#Post Title #Post Title #Post Title #Post Title #Post Title #Post Title
Showing posts with label only one person it's you. Show all posts
Showing posts with label only one person it's you. Show all posts
Wednesday, December 29, 2010

[FF/S/NC-17/2] ONLY ONE PERSON IT'S YOU



I also post this Fanfic on my own Facebook.
Chapter 1
=======================

“Yebin-a, uljima!,”ucap Yewon seraya menimang Yebin yang kini tengah menangis. Anak itu memang sering sekali bangun tengah malam dan biasanya tidak akan tidur sampai besok pagi. Seunghyun masuk ke kamar dan membuat Yewon menoleh.
“Dia bangun lagikah?,”tanya Seunghyun seraya menghampiri.
“Ne. padahal aku sudah memberinya susu,”jawab Yewon.
“Tsk… Bagaimana ini? Besok aku ada kuliah pagi,”ucap Yewon.
“Kau tidur saja. Biar aku yang mendiamkannya,”ucap Seunghyun.
“Ne?,”tanya Yewon sangsi tetapi Seunghyun sudah mengambil alih Yebin dan menimang anak itu.
“Kau tenang saja. Aku pasti bisa menenangkannya,”ucap Seunghyun meyakinkan.

Keesokan paginya, Yewon masuk ke dalam kamar Yebin dan melihat Seunghyun tertidur di samping anak itu. Wajah kedua orang itu benar-benar polos saat sedang tidur, membuat Yewon tersenyum simpul.
“Dimana Seunghyun?,”tanya Eunhye saat Yewon masuk ke dapur.
“Dia tidur bersama Yebin. Semalam dia yang berusaha menenangkan anak itu dan kurasa Yebin membuatnya tidak tidur semalaman,”jawab Yewon.
“Apa Seunghyun tidak ada kuliah?,”tanya Eunhye.
“Kurasa tidak,”jawab Yewon seraya memakan sarapannya.
“Aku berangkat,umma!,”ucap Yewon mengecup pipi Eunhye dan pergi.

Seunghyun keluar kamar dengan Yebin digendongannya. Anak itu mengusap matanya dan menguap.
“Aigoo~~ Kau sudah bangun, Yebin-a,”sapa Eunhye.
“Kau tidur jam berapa, Seunghyun-a?,”tanya Eunhye.
“Kurasa jam 4. Anak ini benar-benar membuatku kewalahan,”ucap Seunghyun menatap Yebin yang kini balas menatapnya.
“Kau benar-benar membuat appa capek,”ucap Seunghyun seraya mengecup pipi anak itu. Yebin hanya menggembungkan pipinya dan kemudian mengarahkan tangannya ke arah Eunhye. Eunhye mengambil anak itu dari gendongan Seunghyun.
“Kau sarapanlah,”ucap Eunhye.
“Appa~~~~,”panggil Yebin saat Seunghyun hendak melangkahkan kakinya.
“Wae? Appa mau cuci muka dulu, Yebin-a. Kau dengan halmeoni saja,”ucap Seunghyun.
“Ungg~~ Appa~~,”ucap Yebin seraya mencondongkan tubuhnya ke arah Seunghyun. Seunghyun pun akhirnya kembali menggendong Yebin dan membawa anak berusia satu tahun itu ke kamar mandi.
“Appa mau gosok gigi. Tapi kau tidak usah. Gigimu masih sedikit, Yebin-a. jadi gosok pakai jari saja,ok?,”ucap Seunghyun seraya mengoleskan odol rasa strawberry ke jarinya dan menyuruh Yebin membuka mulutnya.
“Anio. Bukan begitu. Begini,”ucap Seunghyun mengarahkan Yebin agar mengikutinya. Akhirnya anak itupun mengikuti Seunghyun dan menunjukkan gigi-giginya.
“Sekarang kumur-kumur,”ucap Seunghyun membuat Yebin meminum air dan menyuruh anak itu mengeluarkannya.
“Nah, sudah. Sekarang giliran appa yang gosok gigi,”ucap Seunghyun dan menggosok giginya. Yebin yang berada di gendongannya memperhatikannya dan berkali-kali mencoba merebut sikat gigi yang digunakan Seunghyun.
“Nah, selesai. Ayo kita sarapan!,”ucap Seunghyun kemudian dan membawa anak itu keluar.

