seunghyun menolehkan kepalanya dan mengikuti kemana Yewon pergi. Dia melihat Yewon mengambil sesuatu di sofa dan membawanya. Sebuah tas kardus kecil dengan sesuatu di dalamnya.
“Apa itu?,”tanya Seunghyun saat Yewon kembali.
“Nanti juga kau akan tau,”jawab Yewon tersenyum manis.
“Hadiah untukku kah?,”tanya Seunghyun.
“Mmm... Mungkin,”jawab Yewon misterius.
“Yasudah,”ucap Seunghyun tidak mau bertanya lagi dan menghabiskan makanannya.
“Kau yang cuci piring ya,”ucap Yewon.
“Baiklah,”jawab Seunghyun seraya membawa panci itu ke bak cuci piring dan mencucinya. Yewon hanya menatap punggung Seunghyun. Terkedang kekasihnya itu bisa sangat penurut, tetapi itu benar-benar jarang terjadi.

=============================

Wonbin dengan gusar berjalan mondar-mandir dengan ponsel di tangannya. Dia melihat jam tangannya dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Dia benar-benar khawatir jika ternyata Yewon tidak bisa menolak rayuan Seunghyun dan mereka...
“Aisshhh~~”umpat Wonbin kesal karena pikiran itu terus masuk ke otaknya dan membuat pikirannya kacau. Wonbin pun akhirnya memutuskan untuk menghubungi Yewon tetapi ternyata tidak ada jawaban.
“Aishhh~~ bagaimana jika saat ini mereka sedang... Aishhh~~ Tidak! Tidak! Tidak mungkin! Yewon pasti menepati janjinya,”ucap Wonbin semakin gusar.
“Huftt... Tenangkan dirimu, Wonbin-a. Yewon tidak mungkin melakukan itu. Ya, benar. Bayangkan saja jika sekarang mereka berdua sedang makan malam,”ucap Wonbin pada dirinya sendiri.
“Oh sial!!,”umpat Wonbin karena ternyata dia benar-benar kesal jika harus membayangkan bahwa saat ini Yewon tengah makan malam romantis dengan Seunghyun. Dia benar-benar tidak suka jika harus membayangkan bahwa Yewon tersenyum sangat manis pada Seunghyun dan akhirnya Seunghyun mengecupnya dengan lembut.
“Oh, Tuhan!! Bantu aku mengenyahkan pikiran-pikiran aneh ini!!,”ucap Wonbin frustasi. Wonbin sedikit terkejut saat ponselnya begetar. Dia buru-buru mengangkatnya saat melihat nama Yewon tertera disana.
“Yeoboseyo!,”jawab Wonbin.
“Oppa, ada apa?,”tanya Yewon.
“Tidak. Aku hanya...,”jawab Wonbin yang ntah mengapa menjadi kehilangan kata-kata.
“Kau tenang saja, oppa. Aku akan memegang janjiku,”ucap Yewon yang sudah tau apa maksud Wonbin.
“Aku mungkin nanti akan pulang jam 11. Bisakah kau menungguku di depan?,”tanya Yewon.
“Hmm... baiklah,”jawab Wonbin lalu memutus hubungan dua arah itu. Wonbin kini bisa bernapas lega dan duduk di sofa dengan tenang.
“Kurasa kekhawatiranku terlalu berlebihan,”ucapnya.

=======================

“Siapa?,”tanya Seunghyun dengan 2 bungkusan pizza di tangannya.
“Wonbin oppa,”jawab Yewon seraya mengambil salah satu pizza di tangan Seunghyun dan membukanya.
“Hoah~~ Harumnya enak sekali. Aku ingin cepat-cepat memakannya. Oppa, cepatlah!,”ucap Yewon pada Seunghyun yang sedang di dapur, mengambil piring, gelas dan sebotol wine.
“Tskkk... Kau tidak sabar sekali,”ucap Seunghyun yang akhirnya kembali.
“Jangan kau makan dulu!,”ucap Seunghyun saat Yewon sudah mengambil sepotong pizza.
“Kenapa?,”tanya Yewon bingung. Seunghyun tidak menjawab apa-apa dan menuju kulkas. Yewon langsung tersenyum saat melihat apa yang Seunghyun ambil. Sebuah cake cokelat besar dengan lilin angka 200 di atasnya.
“Oppa, itu terlihat seperti perayaan 200 tahun,”ucap Yewon tertawa pelan.
“Bukankah bagus? Berarti kita akan bersama selamanya, jagi,”ucap Seunghyun dan meletakkan kue itu. Dia kemudian menyalan lilinnya.
“Apakah kita perlu mematikan lampu?,”tanya Seunghyun.
“Tidak. Aku tidak suka gelap,”tolak Yewon.
“Tapi kurang berkesan jika terang begini. Sudahlah, aku matikan saja lampunya,”ucap Seunghyun lalu berjalan kea rah stop kontak dan mematikan lampu.
“Ok. Ayo kita tiup lilinnya!,”ucap Yewon semangat.
“Tidak! Itu tidak berkesan sama sekali. Bagaimana jika kita saling mengungkapkan perasaan terlebih dahulu?,”tanya Seunghyun.
“Yang benar saja! Ayolah langsung saja, oppa! Aku benar-benar lapar,”rajuk Yewon.
“Tidak. Kita harus melakukan itu dulu!,”ucap Seunghyun tegas.
“Mmm... apa yang harus aku ucapkan?,”tanya Yewon bingung.
“Terserah kau saja,”jawab Seunghyun. Yewon berpikir dan Seunghyun dengan sabar menunggunya seraya tersenyum menatap wajah Yewon.
“Mmm... Aku senang bisa punya kekasih untuk pertama kalinya. Dan itu adalah kau. Aku senang karena kau sangat perhatian dan juga manis, walaupun kau sangat porno,”ucap Yewon yang langsung membuat Seunghyun tertawa pelan.
“Mmm... Aku benar-benar senang selama 200 hari hubungan kita. Ah.. tidak! Aku benar-benar bahagia bisa bertemu denganmu. Walaupun pertemuan kita sangat aneh dan... mmm... sedikit tidak berkesan,”lanjut Yewon.
“Ahh... Oppa! Dan kurasa aku tidak bisa mewujudkan keinginanmu malam ini. Aku sedang datang bulan,”ucap Yewon menatap Seunghyun dengan perasaan bersalah.
“Tidak masalah,”jawab Seunghyun tersenyum.
“Apakah kau sudah selesai?,”tanya Seunghyun.
“Ya,”jawab Yewon.
“Tskkk... sedikit sekali,”ucap Seunghyun.
“Mmm... ucapanku ini akan lebih panjang dan aku mohon kau jangan menginterupsi,”pesan Seunghyun.
“Ok,”jawab Yewon paham.
“Dan kuharap kau juga tidak tertawa,”ucap Seunghyun lagi.
“Baiklah, aku mengerti,”ucap Yewon.
“Aku... jujur saja. Tidak pernah berpikir akan menjalin hubungan denganmu,”ucap Seunghyun menatap Yewon. Kemudian pria itu kembali menatap ke arah lain, sepertinya dia tidak bisa menatap Yewon terlalu lama saat ini.
“Saat pertemuan kita pun, aku tidak memiliki prasangka bahwa pada akhirnya kita akan bersama. Saat itu aku hanya melihatmu sebagai seorang gadis yang sedang menangis dan ntah kenapa, aku merasa bahwa aku harus melindungimu,”ucap Seunghyun.
“Saat itu... aku... mm... bisa dikatakan bahwa aku hanya beranggapan kau hanyalah gadis kecil, mm... seperti seorang adik bagiku. Hanya saja... ntah kenapa aku justru tidak bisa mengenyahkan bayangan wajahmu dari pikiranku,”ucap Seunghyun tertawa pelan.
“Dan saat itu, aku merasa sedikit aneh dengan diriku sendiri. Saat pertanyaan ‘apakah aku jatuh cinta padamu?’ tiba-tiba muncul dibenakku, itu membuatku sedikit aneh. Apakah aku benar-benar mencintaimu? Pertanyaan itu benar-benar terus berulang-ulang. Sampai akhirnya, aku mendapat jawaban bahwa aku memang mencintaimu,”
“Pada awalnya, aku bingung apakah aku harus mengungkapkannya atau tidak. Karena jujur saja, aku sama sekali tidak berpikir bahwa kau juga menyukaiku dan sedikit takut jika nantinya kau akan menolakku dan bahkan mungkin menjauhiku,”
“Dan... jika mengingat saat kita resmi berpacaran..membuatku selalu tersenyum,”ucap Seunghyun menatap Yewon dan melihat pipi gadis itu merona.
“Tskkk... tapi jika dipikir-pikir, aku ini seperti pria bejad saja. Dan kau benar, aku memang mesum. Dan itu pun yang sebenarnya menjadi kekhawatiranku. Hanya saja, sebagai seorang pria bukankah hal yang normal memiliki pikiran seperti itu? Dan... aku senang karena kau memakluminya dan aku pun minta maaf jika selalu menyentuhmu. Tapi jujur saja, aku menyentuhmu seperti itu untuk menunjukkan betapa aku sangat mencintaimu dan ingin memilikimu. Aku bukanlah pria yang bisa berkata-kata manis, maka dari itu aku menunjukkannya dengan tindakan.”
“Dan aku harap, kau tetap mau berada disisi pria sepertiku. Sesosok pria yang tidak mungkin menjadi idaman setiap wanita. Dan aku rasa, aku tidak akan bisa jika harus mencari gadis lain, karena gadis itu sudah ada di hadapanku. Aku tidak akan melihat gadis lain. Sungguh! Aku akan selalu setia padamu!,”ucap Seunghyun mengakhiri pernyataannya dan membuat Yewon terharu dan meneteskan air matanya. Seunghyun tersenyum dan mengusap pipi Yewon perlahan.
“Aku tidak menyangka kau bisa berkata-kata manis seperti itu,”ucap Yewon dan Seunghyun tertawa.
“Ayo kita tiap lilinnya!,”ucap Seunghyun.
“Untuk hubungan yang lebih baik dan—,”ucap Seunghyun menatap Yewon.
“Untuk kebersamaan yang tiada akhir,”lanjut Seunghyun lalu mereka berdua meniup lilinnya.
“Oppa, nyalakan lampunya,”perintah Yewon dan Seunghyun langsung berjalan untuk menyalakan lampu.
“Kurasa kita tidak akan mampu menghabiskannya,”ucap Seunghyun menatap 2 loyang pizza dan juga cake.
“Aku yang akan menghabiskannya,”ucap Yewon mencicipi cake cokelat di depannya.
“Hoah!! Enak sekali. Kau harus coba, oppa,”ucap Yewon seraya memberikan sesuap cake pada Seunghyun.
“Ayo kita pesta! Hoahh~~ perutku pasti akan kenyang sekali,”ucap Yewon mulai memakan pizza nya.
“Kuharap kau tidak menjadi gendut, Yewon-a,”ucap Seunghyun.
“Tenang saja. Jika berat badanku bertambah karena ini, aku akan diet,”jawab Yewon tetap memakan pizza nya. Seunghyun pun ikut makan dan makan malam ini terasa lebih menyenangkan dari pada malam-malam sebelumnya. Yewon membuatnya bahagia. Ya, dia tau itu.