“Yebin-a, appa pergi dulu. Kau bersama halmeoni,ok?,”ucap Seunghyun karena siang itu dia memang ada kelas. Yebin tetap melingkarkan tangannya di leher Seunghyun.
“Appa nanti pulang. Tapi sekarang appa harus pergi dulu. Kau bersama halmeoni dulu,ok?,”ucap Seunghyun dan Yebin menatapnya dengan menggembungkan pipinya. Seunghyun mengecup pipi Yebin,”Aigoo~~ cantiknya. Sudah ya, kau dengan halmeoni saja,”ucap Seunghyun lagi. Awalnya Yebin tetap bergeming tetapi kemudian anak itu mencondongkan tubuhnya ke arah Eunhye dan kini berada di gendongan Eunhye. Eunhye melambaikan tangan Yebin ke arah Seunghyun saat pria itu sudah menstarter mobilnya. Seunghyun balas melambai pada Yebin dan kemudian melajukan mobilnya.
==================
“Yewon-a,”sapa Seunghyun saat melihat wanita itu berada di perpustakaan.
“Kau ada jadwal kuliah kah?,”tanya Yewon sedikit kaget.
“Ne. Aku baru selesai kelas pertama. Nanti masih ada kelas. Kau pulang jam berapa?,”tanya Seunghyun. Yewon melihat jam tangannya,”Jam 4. Kau?,”tanya Yewon.
“Aku jam 5. Mau menungguku?,”tanya Seunghyun.
“Ok. Aku tunggu disini,”jawab Yewon.
“Tadi kau tidur jam berapa?,”tanya Yewon. Seunghyun menyandarkan tubuhnya di kursi sebelum menjawab,”Jam 4.”
“Semalam Yebin tidak berhenti menangiskah?”tanya Yewon.
“Anio. Dia tidak menangis. Hanya saja dia membuatku menemaninya bermain puzzle,”jawab Seunghyun.
“Ahh… Begitu. Aku pikir dia terus menangis,”ucap Yewon. Seunghyun menopang dagunya dan menatap Yewon.
“Aku senang Yebin memanggilku appa,”ucap Seunghyun dan Yewon langsung menatapnya.
“Kau kan memang appa nya,”ucap Yewon.
“Seonghyun?,”tanya Seunghyun. Yewon langsung menutup bukunya dan menatap Seunghyun.
“Kumohon jangan ucapkan nama itu lagi. Aku benar-benar ingin melupakan semua tentangnya,”ucap Yewon.
“Baiklah,”ucap Seunghyun menyetujui.

“Yebin-a~~~ umma dan appa pulang!,”teriak Yewon. Yebin yang mendengarnya langsung menoleh dan merangkak menuju ruang tamu. Yewon yang melihatnya langsung menggendong anak itu dan memberikan kecupan di pipinya.
“Kau tidak merepotkan halmeoni kan?,”ucap Yewon seraya berjalan masuk dan dilihatnya ummanya tengah memasak.
“Umma, kau ini senang sekali memasak. Sekali-kali biarkanlah aku yang memasak,”ucap Yewon.
“Umma hanya tidak ingin orang di rumah ini keracunan,”goda Eunhye.
“Umma,kau menyebalkan,”ucap Yewon menggembungkan pipinya. Yewon langsung menunduk saat dirasanya Yebin menatapnya.
“Apa? Hm? Kau mau menertawakan umma?,”tanya Yewon pura-pura marah dan Yebin langsung tersenyum.
“Tsk. Anak ini,”ucap Yewon.
“Appa,”ucap Yebin saat dilihatnya Seunghyun datang dan membuka kulkas. Seunghyun menoleh dan tersenyum sekilas. Kemudian pria itu mengambil minum dan menegaknya dan saat dia menoleh, dia sudah melihat Yewon berdiri di sampingnya dengan Yebin di gendongannya.
“Kau peganglah dia sebentar. Aku mau mandi,”ucap Yewon dan Seunghyun langsung menggendong Yebin.
“Kau mau main apa, Yebin-a? puzzle lagi,hm?,”tanya Seunghyun seraya membawa Yebin keluar dari dapur. Dia mendudukkan anak itu di karpet dan meletakkan puzzle di hadapannya. Dia memperhatikan Yebin yang tengah bermain puzzle dan memperhatikan anak itu yang kadang bergumam tidak jelas seolah sedang berbicara.