==========================

“Annyeong haseyo, hyung!,”sapa Seunghyun malam itu saat mengantar Yewon pulang.
“Oh. Annyeong!,”balas Wonbin.
“Oppa, ini aku bawakan pizza untukmu,”ucap Yewon menyodorkan pizza ke arah Wonbin dan Wonbin menerimanya.
“Aku dan Seunghyun tidak sanggup menghabiskannya, jadi kami memutuskan untuk memberikannya padamu,”jelas Yewon.
“Jadi ini sisa?,”tanya Wonbin tidak percaya.
“Bukan begitu, hyung. Tadi kami membeli 2 loyang pizza dan kami hanya makan satu. Itu sama sekali belum kami sentuh,”jelas Seunghyun.
“Ahh.. jadi begitu,”ucap Wonbin paham.
“Kalau begitu, aku pulang dulu,”pamit Seunghyun.
“Hati-hati, oppa,”pesan Yewon dan Seunghyun tersenyum lalu masuk ke dalam mobilnya.

“Bagaimana perayaannya?,”tanya Wonbin dengan sepotong pizza di tangannya.
“Menyenangkan. Perutku benar-benar kenyang. Kurasa berat badanku naik drastis,”jawab Yewon seraya memegang perutnya.
“Memang kalian makan apa?,”tanya Wonbin tetap menikmati pizza di hadapannya.
“Kami makan pizza dan cake cokelat. Enak sekali, oppa,”jawab Yewon.
“Apa kau sudah memberikan cokelat buatanmu?,”tanya Wonbin dan Yewon langsung membelalakkan matanya.
“Omona!! Aku lupa, oppa!!,”pekik Yewon.
“Aishhh!! Cokelat itu aku letakkan di meja dapur. Seunghyun oppa pasti membukanya sekarang. hanya saja, benar-benar tidak berkesan jika aku tidak memberikannya langsung,”ucap Yewon dengan wajah tertekuk.
“Telepon dia saja!,”usul Wonbin.
“Telepon? Tidak. Biar saja. Kalau dia tidak memakan cokelat itu sekarang, biar tikus saja yang memakan cokelat itu,”ucap Yewon kecewa. Wonbin yang melihat raut wajah Yewon menjadi tidak nyaman.
“Aigoo~ kau jangan seperti anak kecil. Cepat hubungi dia dan suruh dia memakan cokelat itu,”ucap Wonbin.
“Sudahlah, biarkan saja,”ucap Yewon lalu berdiri dan berjalan dengan lunglai ke kamarnya.
“Tskkk... Anak itu benar-benar ceroboh,”ucap Wonbin heran.

===================TBC=================



Please give reaction and leave comment


credit: Yewonnie @Primadonnas' Island blog
[ Read More ]
Monday, June 20, 2011

[FF/S/NC-17/10] CHERISH YOUR HEARTACHE

previous chapter: 1|2|3|4|5|6|7|8|9



TITLE: CHERISH YOUR HEARTACHE
GENRE: ROMANCE
LANGUAGE: BAHASA INDONESIA
RATING: NC-17/Straight
CASTS:
- Oh Won Bin
- Han Ye Won
- Song Seung Hyun


Yewon masuk ke dalam rumah dengan senyum merekah di wajahnya. Dia menghampiri Wonbin di kamarnya dan memeluk pria itu dari belakang, membuat Wonbin langsung menoleh. Yewon kemudian duduk di sisi tempat tidur Wonbin dan tersenyum pada pria itu.
“Kau sepertinya senang sekali. Apa yang terjadi?”tanya Wonbin penasaran.
“Tadi Seunghyun oppa mengenalkanku dengan keluarganya. Mereka ramah sekali,”ucap Yewon dengan senyum mengembang.
“Mengenalkamu? Apakah itu tandanya dia serius denganmu dan ingin menikahimu?,”tanya Wonbin dengan nada yang terdengar kesal. Yewon langsung mencibir.
“Mana mungkin! Kami belum cukup umur untuk menikah,”ucap Yewon.
“Tentu saja kalian sudah cukup umur. Tapi jika dia benar-benar melamarmu, aku sebagai walimu tidak akan merestui,”ucap Wonbin tegas.
“Tskkk… Kau jahat sekali,”ucap Yewon mengerucutkan bibirnya.
“Ya! Mana mungkin aku membiarkan gadis yang kucintai menikah dengan pria lain? Enak saja,”ucap Wonbin dengan terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya dan akhirnya Yewon pun memutuskan untuk menghentikan pembicaraan itu.
“Oppa, apa kau sudah makan?,”tanya Yewon mengalihkan pembicaraan.
“Tentu saja. Aku sudah menyiapkan makan malam untukmu. Kau makanlah,”ucap Wonbin.
“Aku tadi sudah makan,”ucap Yewon dan Wonbin hanya menggumamkan “Oh..” dengan nada kecewa. Yewon kemudian beranjak dan pergi tapi tak lama kemudian gadis itu kembali dengan sepiring hidangan di tangannya.
“Ya! Bukankah kau mengatakan kau sudah makan? Biarkan saja makanan itu,”tanya Wonbin heran.
“Tidak. Aku tidak boleh menyianyiakan makanan, apalagi ini makanan buatanmu,”jawab Yewon seraya menyuapkan makanan itu.
“Tskk… Apa kau sedang berusaha merayuku, Yewon-a?,”tanya Wonbin dan Yewon menggeleng.
“Kalau kau tidak sanggup menghabiskannya, sudah saja,”pesan Wonbin yang dijawab dengan anggukan oleh Yewon.