Yewon duduk di ruang keluarga dengan buku di tangannya. Dia membaca bukunya dan Yebin yang tengah duduk di karpet menatapnya. Anak itu lalu berdiri dengan berpegangan pada sofa dan berjalan ke arah Yewon.
“Umma..umma..,”gumam anak itu. Yewon langsung menunduk dan dilihatnya Yebin sudah berada di bawahnya.
“Apa?,”tanya Yewon setelah meletakkan bukunya dan menatap Yebin. Yebin meraih telapak tangan Yewon dan menjadikan tangan itu sebagai tumpuannya untuk naik ke atas sofa. Seunghyun yang memperhatikannya hanya tertawa.
“Kasian sekali anak ini,”ucapnya seraya membantu Yebin hingga akhirnya anak itu berhasil naik dan bertepuk tangan.
“Hahah… kau ini,”ucap Seunghyun seraya ikut duduk di sampingnya dan mengecup kepalanya.
“Apa kau mau membaca buku juga seperti umma?,”tanya Seunghyun lalu kemudian mengambil buku dan meletakkannya di hadapan Yebin. Yebin langsung membuka buku-buku yang penuh gambar itu dan bergumam.
“Dia bicara apa?,”tanya Yewon.
“Tidak tau. Biarkan saja,”ucap Seunghyun menggedikkan bahunya.
=========================
[Tiga tahun kemudian]

Yewon berdiri di depan cermin toilet dan merapikan penampilannya. Sebentar lagi calon bos barunya akan datang dan tentu saja dia harus merapikan penampilannya karena atasannya yang sebelumnya mengatakan bahwa penggantinya kini adalah orang yang perfeksionis. Dan dia meminta Yewon agar bersabar saat menanganinya.

Orang yang ditunggu-tunggu pun akhirnya memasuki ruang rapat itu. Dia kemudian berdiri dan menatap semua orang yang hadir. Tatapannya langsung terhenti saat melihat Yewon, tetapi Yewon sendiri membalas tatapannya dengan pandangan biasa saja.
“Annyeong haseyo! Oh Wonbin imnida! Aku akan menjadi pemimpin di perusahaan ini. Aku dipindah kerjakan kesini. Dan kuharap kalian semua membiasakan diri dengan cara kerjaku. Aku tidak ingin ada kesalahan ataupun keluhan. Jika kalian merasa tidak sanggup, aku akan dengan senang hati membukakan pintu dan mengijinkan kalian angkat kaki dari perusahaan ini,”ucap Wonbin memberi sambutan.

Wonbin berdiri di ruangannya menatap keluar jendela. Pikirannya langsung tertuju pada sosok wanita yang tadi dilihatnya. Dia sangat yakin bahwa wanita itu adalah Yewon, Han Yewon. Yewon nya yang dulu. Tetapi saat bertatapan tadi raut wajah Yewon biasa saja. Apakah dia sudah tidak mengingatnya? Apakah hanya karena perubahan namanya membuat wanita itu sama sekali tidak mengenalinya?
TOK..TOK..
Pintu ruang kerjanya diketuk dan Wonbin langsung menoleh. Dilihatnya Yewon masuk dan menghampirinya.
“Annyeong haseyo! Saya Han Yewon. Mulai saat ini saya adalah sekretaris Anda,”ucap Yewon memperkenalkan diri dan membungkuk sopan. Wonbin langsung terkesiap. Ternyata wanita ini memang benarlah Yewon nya. Yewon yang merupakan cintanya di masa lalu.
“Jika Anda memerlukan bantuan, Anda bisa memanggil saya,”ucap Yewon lalu pergi dari ruangan itu.
“Dia benar-benar tidak mengingatku,”gumam Wonbin.

Yewon untuk yang kesekian kalinya masuk ke ruangan Wonbin. Bos nya itu terus saja memberinya tugas berkali-kali. Yewon akhirnya keluar dan dengan kesal membanting map di tangannya.
“Orang itu menyebalkan sekali. Kenapa tidak langsung saja memberi tugasnya,”gerutu Yewon kemudian duduk di bangkunya dan mengerjakan apa yang diperintahkan Wonbin. Wonbin yang ternyata memperhatikan dari ruangannya hanya tersenyum simpul.
“Kau tidak berubah, Yewon-a,”ucap Wonbin.
“Tetapi harus kuakui kau memang cantik saat berpenampilan feminine seperti itu,”ucapnya.
========================
Yewon masuk ke rumahnya dengan tampang kesal, membuat Yebin sedikit takut untuk mendekatinya.
“Umma~~,”ucap Yebin memeluk kaki Yewon. Yewon tersenyum kemudian mengangkat anak itu dan mendudukkannya di pangkuannya.
“Apa appa belum pulang?,”tanya Yewon.
“Belum. Umma kenapa?,”tanya Yebin. Yewon hanya tersenyum,”Umma capek, Yebin-a. Hari ini sangat melelahkan.”
Yebin memeluknya seolah memberikan Yewon tenaga agar tidak merasa capek lagi.
“Kau hari ini belajar apa, Yebin-a?,”tanya Yewon. Yebin langsung menggembungkan pipinya.
“Wae? Apakah kau melawan Jessica ahjumma lagi?,”tanya Yewon.
“Dia menyebalkan,”ucap Yebin seraya mengerucutkan bibirnya.
“Aigoo~~ Kau jangan begitu, Yebin-a. Kau harus mendengarkan apa yang Jess ahjumma katakan. Memangnya kau tidak mau sekolah tahun depan,hm?,”tanya Yewon dan Yebin hanya diam saja.
“Appa…,”Yebin langsung menolehkan kepalanya dan langsung turun dari pangkuan Yewon saat didengarnya suara sebuah mesin mobil berhenti. Dia langsung menuju pintu dan membukanya. Seunghyun yang saat itu baru keluar dari mobil langsung tersenyum melihat Yebin yang berlari menyambutnya. Anak itu langsung melompat ke dalam pelukan Seunghyun dan menggerak-gerakkan kepalanya senang.
“Aigoo~~ Kau senang sekali, Yebin-a. Ada apa? Rindu dengan appa?,”tanya Seunghyun seraya melangkah masuk bersama Yebin.
“Lollipop,”ucap Yebin dengan senyum manisnya.
“Ahh… Appa lupa, Yebin-a. Mianhae!,”ucap Seunghyun yang langsung membuat Yebin cemberut dan meronta meminta turun. Setelah berhasil turun, anak itu langsung berlari masuk.
“Kau apakan dia?,”tanya Yewon yang datang dengan segelas teh hangat di tangannya.
“Aku hanya mengatakan bahwa aku lupa membawa lollipop pesanannya,”jawab Seunghyun seraya meletakkan sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah.
“Benarkah?,”tanya Yewon sangsi.
“Tentu saja tidak. Aku rasa dia marah,”jawab Seunghyun lalu berjalan melewati Yewon dan mencari Yebin.