“Aishh~ Jinja!!,”Wonbin berdecak kesal saat lampu tiba-tiba mati.
“Oppa!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!,”terdengar teriakan yang sangat keras dari kamar Yewon. Wonbin pun bergegas kesana, dia sudah tau pasti Yewon akan langsung berteriak jika berada dalam gelap.
“Oppa, kau kah itu?,”tanya Yewon saat terdengar pintu kamarnya terbuka.
“Ya, kenapa berteriak? Memang kau belum tidur?,”tanya Wonbin tetap berdiri di ambang pintu.
“Aku sudah tidur, tapi aku langsung bangun saat lampu mati,”jawab Yewon.
“Oppa, kemarilah. Aku benar-benar takut,”terdengar suara Yewon merajuk. Wonbin dengan perlahan berjalan mendekat dan kakinya langsung terantuk kaki tempat tidur Yewon dan dia mengaduh pelan.
“Oppa, kau kenapa?,”tanya Yewon tetap memegang erat selimutnya.
“Tidak apa-apa. Aku sudah disini. Kau tidurlah,”ucap Wonbin yang sudah duduk di ujung tempat tidur Yewon.
“Benarkah?,”tanya Yewon sangsi dan Wonbin langsung menyentuh kakinya sebagai tanda bahwa dia sudah disitu.
“Kau jangan pergi kemana-mana, oppa. Tetaplah disitu,”ucap Yewon.
“Ya, aku akan tetap disini. Cepatlah tidur,”jawab Wonbin. Yewon pun akhirnya berusaha memejamkan matanya dan dia benar-benar tidak bisa tidur. Dia sangat tidak suka gelap dan tentunya dia tidak bisa tidur dalam kegelapan seperti ini.
“Oppa, aku tidak bisa tidur,”rajuk Yewon.
“Pejamkan saja matamu,”ucap Wonbin dengan suara yang terdengar lelah.
“Apa kau mengantuk, oppa?,”tanya Yewon.
“Ya, maka dari itu cepatlah kau tidur agar aku bisa tidur,”jawab Wonbin. Yewon kemudian melepas selimutnya dan merangkak menghampiri Wonbin, membuat Wonbin sedikit kaget saat tangan Yewon menyentuh tangannya.
“Kau tidur denganku saja,”ucap Yewon dan Wonbin membelalakkan matanya walaupun dia tau Yewon tidak mungkin melihat ekspresinya saat ini.
“Tidak. Cepatlah tidur!,”tolak Wonbin.
“Tskk… Aku tidak mau kalau kau sampai tidak tidur karena aku. Sudahlah, cepat baringkan tubuhmu,”paksa Yewon sambil menarik lengan Wonbin. Wonbin kemudian naik dan membaringkan tubuhnya.
“Kau sudah tidurkah?,”tanya Yewon yang masih terduduk. Wonbin tidak menjawab tetapi langsung menarik Yewon dari belakang dan membuat Yewon berbaring.
“Oppa,”panggil Yewon.
“Hmmm,”jawab Wonbin.
“Sudah tidurkah?,”tanya Yewon.
“Demi Tuhan, Yewon-a. pejamkanlah matamu!,”ucap Wonbin kesal dan menarik Yewon mendekat padanya. Jantung Yewon berdetak cepat saat dia menyadari bahwa dada Wonbin tepat berada di hadapannya.
“Oppa, apa kau memelukku?,”tanya Yewon.
“Ya, memang kenapa? Kau tidak suka?,”tanya Wonbin dan langsung menjauhkan tangannya dari pinggang Yewon. Yewon tidak menjawab apa-apa dan lebih mendekatkan tubuhnya dan membaringkan kepalanya dengan nyaman di dada Wonbin. Wonbin sedikit mengangkat kepalanya dan menunduk melihat Yewon yang sudah memejamkan matanya.
“Sial!!,”umpat Wonbin mencoba menahan dirinya agar tidak melakukan hal yang aneh. Dia benar-benar tidak percaya bahwa tubuhnya akan memanas hanya dengan berdekatan dengan Yewon seperti ini. Wonbin pun berusaha menjauhkan tubuhnya, tetapi Yewon yang sudah terlelap justru semakin mendekat.
“Oh Tuhan, tolonglah aku!,”doa Wonbin. Wonbin mencoba memejamkan matanya dan berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran kotor dari otaknya, tetapi otaknya justru memberikan fantasi yang lebih parah saat dia memejamkan mata.
“Yewon-a,”panggil Wonbin dengan suara bergetar.
“Ngghh…,”erang Yewon. Dan Wonbin langsung mengepalkan tangannya saat mendengar erangan Yewon itu.
“Sial!! Aku tidak akan bisa tidur,”umpat Wonbin.
“Oppa, kenapa dengan jantungmu?,”Yewon tiba-tiba membuka matanya dan mendongakkan kepalanya menatap Wonbin.
“Itu karena kau, Yewon-a. cepatlah menyingkir atau aku akan menerkammu sekarang juga,”jawab Wonbin dan Yewon langsung terduduk.
“Maksud, oppa?,”tanya Yewon polos dan sebelum Wonbin sempat menjawab, lampu sudah kembali menyala.
“Aku kembali ke kamarku,”ucap Wonbin yang langsung turun dari kasur dan bergegas keluar dari kamar Yewon.
“Sial! Hampir saja. Terima kasih, Tuhan!,”ucap Wonbin seraya berjalan menuju kamarnya sendiri.

===========================

“Yewon-a, perayaan 200 hari jadi kita mau dirayakan dimana?,”tanya Seunghyun pada Yewon yang tengah membaca komik. Ntah kenapa Yewon sekarang jadi terbiasa membaca komik-komik yadong koleksi Seunghyun.
“Memangnya kapan?,”tanya Yewon membalikkan lembaran komik itu.
“Kamis besok,”jawab Seunghyun.
“Benarkah?,”tanya Yewon kaget dan langsung menutup komiknya.
“Memang kau tidak tau?,”tanya Seunghyun mengerutkan keningnya. Yewon hanya tersenyum dan kembali membuka komiknya.
“Tskk… Aku sudah tau kau tidak akan peduli dengan itu,”ucap Seunghyun.
“Lalu kita akan merayakannya bagaimana?,”tanya Seunghyun.
“Terserah kau saja,”jawab Yewon. Senyum Seunghyun langsung merekah dan kemudian mendekati Yewon.
“Boleh aku minta itu?,”tanya Seunghyun.
“Itu apa?,”tanya Yewon bingung.
“Ayolah… kau jangan pura-pura tidak mengerti,”ucap Seunghyun seraya menciumi tengkuk Yewon. Yewon menahan napasnya saat dia tau maksud dari ucapan Seunghyun.
“Bagaimana? Bolehkah?,”tanya Seunghyun menatap Yewon.
“Terserah kau saja,”jawab Yewon akhirnya.
“Assa!!!!!!!!!! Kau mau rasa apa?,”tanya Seunghyun senang.
“Ya!!!!!!! Jangan tanyakan hal yang seperti itu!! Menyebalkan!,”ucap Yewon yang langsung memukul lengan Seunghyun dengan komik di tangannya.
“Aku hanya ingin memastikannya saja,”ucap Seunghyun seraya menahan tangan Yewon agar tidak terus memukulnya.
“Aku tidak suka pisang,”ucap Yewon kembali membaca komiknya.
“Baiklah. Kalau begitu aku akan beli rasa yang lain. Kira-kira beli berapa ya?,”gumam Seunghyun seraya berpikir. Yewon mendelik kesal menatap Seunghyun yang pasti sedang berfantasi dengan pikiran-pikiran kotornya.

“Wonbin-a,kurasa sebaiknya kau relakan saja Yewon bersama Seunghyun,”ucap Jonghoon sambil menyesap kopinya.
“Tidak akan,”ucap Wonbin santai dan menyesap kopinya kemudian menatap langit.
“Mungkin aku memang egois, Jonghoon-a. Hanya saja, selama mereka belum menikah, aku akan terus mengejar Yewon,”ucap Wonbin.
“Apa kau tidak capek, huh? Hubungan mereka sudah berlangsung lama kan? Apa kau yakin tidak ada apapun yang telah terjadi di antara mereka?,”tanya Jonghoon dan Wonbin langsung menoleh.
“Ayolah, Wonbin-a! Aku yakin kau mengerti maksudku,”ucap Jonghoon saat melihat tatapan bertanya Wonbin.
“Aishhh~~ tidak. Tidak mungkin. Tidak mungkin Yewon mau melakukan itu,”ucap Wonbin dengan suara yang bergetar, menandakan bahwa sebenarnya diapun ragu dengan apa yang diucapkannya.
“Aisssh! Sudahlah, kau jangan membahas hal itu. Aku tidak mau memikirkannya,”ucap Wonbin kesal dan langsung pergi meninggalkan Jonghoon begitu saja.
“Tskkk... Orang itu aneh sekali,”ucap Jonghoon menatap punggung Wonbin yang kian menjauh.

===========================

“Oppa, bantu aku membuat cokelat,”ucap Yewon di hadapan Wonbin yang tengah menyandarkan punggungnya di sofa.
“Untuk apa? Bukankah kau sudah pernah berjanji untuk tidak akan menginjakkan kakimu di dapur dan menyentuh barang-barang disana?,”tanya Wonbin heran.
“Lusa adalah hari jadi ke-200 hubunganku dan Seunghyun. Jadi aku ingin membuatkan sesuatu yang special. Ayolah!!,”rajuk Yewon.
“Tidak. Aku tidak mau. Mana mungkin aku membiarkan pria lain menerima cokelat dari gadis pujaanku? Tidak. Jangan paksa aku!,”tolak Wonbin.
“Ayolah, oppa!,”bujuk Yewon.
“Tapi kau harus berjanji satu hal padaku,”ucap Wonbin beberapa saat kemudian dan Yewon langsung mengangguk setuju.
“Jangan melakukan sex dengan Seunghyun!,”ucap Wonbin.
“Apa?,”pekik Yewon kaget.
“Tskk... Aku tau pada akhirnya dia pasti akan meminta itu. Untuk itu aku peringatkanmu. Kau tidak boleh berhubungan badan dengannya. Tidak boleh sebelum kalian menikah,”ucap Wonbin tegas.
“Yang benar saja, oppa! Kau itu kolot sekali,”ucap Yewon kesal.
“Setuju tidak? Kalau kau tidak mau, ya sudah,”ucap Wonbin tetap pada pendiriannya.
“Tssskkk... baiklah, kau itu benar-benar menyebalkan,”ucap Yewon akhirnya dan Wonbin langsung tersenyum senang.
“Kkaja!,”Wonbin langsung berdiri dan mengajak Yewon ke dapur. Yewon memperhatikan dengan seksama semua instruksi Wonbin. Pria itu dengan sabar mengajarinya walaupun berkali-kali Yewon membuat kehancuran dan akhirnya terus mengulang.
“Yewon-a, ini bahan terakhir. Kalau kau sampai gagal juga, berarti tidak akan ada kesempatan lagi,”ucap Wonbin. Yewon mengangguk semangat dan dengan tekad yang kuat mulai membuat cokelat dengan lebih serius. Wonbin pun terus membantu Yewon hingga akhirnya cokelat itu jadi.
“Hoahh.. Akhirnya...,”ucap Yewon yang akhirnya bias bernapas lega. Kini mereka bersandar di meja dapur menunggu cokelat selesai dipanggang.
“Yewon-a, jujur padaku. Apa kau perah melakukan itu dengan Seunghyun?,”tanya Wonbin.
“Tidak. Rencananya kami akan melakukan itu lusa, tapi karena kau sudah melarangku, berarti tidak jadi,”jawab Yewon.
“Tapi... bagaimana aku mengatakannya pada Seunghyun?,”tanya Yewon.
“Katakan saja padanya jika kau sedang datang bulan,”jawab Wonbin santai.
“Itu mungkin berhasil, tapi bagaimana jika hari-hari selanjutnya dia meminta?,”tanya Yewon lagi dan Wonbin memutar bola matanya.
“Katakan padanya aku melarangmu!,”ucap Wonbin tegas dan Yewon langsung mengerucutkan bibirnya.
“Atau jangan-jangan... Kau menginginkannya,huh?,”tanya Wonbin penuh selidik. Muka Yewon langsung bersemu dan dia langsung memalingkan wajahnya.
“Ah... Kurasa cokelatnya sudah matang,”ucap Yewon mengalihkan pembicaraan. Dia benar-benar berterima kasih pada cokelat yang telah matang pada waktunya dan membantunya menghindari untuk menjawab pertanyaan Wonbin itu.

=================TBC===============


Please give reaction and leave comment

Read chapter 11

CREDIT to Yewonnie @Primadonnas' Island blog
[ Read More ]
Wednesday, June 15, 2011

[FF/S/NC-17/9] CHERISH YOUR HEARTACHE

previous chapter: 1|2|3|4|5|6|7|8



TITLE: CHERISH YOUR HEARTACHE
GENRE: ROMANCE
LANGUAGE: BAHASA INDONESIA
RATING: NC-17/Straight
CASTS:
- Oh Won Bin
- Han Ye Won
- Song Seung Hyun


“Oppa, kau kapan pulang?,”tanya Yewon dengan nada merajuk. Wonbin yang mendengarnya dari seberang telepon langsung mengetahui bahwa mood Yewon sekarang pasti sedang buruk.
“Aku pulang seperti biasa,kenapa?,”jawab Wonbin.
“Pulang sekarang…,”ucap Yewon dengan nada merajuk dan bisa dibilang hampir menangis.
“Apakah ada hal buruk terjadi?,”tanya Wonbin dan Yewon terdiam. Gadis itu tidak berkata-kata cukup lama.
“Aku menghancurkan dapur,”jawab Yewon dan Wonbin langsung memekik kaget mendengarnya.

Satu jam kemudian Wonbin datang dan langsung berjalan ke dapur dengan terburu-buru. Dia tidak bisa mempercayai pandangannya. Dapur di depannya benar-benar sudah tidak berbentuk. Dapur itu terlihat kotor dan banyak bekas asap. Dia melihat Yewon yang sedang berjongkok dan langsung menoleh padanya dengan wajah memelas.
“Maafkan aku,oppa,”ucap Yewon. Yewon menghela napasnya dan menghampiri Yewon, menarik tangan gadis itu agar bangun dan dia benar-benar kaget saat dilihatnya lantai penuh bercak darah. Dia langsung melihat tangan Yewon dan melihat beberapa irisan di jari-jarinya.
“Ya! Kau ini kenapa,huh?,”tanya Wonbin yang dengan susah payah melangkahi bahan-bahan makanan yang sudah hancur dan berserakan di lantai. Dia membawa Yewon ke kamar mandi dan membasuh tangan gadis itu.
“Bagaimana kalau nanti kau anemia? Berapa liter darah yang kau keluarkan,huh?,”tanya Wonbin seraya mencuci bersih tangan Yewon.
“Kau berlebihan sekali,”ucap Yewon.
“Tapi apa tidak sakit?,”tanya Wonbin menolehkan kepalanya.
“Tentu saja sakit, tapi satu jam yang lalu. Sekarang sudah tidak begitu sakit,”jawab Yewon.
“Kau ini benar-benar aneh. Kenapa tiba-tiba masuk dapur dan memasak? Tapi kurasa itu tidak termasuk memasak. Kau benar-benar sudah menghancurkan dapur. Bagaimana cara membersihkanny?,”tanya Wonbin heran. Yewon hanya cemberut menatapnya.
“Aku hanya ingin mencoba saja. Dan ternyata dapur memang benar-benar tidak cocok untukku. Sudahlah, aku tidak akan masuk ke dapur lagi,”ucap Yewon lalu pergi meninggalkan Wonbin. Wonbin ikut keluar dan dilihatnya Yewon masuk ke kamarnya.
“Ya! Seharusnya kau bereskan dapur ini dulu!,”teriak Wonbin tetapi tidak digubris oleh Yewon dan dia menutup pintu kamarnya.
“Tskk… Anak itu benar-benar menyebalkan,”gerutu Wonbin. Dia kemudian menatap dapur yang benar-benar sudah kacau dan menghela napasnya. Dia kemudian melepas jasnya dan menggulung lengan kemejanya lalu mulai merapikan dapur yang sudah benar-benar hancur itu.
“Kurasa aku harus menghabiskan sepanjang malam untuk membereskan ini,”ucap Wonbin.

=========================

Yewon yang merasa kelaparan pun akhirnya keluar dan melihat Wonbin masih membereskan dapur. Dapur sudah terlihat bersih, hanya beberapa kotoran yang tertinggal.
“Oppa,”panggil Yewon dan Wonbin langsung menoleh. Kemeja pria itu terlihat basah dan peluh mengucur di keningnya membuat Yewon langsung tertawa melihatnya.
“Penampilanmu benar-benar kacau,oppa,”ucap Yewon setelah berhasil menghentikan tawanya. Wonbin melempar lap di tangannya dan menghampiri Yewon dengan berkacak pinggang.
“Ya! Ini semua karena kau!,”ucap Wonbin berpura-pura marah.
“Sudahlah, mandi sana! Oppa harus membuatkanku makan malam. Aku benar-benar lapar,”ucap Yewon seraya menyerahkan jas yang tersampir di kursi. Wonbin pun menerimanya dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi.

“Yewon-a,aku ingin melakukan sesuatu,”ucap Wonbin yang sedang duduk menatap tv. Yewon yang sudah berdiri dan hendak berjalan ke kamarnya pun akhirnya membalik badannya.
“Melakukan apa?,”tanya Yewon bingung. Wonbin langsung berdiri dan menatap Yewon. Wonbin tidak mengatakan apa-apa dan langsung mencium Yewon. Membuat Yewon langsung membelalakkan matanya.
“Oppa,”ucap Yewon di tengah ciuman itu. Yewon berusaha mendorong tubuh Wonbin karena dia tau ini adalah perbuatan yang salah. Dia sudah mempunyai kekasih dan tidak seharusnya dia mencium pria lain.
“Oppa, apa yang kau lakukan?,”ucap Yewon marah saat akhirnya berhasil mendorong tubuh Wonbin menjauh.
“Kenapa? Apa aku salah,huh?,”tanya Wonbin.
“Tentu saja kau salah. Kau mencium kekasih pria lain. Kau mencium adikmu sendiri,”ucap Yewon kesal. Wonbin mengepalkan tangannya dan memejamkan matanya, berusaha mengatur emosinya.
“Yewon-a, kuhomon jangan mengatakan hal itu. Bukankah aku pernah mengatakan padamu untuk tidak mengungkitnya? Kita bukan kakak beradik,”ucap Wonbin menatap Yewon, tetapi Yewon tetap memberikan tatapan tajamnya. Wonbin mendekat dan Yewon beringsut menjauh.
“Aku mohon kau jangan seperti ini. Aku benar-benar sudah tidak bisa menahan diriku. Memang kau pikir mudah menahan diri untuk tidak menyentuhmu,huh? Aku tersiksa, Yewon-a. tapi apa yang aku dapat? Saat aku menciummu, kau justru mendorong tubuhku,”ucap Wonbin dengan tatapan sedih.
“Sudahlah, kau cepatlah tidur,”ucap Wonbin mengusap pelan rambut Yewon lalu berjalan ke kamarnya.

Tengah malam Yewon berjalan ke kamar Wonbin dan dilihatnya pria itu sudah tidur. Dia menghampiri Wonbin dan duduk di sampingnya. Dia sudah memikirkan perkataan Wonbin tadi dan dia merasa bersalah, jadi dia pun memutuskan untuk meminta maaf.
“Oppa,”panggil Yewon mengguncang pelan bahu Wonbin. Wonbin tidak bergerak sama sekali.
“Oppa,”Yewon terus mengguncang bahu pria itu, tetapi tetap tidak ada reaksi.
“Oppa, kau tidak mati kan?,”tanya Yewon karena Wonbin sama sekali tidak bergerak. Dia pun memutuskan untuk berdiri dan menarik tangan Wonbin. Dengan sekuat tenaga dia menarik tangan Wonbin hingga terduduk. Wonbin pun mengerjapkan matanya dan mengacak-acak rambutnya.
“Ada apa?,”tanya Wonbin kemudian. Yewon tidak langsung menjawab karena dia harus mengatur napasnya yang memburu terlebih dahulu. Yewon pun kemudian duduk di hadapan Wonbin.
“Aku minta maaf,”ucap Yewon. Wonbin hanya mengangguk dan kembali merebahkan tubuhnya lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
“Tskk.. Apakah dia benar-benar mendengarku?,”gumam Yewon menatap Wonbin yang sudah kembali terlelap. Yewon pun akhirnya memutuskan untuk pergi. Dia tidak peduli Wonbin mendengarnya atau tidak, yang penting dia sudah mengatakannya dan melihat Wonbin menganggukkan kepalanya.