“Senangkah?,”tanya Yewon saat dilihatnya Seunghyun datang bersama Yebin di gendongannya dan anak itu terlihat memegang lollipop di tangannya. Yebin hanya tersenyum mendengar pertanyaan Yewon dan menjilat lollipopnya. Seunghyun duduk di sofa dan membiarkan Yebin duduk di karpet bermain dengan puzzle nya sambil mengemut lollipop.
“Kau kenapa? Sepertinya capek,”tanya Seunghyun. Yewon meluruskan punggungnya dan menghela napas.
“Ya. Bos baruku benar-benar menyebalkan,”keluh Yewon.
“Kenapa? Apa dia menyulitkanmu?,”tanya Seunghyun.
“Sebenarnya tidak. Hanya saja… dia senang sekali berkali-kali memberiku pekerjaan. Padahal akan lebih baik jika dia langsung mengatakannya sekaligus. Benar-benar membuat capek,”cerita Yewon. Seunghyun tersenyum melihat ekspresi wajah Yewon.
“Kau katakan saja padanya bahwa kau tidak suka jika dia seperti itu,”ucap Seunghyun.
“Hhh… Aku tidak berani. Bisa-bisa aku langsung dipecat olehnya. Mungkin lebih baik aku minta dipindahkan saja. Lebih baik aku menjadi sekretaris Yonghwa, bos ku yang dulu,”keluh Yewon.
“Yasudah, dengan Yonghwa saja. Dia masih disanakan?,”usul Seunghyun dan Yewon langsung meliriknya kesal.
“Ya, dia memang masih di perusahaan kami, tapi dia dipindah tugaskan ke Berlin,”jawab Yewon.
“Hhh… Kuharap aku bisa bertahan dengan bos baruku. Baru sehari saja aku rasanya ingin mencincangnya,”ucap Yewon.
“Itu karena kau belum terbiasa, Yewon-a. Kau belum terbiasa dengan caranya memerintah, tapi lambat laun kau pasti akan terbiasa,”ucap Seunghyun menasihati. Yewon menatapnya beberapa saat,”Ya, kau benar juga.”
==============================
Wonbin duduk di sofa dekat jendela apartemennya dengan secangkir kopi di tangannya. Pikiran pria itu tertuju pada Yewon. Dia benar-benar tidak habis pikir bahwa Yewon akan melupakannya begitu saja. Walaupun memang perpisahan mereka sudah cukup lama, tetapi tidak seharusnya Yewon melupakannya begitu saja. Bahkan wanita itu bersikap seolah tidak pernah bertemu dengannya hanya karena dia mengubah namanya, padahal wajahnya tetap sama seperti dulu. Ataukah memang wajahnya di mata Yewon telah berubah? Ntahlah. Tapi Wonbin merasa bahwa Yewon tidaklah berpura-pura tidak mengenalnya, tetapi wanita itu benar-benar merasa bahwa tidak mengenalnya.
“Yewon-a, apa yang sebenarnya terjadi? Apakah kau amnesia?,”gumam Wonbin.
“Tsk… tapi tidak mungkin. Data dirinya saja masih sama,”ucap Wonbin melirik CV Yewon yang ada di meja.
“Hmmm… lalu ada apa dengannya sebenarnya?,”gumam Wonbin seraya menopang dagunya.
“Pasti ada sesuatu yang membuatnya melupakanku begitu saja. Tapi apa?,”ucap Wonbin bingung.