===================================

Seunghyun langsung menyambut Yewon dengan pelukannya saat Yewon di hadapannya. Seunghyun dengan penuh kasih sayang mengusap rambut ke kekasihnya itu.
“Kau mau mengajakku kemana,oppa?,”tanya Yewon lalu duduk di hadapan Seunghyun.
“Aku ingin mempertemukanmu dengan adikku,”jawab Seunghyun.
“Adik? Siapa? Memang kau punya adik?,”tanya Yewon.
“Iya, aku punya adik. Dia tinggal dengan sepupuku, tapi dia mengatakan hari ini akan datang jadi aku mengajaknya bertemu di café ini saja, sekalian mempertemukan kalian,”jelas Seunghyun.
“Lalu setelah aku bertemu dengannya kita mau kemana? Tetap disini?,”tanya Yewon.
“Tidak. Kita akan ke Daegu. Ke rumah sepupuku,”jawab Seunghyun.
“Untuk apa mengajakku kesana? Aku pasti akan merasa canggung,”ucap Yewon.
“Kau tenang saja. Seluruh keluargaku itu ramah dan menyenangkan,”ucap Seunghyun.
“Kuharap mereka semua tidak separah kau,”ucap Yewon asal dan Seunghyun tertawa.
“Tenang saja. Mereka lebih waras dariku,”ucap Seunghyun.
“Oh? Itu dia,”ucap Seunghyun beberapa saat kemudian dan mengangkat tangannya. Yewon menoleh dan melihat seorang pria tinggi dan tampan berjalan ke arah mereka. Pria itu benar-benar mirip dengan Seunghyun.
“Annyeong,hyung!,”ucap pria itu saat sudah tiba di meja mereka dan berpelukan dengan Seunghyun.
“Kenalkan kekasihku!,”ucap Seunghyun.
“Annyeong haseyo! Song Se Hyun imnida!,”ucap Sehyun memperkenalkan dirinya. Yewon pun memperkenalkan dirinya dan Sehyun pun akhirnya duduk di samping Seunghyun.
“Apakah dia noona?,”tanya Sehyun pada Seunghyun.
“Tidak. Dia seumuran denganmu,”jawab Seunghyun.
“Benarkah? Baiklah, kalau begitu aku tidak akan berbicara dengan bahasa formal,”ucap Sehyun.
“Hyung, aku lapar,”ucap Sehyun.
“Tskk… pesan saja sendiri,”ucap Seunghyun.
“Aigoo~~ Kau benar-benar menyebalkan,”ucap Sehyun beranjak berdiri.
“Jjangjjangmyun, Sehyun-a,”ucap Seunghyun.
“Kau mau pesan apa, Yewon-ssi?,”tanya Sehyun.
“Bukankah aku sudah mengatakan jjangjjangmyun?,”ucap Seunghyun.
“Tapi aku bertanya pada Yewon!,”ucap Sehyun bersikeras.
“Itu pesanan kami, bodoh! Sudah cepat sana pergi!,”ucap Seunghyun dan Sehyun pergi dari sana sambil menggerutu.
“Kenapa begitu pada adik sendiri?,”tanya Yewon.
“Kenapa? Kami memang biasa seperti itu. Itulah keakraban kami,”ucap Seunghyun.
“Benar-benar aneh. Kalian justru terlihat tidak akur,”ucap Yewon heran.
“Haha… aneh kah? Yahh… Harap maklum saja, jagi,”ucap Seunghyun.

“Aku pulang!!!!!!!!,”Sehyun langsung berteriak saat memasuki rumah sepupunya. Seunghyun dan Yewon yang mengikutinya di belakang hanya bisa tertawa.
“Ya! Kau tidak sopan sekali, Sehyun-a,”ucap seorang wanita yang baru datang dari dapur.
“Hehehe… Biar saja,”ucap Sehyun.
“Seunghyun-a, kau datang juga. Dan… Siapa gadis itu?,”tanya wanita itu.
“Dia kekasihku,”jawab Seunghyun.
“Annyeong haseyo! Yewon imnida,”ucap Yewon memperkenalkan diri.
“Yoochan imnida. Wahh… Akhirnya Seunghyun membawa seorang wanita,”ucap Yoochan ramah.
“Duduklah, aku akan mengambilkan minuman,”ucap Yoochan.
“Anak nakal itu mana, noona?,”tanya Sehyun.
“Di taman belakang dengan Yoochun,”jawab Yoochan dari dapur.
“Aku pergi dulu ya. Kalian nikmati saja waktu berdua,”ucap Sehyun mengerling jahil.

Setelah mengobrol cukup lama dengan Yoochan, Sehyun datang dengan seorang anak laki-laki di gendongannya. Seluruh tubuh anak itu basah kuyup dan Yoochan langsung menjitak Sehyun.
“Ya! Apa kau mengajaknya bermain air lagi?,”tanya Yoochan lalu mengambil anak itu dari gendongan Sehyun.
“Iya,”jawab Sehyun santai.
“Tskkk… Kau benar-benar menyebalkan,”ucap Yoochan.
“Aku permisi dulu ya. Aku harus mendandani Hwichan dulu,”ucap Yoochan lalu pergi.
“Ya! Basah, Sehyun-a!,”ucap Seunghyun saat Sehyun duduk di sofa.
“Biar saja,”jawab Sehyun tidak peduli.
“Kau ini sepertinya benar-benar sudah kebal dimarahi Chan noona,”ucap Seunghyun.
“Yewon-a, ayo kita pergi ke tempat lain. Kita harus menghindar dari pengganggu ini,”ucap Seunghyun lalu beranjak dan menarik tangan Yewon.
“Bilang saja kau ingin berduaan saja dengannya,”gumam Sehyun saat melihat Seunghyun dan Yewon menaiki tangga.

===============TBC==============


Please give reaction and leave comment


Read Chapter 10
CREDIT to Yewonnie @Primadonnas' Island blog
[ Read More ]
Monday, June 13, 2011

[FF/S/NC-17/8] CHERISH YOUR HEARTACHE

previous chapter: 1|2|3|4|5|6|7



TITLE: CHERISH YOUR HEARTACHE
GENRE: ROMANCE
LANGUAGE: BAHASA INDONESIA
RATING: NC-17/Straight
CASTS:
- Oh Won Bin
- Han Ye Won
- Song Seung Hyun


“Aku minta maaf,”ucap Wonbin dan Yewon sedikit terkejut. Dia padahal sudah berusaha meyakinkan dirinya bahwa yang Wonbin ucapkan tadi hanyalah ilusinya, tapi kenapa tiba-tiba pria itu meminta maaf?
“Oppa, kenapa meminta maaf? Memang kau salah apa?,”tanya Yewon dan Wonbin menghela napasnya.
“Karena tadi aku sudah bersikap kasar padamu, aku sudah membuatmu takut,”jawab Wonbin dan setelah ucapan itu keheningan menyelimuti kamar Yewon. Yewon menunduk menatap bantal yang ada di pangkuannya, menghindari tatapan Wonbin yang kini menatapnya.
“Aku tau yang aku katakan tadi memang terdengar gila, tapi itulah kenyataanya,”ucap Wonbin dan Yewon menatapnya, membalas tatapan lembut dan sungguh-sungguh yang pria itu berikan padanya.
“Sebenarnya aku berniat untuk menutupi hal itu seumur hidupku, tapi ternyata aku tidak bisa. Aku berkali-kali meyakinkan diriku bahwa itu bukanlah perasaan cinta. Bahwa perasaan itu hanyalah perasaan biasa seorang kakak terhadap adik, tapi ternyata tidak. Semakin aku menepis perasaan itu, justru semakin kuat perasaan itu tertanam disini,”ucap Wonbin menyentuh jantungnya.
“Aku tau kau pasti merasa kaget. Kau pasti tidak pernah menyangka bahwa aku memiliki perasaan seperti itu padamu. Tapi aku ingin kau paham, Yewon-a. perasaanku padamu tidaklah terlarang. Kita bukanlah saudara kandung, dan tidak ada yang bisa menghalangi perasaan ini,”jelas Wonbin.
“Aku mengerti, bahwa ini terdengar bodoh, apalagi aku mengungkapkannya saat aku tau kau sudah mempunyai kekasih. Tapi jujur saja, Yewon-a. aku benar-benar cemburu tiap kali kau menyebut nama Seunghyun. Apalagi hari ini kau membawanya kesini. Benar-benar sulit menahan diri untuk tidak langsung menghajarnya saat melihat dia menyentuhmu,”ucap Wonbin lagi kemudian tersenyum samar dan berdiri.
“Kau tidak usah memusingkannya. Tenang saja,”ucap Wonbin lalu pergi. Yewon hanya terdiam, bagaimana mungkin dia tidak memikirkan semua itu? Bagaimana mungkin dia mengindahkan perasaan yang Wonbin pendam untuknya selama ini?
“Apa yang harus aku lakukan?,”gumam Yewon.

==============================

“Jagya, kau kenapa?,”rajuk Seunghyun karena untuk kesekian kalinya Yewon menghindari pelukannya.
“Aku kenapa?,”Yewon balik bertanya, menoleh menatap Seunghyun dan dilihatnya Seunghyun dengan wajah tertekuk.
“Kau kenapa jadi seperti ini? Kau tau? Beberapa hari belakangan ini sikapmu aneh. Tiap kali aku menyentuhmu, kau pasti akan langsung menarik diri. Ada apa? Apakah ada yang salah denganku,huh? Atau kau tidak suka dengan sikapku? Katakan, jagi! Jangan seperti itu,”ucap Seunghyun. Yewon terdiam. Dia sendiri tidak tau kenapa jadi seperti ini. Dan jujur saja, sejak ‘pernyataan’ cinta Wonbin tempo hari, ntah kenapa tiap kali Seunghyun menyentuhnya, wajah Wonbin pasti akan langsung terlintas. Padahal jika dipikir-pikir, Wonbin tidak melarangnya untuk bermesraan dengan Seunghyun. Dia hanya mengatakan untuk tidak melakukan hal itu di depannya dan ini di apartemen Seunghyun, jadi tentu saja jika dia bermesraan dengan Seunghyun pun Wonbin tak akan melihatnya. Selagi Yewon berpikir, ternyata Seunghyun mengambil kesempatan itu untuk mencumbu Yewon. Pria itu menyingkirkan helaian rambut Yewon dan menciumi tengkuk gadis itu. Tangan Seunghyun pun melingkar dengan sempurna di pinggang Yewon dan bahkan kini menyusup ke dalam kaosnya. Otak Yewon mengatakan untuk menghentikan ini, tetapi tubuhnya tidak bereaksi apa-apa. Dia justru mendongakkan kepalanya, memberikan akses yang lebih mudah pada Seunghyun untuk menyusuri lehernya. Napas pria itu terdengar memburu dan menyapu tengkuk Yewon dan dia bisa merasakan bahwa gairah Seunghyun terus naik dan naik. Dia tau tanda bahaya sudah berbunyi di otaknya, tapi tubuhnya benar-benar tidak bisa menerima perintah otaknya itu. Tangannya kini memegang rambut Seunghyun dan meremasnya dan ternyata itu membuat Seunghyun semakin bernapsu dan kini mengalihkan bibirnya dari leher Yewon ke bibir gadis itu. Yewon dengan sudah payah membalas ciuman Seunghyun yang tidak beraturan. Dia tidak bisa mengikuti ritme yang diciptakan Seunghyun, hingga akhirnya dia hanya sesekali membalas kecupan pria itu. Tangan Yewon langsung menahan tangan Seunghyun di dalam kaosnya saat pria itu hendak menaikkan tangannya semakin ke atas. Seunghyun pun akhirnya pasrah saja menerimanya, dia sadar mungkin Yewon belum siap melakukan ini, tapi bukannya berhenti, Seunghyun justru semakin menjadi menyentuh titik-titik sensitif gadis itu dengan tangannya. Dia dengan sengaja menyusuri tubuh Yewon dengan perlahan dari luar, mencoba membangkitkan gairah gadis itu, sehingga pada akhirnya Yewon akan pasrah di dalam pelukannya. Yewon hampir saja benar-benar terlena dan berpasrah diri pada Seunghyun jika saja wajah Wonbin tidak tiba-tiba terlintas di benaknya. Diapun mendorong bahu Seunghyun dengan perlahan, sebagai isyarat agar pria itu menjauh. Seunghyun pun menjauhkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Napasnya terdengar memburu dan Yewon tau bahwa Seunghyun sedang berusaha meredakan napsunya yang belum sepenuhnya tersalurkan.
“Maaf,”ucap Yewon dan Seunghyun membuka matanya.
“Kenapa?,”tanya Seunghyun heran tetapi Yewon tidak menjawab dan wajah gadis itu terlihat bersemu. Seunghyun tersenyum dan membelai pipi Yewon perlahan.
“Tidak masalah. Kita bisa melakukannya perlahan,”ucap Seunghyun dengan senyum manis tersungging di bibirnya.

=====================================

Yewon duduk di ruang tv dan Wonbin pun berada disana, cukup jauh dari tempatnya duduk. Wonbin menyipitkan matanya saat menatap Yewon. Dia langsung menghampiri Yewon dan duduk di samping gadis itu. Dia menahan tangan Yewon yang saat itu terjulur untuk mengambil popcorn.
“Ada apa?,”tanya Yewon menoleh bingung.
“Apa kau habis bercinta dengan Seunghyun?,”tanya Wonbin langsung dan Yewon membulatkan matanya.
“Apa?,”tanya Yewon kaget. Wonbin menyibakkan rambut Yewon dan mengepalkan tangannya kesal saat dilihatnya beberapa kissmark disana.
“Ini apa?,”tanya Wonbin menunjuk kissmark itu. Yewon buru-buru menepis tangan Wonbin dan merapikan rambutnya.
“Ya! Jawab aku! Apakah kau habis melakukan itu,huh?,”tanya Wonbin menuntut.
“Tidak,”jawab Yewon tidak peduli dan memakan popcorn nya.
“Lalu itu apa?,”tanya Wonbin berusaha mengontrol suaranya agar tidak terdengar kesal. Yewon menoleh dengan kesal menatap Wonbin.
“Itu bukan urusanmu, oppa! Haruskah aku melaporkan semua hal yang aku dan Seunghyun lakukan padamu,huh?,”tanya Yewon kesal.
“Bukankah tadi aku sudah menjawab pertanyaanmu? Seharusnya itu cukup,”ucap Yewon benar-benar kesal.
“Apakah semudah itu dia menyentuhmu,huh?,”tanya Wonbin kemudian.
“Memangnya kenapa? Dia kekasihku. Apa aku salah?,”jawab Yewon sama kesalnya.
“Baiklah, terserah kau saja,”ucap Wonbin memutuskan untuk menyudahi perdebatan itu. Dia tau Yewon sudah terpancing emosinya dan dia tidak ingin emosi gadis itu meledak. Yewon pun akhirnya kembali menonton dan memakan popcorn nya dengan kesal. Wonbin yang di sebelahnya menoleh menatap Yewon.
“Maafkan aku!,”ucap Wonbin seraya mengambil popcorn yang ada di pangkuan Yewon. Yewon mendelik sebal padanya.
“Lain kali jangan seperti itu! Kau benar-benar menyebalkan,”ucap Yewon.
“Pria pencemburu,”cibir Yewon yang masih bisa didengar Wonbin.
“Ya! Tentu saja aku cemburu. Mana mungkin tidak?,”ucap Wonbin kesal tapi begitu Yewon menoleh dengan tatapan membunuh, Wonbin langsung membungkam mulutnya.
“Seandainya saja aku bisa leluasa menyentuhmu,”gumam Wonbin dan Yewon langsung menoleh.
“Apa?,”tanya Yewon dan Wonbin langsung memalingkan wajahnya. Semua terasa berbeda semenjak hari ‘pengakuan’ itu dan semua menjadi semakin sulit, terutama untuk Wonbin. Benar-benar sulit baginya untuk tetap tinggal berdua bersama Yewon tanpa pikiran kotor berkeliaran di benaknya. Otaknya menjadi sekacau itu karena ucapan Jonghoon tempo hari,”Pasti sulit menahan hormonmu jika tinggal satu atap dengan wanita yang kau cintai. Aku saja jadi semakin rutin bercinta dengan Yunmi.” Wonbin langsung merasakan wajahnya memanas saat dia kembali teringat ucapan itu. Wonbin pun buru-buru pergi sebelum dia lepas kendali dan menerkam Yewon saat itu juga. Yewon hanya menoleh bingung menatap kepergian Wonbin.
“Apakah dia marah?,”gumam Yewon.

===================================

Yunmi menatap Yewon yang kini duduk di hadapannya, memakan makan siangnya.
“Kenapa terus menatapku, Yunmi-a?,”tanya Yewon.
“Apa tidak ada suatu hal yang ingin kau ceritakan padaku?,”Yunmi balas bertanya.
“Apa?,”tanya Yewon bingung.
“Tskk… Jangan pura-pura bodoh, Yewon-a. aku sudah tau,”ucap Yunmi kesal.
“Aku sudah tau bahwa Wonbin oppa menyatakan cintanya padamu,”ucap Yunmi kemudian dan langsung membuat Yewon tersedak. Yunmi menyodorkan segelas air putih pada Yewon.
“Ya! Dari mana kau tau?,”tanya Yewon setelah meminum air itu.
“Tentu saja dari Jonghoon oppa,”jawab Yunmi.
“Jadi Wonbin oppa mengatakannya pada Jonghoon oppa?,”tanya Yewon kaget.
“Tentu saja. Mereka kan bersahabat baik. Dan aku benar-benar iri. Kau yang sahabatku malah tidak menceritakannya,”ucap Yunmi kesal.
“Ya! Memang kau pikir itu hal yang bagus untuk diceritakan,huh?,”tanya Yewon heran.
“Memang apa salahnya dengan hal itu?,”Yunmi balas bertanya.
“Ya! Kalau aku boleh menasihatimu. Kau boleh berhubungan dengan Wonbin oppa, kau bahkan boleh bercinta dengannya,”ucap Yunmi yang langsung mendapat jitakan di kepalanya.
“Ya! Aku belum selesai bicara!,”protes Yunmi.
“Ucapanmu sudah melantur, Yunmi-a,”ucap Yewon.
“Tskk.. dengar, pokoknya kau boleh melakukan hal itu karena secara biologis kalian tidak ada hubungan darah, jadi kau tenang saja. Jika nanti kau hamil anaknya Wonbin oppa, anakmu tidak akan cacat karena masalah gen,”ucap Yunmi lagi dan Yewon langsung menunduk, melanjutkan acara makannya. Dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran Yunmi yang semakin hari semakin kotor.
“Atau… kau sudah pernah bercinta dengan Seunghyun?,”tanya Yunmi kemudian dan untungnya Yewon sudah menelan makanan di mulutnya jadi gadis itu tidak tersedak untuk kedua kalinya.
“Pasti belum,”ucap Yunmi menyimpulkan.
“Ternyata kau masih perawan, Yewon-a,”ucap Yunmi senang yang berlebihan.
“Ya! Kau harus memberikan itu pada pria terbaik. Jangan asal menyerahkannya. Dan menurutku… kau tidak perlu terlalu jauh mempertimbangkannya. Hanya pikirkan dan putuskan kau akan menyerahkannya pada Seunghyun atau pada Wonbin oppa,”nasihat Yunmi yang sebenarnya lebih terdengar sebagai hasutan.

===============================

Yewon menelan ludahnya saat melihat Wonbin berjalan keluar dari kamar mandi dengan baju tanpa lengan dan juga celana panjang. Tangan Wonbin tengah mengeringkan rambutnya yang basah dan ntah kenapa pemandangan itu terlihat begitu indah di mata Yewon. Wonbin saat itu benar-benar terlihat sexy dan pria itu semakin sexy saat meneguk minuman dan Yewon benar-benar mematung menatapnya. Ntah kenapa perkataan Yunmi tadi langsung terngiang di telinganya dan dia menggelengkan kepalanya untuk menepis pikiran kotor itu.
“Kau mau makan apa, Yewon-a?,”suara Wonbin terdengar dan dilihatnya pria itu tengah membuka lemari atas, mengeluarkan semua peralatan untuk memasak.
“Apa saja. Buatkan yang pedas,”jawab Yewon.
“Baiklah. Bagaimana kalau… octopus?,”tanya Wonbin menoleh padanya.
“Adakah?,”tanya Yewon dengan mata berbinar.
“Aku baru membelinya tadi. Masih segar,”jawab Wonbin membuka lemari es dan mengeluarkan bungkusan.
“Woah~~~ yasudah, itu saja,”ucap Yewon bahagia.

“Oppa, apakah kau menceritakan semua hal pada Jonghoon oppa?,”tanya Yewon saat mereka tengah menikmati makan malam.
“Kenapa? Apakah Yunmi menanyaimu tentang pernyataan cintaku?,”tanya Wonbin santai.
“Iya,”jawab Yewon.
“Apa dia mengatakan dia tau dari Jonghoon?,”tebak Wonbin.
“Iya,”jawab Yewon.
“Memang kau sebelumnya tidak menceritakan padanya?,”tanya Wonbin menatap Yewon.
“Tidak,”jawab Yewon.
“Ya sudah,”ucap Wonbin.
“Oppa!!!! Kenapa kau jadi tidak jelas begitu?,”ucap Yewon kesal dan Wonbin langsung tertawa.
“Memangnya sebenarnya kau mau mengatakan apa?,”tanya Wonbin.
“Sudahlah, lupakan saja!,”ucap Yewon dan kembali menikmati makan malamnya. Wonbin menatap Yewon dan tersenyum simpul, dia tau jika sebenarnya Yewon malu untuk mengatakan yang sebenarnya, tapi biarkanlah. Dia akan menunggu hingga Yewon memiliki cukup keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya--yang sudah dia tau dengan pasti--.

=======================TBC======================



Please give reaction and leave comment!
Thank's!

Read Chapter 9

CREDIT: Yewonnie @Primadonnas' Island blog
[ Read More ]

[FF/S/NC-17/7] CHERISH YOUR HEARTACHE

previous chapter: 1|2|3|4|5|6



TITLE: CHERISH YOUR HEARTACHE
GENRE: ROMANCE
LANGUAGE: BAHASA INDONESIA
RATING: NC-17/Straight
CASTS:
- Oh Won Bin
- Han Ye Won
- Song Seung Hyun


Wonbin hanya bisa menghela napasnya kesal. Pria itu duduk di atas kasurnya dan benar-benar kesal melihat pemandangan yang baru saja dilihatnya. Dia melihat Yewon dengan seorang pria—yang pasti adalah Seunghyun—sedang berada di dapur berdua, memasak. Astaga! Apa-apaan itu? Ada apa dengan Yewon? Kenapa dia bisa tiba-tiba masuk dapur dan bahkan menyentuh pisau? Tsskkk… Apakah Seunghyun sebegitu berpengaruhnya baginya? Dan yang membuat dia lebih kesal adalah pria itu bisa dengan leluasa menyentuh Yewon. Benar-benar menyebalkan. Jika saja tadi Yewon meninggalkan mereka berdua, dia pasti akan langsung meninju pria itu, tetapi sayangnya Yewon hanya menoleh padanya, menyapanya dan memperkenalkannya dengan Seunghyun. Wonbin pun akhirnya tentu saja memutuskan untuk pergi dari tempat itu dari pada nantinya justru dia benar-benar melayangkan tinjunya atau bahkan menusuk pria itu. Tskkkk… Otaknya sepertinya benar-benar kacau. Dia tidak menduga bahwa Yewon benar-benar mempertemukannya dengan Seunghyun. Dan mau tak mau dia harus mengakui bahwa Seunghyun adalah pria yang tampan, pria itu memiliki senyuman yang bisa memikat hati semua gadis, tetapi bagi pria yang melihatnya maka akan menyebut itu senyum iblis. Dan itulah penilaian yang Wonbin berikan kepada Seunghyun.
“Awas saja jika dia berani menyentuh Yewon lebih dari itu!,”geram Wonbin.

Yewon meninggalkan Wonbin dan Seunghyun berdua setelah selesai acara makan siang. Gadis itu mengatakan bahwa dia harus mengerjakan sesuatu, yang wonbin tau pastilah bohong. Pasti Yewon dengan sengaja meninggalkannya dan Seunghyun, ingin membuatnya lebih mengenal Seunghyun. Ini seperti calon menantu bertemu mertua saja. Tskkk… Anak itu benar-benar harus kuberi pelajaran.
“Seunghyun-ssi, Yewon mengatakan bahwa kau baru saja menyelesaikan skripsimu. Memang kau mengambil jurusan apa?,”tanya Wonbin membuka percakapan walaupun dia sama sekali tidak menatap Seunghyun. Matanya tetap tertuju pada majalah yang sedang dibacanya.
“Aku mengambil jurusan teknik. Arsitektur,”jawab Seunghyun santai. Seunghyun tentu saja bisa merasakan aura dingin yang Wonbin berikan padanya, tapi dia tidak peduli. Dia merasa dia benar-benar harus mengenal atau lebih tepatnya mengambil hati Wonbin agar dia diijinkan untuk berhubungan lebih jauh dengan Yewon. Karena jujur saja, tidak bisa dipungkiri bahwa beberapa hari belakangan ini otaknya semakin kotor saat melihat Yewon. Melihat gadis itu berbaring di sofanya saja sudah membuat tubuhnya panas. Dan Seunghyun merasa, dia seharusnya dekat dengan keluarga Yewon terlebih dahulu baru bisa berbuat lebih pada gadis itu, sehingga jika terjadi ‘kecelakaan’ dia akan dengan mudah mempertanggung jawabkannya. Tapi dia rasa mengambil hati Wonbin tidaklah semudah yang ada dibayangannya. Wonbin saat ini bungkam dan memang hanya pertanyaan itulah yang diajukannya dan Seunghyun benar-benar berharap agar Yewon segera kembali. Dia benar-benar tidak suka dengan situasi yang seperti ini.

Seunghyun langsung menarik Yewon mendekat padanya dan menyandarkan kepalanya di perut gadis itu. Saat ini dia duduk dan Yewon berdiri di depannya, gadis itu membelai rambutnya dengan lembut.
“Bagaimana?,”tanya Yewon dan Seunghyun langsung mendongak menatap gadis itu.
“Kakakmu benar-benar dingin, Yewon-a,”jawab Seunghyun dan menarik Yewon agar duduk di pangkuannya.
“Haha… Aku kan sudah mengatakannya padamu sebelumnya. Kaunya saja yang tidak mau mendengarku,”ucap Yewon menertawakan kekasihnya itu.
“Tapi aku tidak pernah berpikir bahwa akan mendapat tanggapan sedingin itu. Apakah dia membenciku? Bagaimana kalau dia menyuruh kita berpisah?,”ucap Seunghyun dan Yewon langsung membalikkan tubuhnya dan kini duduk menghadap Seunghyun, membuat Seunghyun langsung menelan ludahnya menyadari betapa intimnya posisi mereka saat ini.
“Itu tidak mungkin. Wonbin oppa tidak mungkin seperti itu,”ucap Yewon menatap mata Seunghyun. Akhirnya dia berhasil membiasakan diri dengan tatapan Seunghyun. Seunghyun menatapnya dan menunjukkan ekspresi aegyo nya, membuat Yewon langsung mencubit pipinya.
“Sudahlah, tidak usah merajuk seperti itu. Ayo kita masuk! Kurasa akan hujan,”ucap Yewon lalu berdiri dan menarik tangan Seunghyun. Mereka pun akhirnya masuk dan sudah tidak melihat Wonbin lagi di dalam rumah.
“Apakah oppa di kamar?,”tanya Yewon lebih kepada dirinya sendiri. Dia kemudian duduk di sofa dan menyalakan tv. Seunghyun mengikutinya,tetapi pria itu justru merebahkan dirinya di pangkuan Yewon.
“Ya! Apa kau mau dibunuh oleh Wonbin oppa?,”ucap Yewon memperingati.
“Dia kan tidak ada disini, jadi seharusnya tidak apa-apa,”jawab Seunghyun acuh dan memainkan game di ponsel nya. Mereka tidak menyadari bahwa Wonbin melihatnya. Wonbin yang hendak mengambil minum langsung terpaku melihat pemandangan itu. Rasanya dia benar-benar ingin melempar Seunghyun keluar. Dan sayangnya, cuaca menjadi kendala. Jika dia mengusir Seunghyun sekarang, Yewon pasti akan melakukan pembelaan dengan mengatakan bahwa sedang hujan.
“Tsskkk… Kurasa aku harus benar-benar bersabar,”gumam Wonbin lalu berjalan masuk ke kamarnya. Yewon menolehkan kepalanya saat mendengar pintu menutup.
“Ya! Wonbin oppa melihatnya. Cepatlah bangun!,”ucap Yewon dan Seunghyun langsung duduk, ikut menoleh ke pintu yang ada di belakang mereka.
“Dia sudah masuk lagi,”ucap Seunghyun acuh dan kembali merebahkan tubuhnya di pangkuan Yewon. Yewon hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap acuh dan santai kekasihnya itu. Dia tidak habis pikir bahwa Seunghyun benar-benar sesantai itu.

===================================

Yunmi menghampiri Jonghoon yang tengah berkutat dengan pekerjaan kantornya. Kacamata bertengger dengan manis di wajah tampannya dan ekspresi serius tergambar jelas di wajahnya. Yunmi duduk di hadapan Jonghoon dan mengagumi wajah kekasihnya itu. Benar-benar langka mendapati Jonghoon dengan ekspresi serius seperti itu.
“Ada apa, Yunmi-a?,”tanya Jonghoon mengangkat kepalanya, menatap Yunmi.
“Makan malam sudah siap,”jawab Yunmi. Dia dan Jonghoon memang tinggal serumah sejak Yunmi lulus dan masuk Universitas Gyeong-gi. Awalnya Yunmi ragu saat Jonghoon mengajaknya untuk tinggal bersama dengan alasan rumahnya cukup dekat dengan kampus. Yunmi pun akhirnya dengan susah payah merayu Yuri ahjumma yang memang merawatnya sejak kedua orang tuanya melakukan bisnis di London. Awalnya tentu saja Yuri ahjumma menentang, tetapi begitu dia menghubungi orang tua Yunmi dan mereka setuju, maka mau tidak mau diapun akhirnya merelakan anak majikannya itu pergi dengan pria lain. Walaupun Yuri cukup mengenal Jonghoon, tapi tetap saja dia merasa khawatir dan akhirnya memberi syarat pada Yunmi untuk pulang sekali setiap bulannya dan Yunmi menyanggupi syarat tersebut.
“Apa besok kau akan mengunjungi Yuri ahjumma?,”tanya Jonghoon seraya mencicipi masakan Yunmi yang sebenarnya tidak bisa dikatakan enak, tapi mau bagaimana lagi, dia tidak mungkin tidak memakannya.
“Kurasa tidak. Aku ada tugas. Hmmmphh…,”ucap Yunmi mulai menyuapkan makanannya dan dia langsung memuntahkannya.
“Tidak ada rasanya,”ucap Yunmi lalu minum.
“Oppa, kenapa tetap memakannya? Sudah, nanti aku buatkan ramyeon saja,”ucap Yunmi tetapi Jonghoon hanya tersenyum dan tetap memakan masakan buatan Yunmi.
“Tidak apa-apa. Makanan ini terasa enak saat aku tau bahwa kau yang membuatnya dengan sepenuh hati dan segenap kemampuanmu,”ucap Jonghoon dan membuat Yunmi bersemu.
“Setidaknya kau harus menambahkan garam pada makanan itu,”ucap Yunmi lalu beranjak dan mengambilkan garam.
“Aku pasti akan merasa bersalah jika kau sampai sakit karena memakan makanan buatanku,”ucap Yunmi. Jonghoon hanya tertawa.
“Tenang saja,”ucap pria itu santai.

“Oppa, aku mau menanyakan satu hal padamu,”ucap Yunmi menyandarkan punggungnya di sofa dan memindah-mindahkan channel tv.
“Apa?,”tanya Jonghoon yang masih berkutat dengan pekerjaannya.
“Apakah Wonbin oppa menyukai Yewon?,”tanya Yunmi langsung.
“Tentu saja. Yewon kan adiknya,”jawab Jonghoon.
“Maksudku bukan rasa suka yang seperti itu. Masa kau tidak mengerti?,”ucap Yunmi. Jonghoon duduk tegak dan menoleh pada Yunmi.
“Jadi maksudmu apa?,”tanya Jonghoon berpura-pura tidak mengerti.
“Maksudku… Apakah Wonbin oppa menyukai Yewon seperti halnya pria dan wanita?,”tanya Yunmi lagi. Jonghoon diam.
“Menurutmu?,”Jonghoon balas bertanya dan Yunmi langsung mengerti maksud dari jawaban itu.
“Pasti benar begitu adanya. Tskkk… Wonbin oppa kasihan sekali. Pasti dia berjuang sekuat tenaga untuk menepis rasa cintanya, apalagi sekarang dia tau bahwa Yewon sudah bersama Seunghyun,”ucap Yunmi.
“Siapa yang bilang begitu?,”ucap Jonghoon acuh dan Yunmi langsung menoleh membelalakkan matanya.
“Apa maksudmu, oppa?,”tanya Yunmi tetapi Jonghoon mengacuhkannya dan kembali sibuk dengan pekerjaannya.
“Ya! Jelaskan dulu!,”rengek Yunmi menarik-narik lengan Jonghoon.
“Wonbin berniat untuk mendapatkan Yewon. Tapi aku tidak tau dia akan menggunkan cara apa,”jawab Jonghoon.
“Benarkah? Lalu… Bagaimaan dengan Seunghyun?,”ucap Yunmi tidak percaya. Jonghoon hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban.
“Tskkk… Apakah nanti Seunghyun yang akan tersakiti? Atau justru Wonbin oppa?,”gumam Yunmi merasa khawatir. Jonghoon menoleh dan mengusap kepala Yunmi.
“Tidak usah kau pikirkan. Semua itu ada di tangan Yewon, jadi kurasa sebaiknya kita berdoa saja semoga Yewon nantinya mengambil pilihan yang terbaik,”ucap Jonghoon bijak.

=================================

“Oppa, ada apa?,”Yewon langsung terkejut saat Wonbin tiba-tiba menariknya dan membuatnya merapat ke dinding.
“Aku akan mengatakan ini satu kali dan kau dengarkanlah!,”ucap Wonbin tegas dan Yewon mengangguk takut saat menatap wajah Wonbin yang serius.
“Aku menyukaimu,”ucap Wonbin dan Yewon langsung membelalakan matanya.
“Aku mencintaimu. Bukan karena kau adikku. Bukan karena hubungan yang selama ini mengikat kita. Aku mencintaimu layaknya seorang pria terhadap wanita dan aku ingin memilikimu,”ucap Wonbin menatap Yewon dengan tajam dan Yewon menelan ludahnya. Rasanya tenggorokannya langsung kering mendengar ucapan itu terlontar dari mulut Wonbin.
“Oppa…apa…,”ucap Yewon terbata. Wonbin memejamkan matanya dan wajahnya mengeras, mencoba menahan emosinya.
“Aku tidak suka melihatmu dengan Seunghyun. Aku tidak suka melihatnya menyentuhmu. Aku benar-benar tidak suka kau menyentuhnya. Aku tidak suka, Yewon-a. Jjadi aku mohon, jangan pernah bawa dia ke rumah ini lagi dan jangan pernah menunjukkan kemesraan kalian di hadapanku,”ucap Wonbin lalu pergi meninggalkan Yewon. Yewon merasakan kakinya melemas dan kemudian dia terduduk. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan semua perkataan Wonbin. Apakah Wonbin hanya bersandiwara agar dia memutuskan hubungannya dengan Seunghyun? Ataukah… semua ucapan itu benar?
“Tidak. Tidak mungkin,”ucap Yewon berusaha menepis kemungkinan kedua. Bagaimana mungkin Wonbin menyukainya? Mencintainya? Sejak kapan? Apakah… selama ini pria itu memendam perasaannya?
“Tidak. Itu pasti tidak benar. Pasti tadi aku hanya sedang melamun,”ucap Yewon meyakinkan dirinya.

Wonbin mendinginkan kepalanya dengan berdiri di bawah pancuran air. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa akhirnya dia mengatakan hal itu. Dia merasa lega sekaligus menyesal setelah mengatakan semua itu. Tetapi Seunghyun benar-benar sudah membuat amarahnya memuncak. Dia melihat dengan jelas Seunghyun mencium Yewon saat pria itu hendak pulang. Dan Wonbin semakin kesal saat dia tau bahwa Yewon menikmati ciuman yang diberikan pria itu. Otaknya benar-benar tidak bekerja lancar dan akhirnya dia langsung menarik Yewon seperti tadi saat gadis itu masuk. Pasti dia sudah membuat Yewon takut. Ya, dia harus menjelaskannya lagi pada Yewon. Dia tidak mau Yewon takut padanya dan akhirnya memutuskan menjauhinya. Dia benar-benar tidak habis pikir jika hal itu menimpanya lagi. Sudah cukup lima tahun Yewon menjauhinya dan dia tidak ingin hal itu terulang untuk kedua kalinya.

Yewon terkesiap saat melihat Wonbin berdiri di ambang pintu kamarnya. Wajah pria itu sudah terlihat seperti biasa. Tidak ada pancaran kemarahan dalam tatapannya.
“Masuk saja,”ucap Yewon akhirnya dan Wonbin melangkah masuk. Wonbin memutuskan untuk duduk di kursi yang ada di meja belajar Yewon, sebisa mungkin menjaga jarak dengan gadis itu. Wonbin bisa melihat dengan jelas bahwa Yewon gugup dan gadis itu tidak mau menatapnya.
“Aku minta maaf,”ucap Wonbin.

===============TBC================


Please give reaction and leave comment!
Thank's!
Read Chapter 8

CREDIT: Yewonnie @Primadonnas' Island blog
Please leave comment.here is the tutorial:1. click Post a Comment above the post.2. choose the identity Name/URL3. type the name (ex: Yewonnie) n type the url (ex: twitter.com/Yewonnie)4. publish your commentit is easy, right?so, please leave ur comment!!^^
[ Read More ]
 
 

Followers

My Update