Wonbin melangkahkan kakinya menuju sebuah restoran dan dilihatnya Yewon sudah duduk di sebuah bangku. Terlihat sekali raut kesal di wajahnya. Wonbin memang tadi sengaja menelpon Yewon dan memintanya bertemu. Dia memberikan alasan untuk keperluan bisnis, padahal tentu saja tidak. Wonbin menarik kursi di hadapan Yewon dan membuat wanita itu menatapnya.
“Maaf membuatmu datang menemuiku malam-malam,”ucap Wonbin membuka percakapan seraya membuka daftar menu.
“Kau mau makan apa?,”tanya Wonbin berbasa-basi.
“Tidak perlu. Cepat katakan saja keperluanmu,”jawab Yewon ketus. Wonbin menatapnya tetapi Yewon sama sekali tidak gentar dengan tatapan itu.
“Apa kau sudah berkeluarga, Yewon-ssi?,”tanya Wonbin.
“Apakah kau memintaku kesini hanya untuk menanyakan itu? Apakah itu termasuk urusan bisnis yang kau maksud?,”ucap Yewon ketus.
“Memang bukan, tapi aku hanya ingin tau saja,”jawab Wonbin santai.
“Tapi apa urusannya denganmu?,”tanya Yewon.
“Kalau memang tidak ada urusan penting, sebaiknya aku pergi saja,”ucap Yewon meraih tasnya dan Wonbin dengan segera menahan tangan wanita itu agar tidak pergi.
“Maaf,”ucap Wonbin dan akhirnya Yewon kembali duduk.
“Aku hanya ingin berbasa-basi sedikit denganmu sebelum memulai pembicaraan serius, tapi kurasa kau tidak bisa. Jadi, langsung saja kita membahasnya,”ucap Wonbin. Yewon hanya menatapnya. Wonbin pun akhirnya membuka tas yang dibawanya dan mengeluarkan berkas dari dalam sana dan diletakkannya di atas meja.
“Tolong kau pelajari berkas ini. Dan besok pagi, kau jelaskan padaku tentang isi berkas ini. Aku tidak punya waktu untuk mempelajarinya. Apa kau bisa?,”jelas Wonbin. Yewon meraih berkas itu dan membacanya sekilas.
“Aku bisa. Apakah kau juga membutuhkan catatan singkat tentang berkas ini?,”tanya Yewon kemudian.
“Ya, jika kau tidak keberatan,”jawab Wonbin.
“Baiklah, besok pagi aku akan menyerahkan catatan singkat tentang berkas ini dengan detail jadi kau tidak perlu penjelasan dariku,”ucap Yewon seraya merapikan berkas itu dan memasukkan ke dalam tasnya.
“Aku tetap membutuhkan penjelasan secara lisan,”ucap Wonbin.
“Baiklah,”ucap Yewon kemudian dan berdiri. Yewon pun pergi setelah memberikan salam hormat pada Wonbin. Wonbin hanya menatap punggung Yewon yang kian menjauh dan menghela napasnya.
“Sepertinya kau benar-benar sudah melupakanku, Yewon-a,”ucapnya.
==============TBC==============
[ Read More ]

[FF/S/NC-17/1] ONLY ONE PERSON IT'S YOU



a.n: Ini hanya cerita fiksi, hanya khayalan. jd jangan dianggap beneran. so, nikmati aja!!:)
===============================

“Seonghyun-a, bagaimana menurutmu pakaianku ini?,”tanya seorang gadis seraya memutar tubuhnya. Pria yang dimaksud hanya menatapnya seolah memberi penilaian.
“Aku tidak suka. Itu terlalu feminine untukmu,”komentar Seonghyun.
“Bagaimana menurutmu?,”tanya gadis itu pada pria yang lain yang kini tengah membuka-buka majalahnya. Pria itu mengangkat kepalanya dan menatap gadis itu.
“Kau cantik, Yewon-a. Tapi untuk apa memakai baju seperti itu?,”ucap pria itu.
“Aku hanya ingin memakainya saja. Baju ini sudah teronggok terlalu lama di lemariku,”jawab Yewon seraya berjalan menuju meja riasnya dan menyisir rambutnya.
“Menurutmu, rambutku bagusnya bagaimana, Seunghyun-a?,”tanya Yewon lagi.
“Dibiarkan tergerai saja. Kau cantik seperti itu,”jawab Seunghyun.
“Ahh… baiklah. Jadi nanti kita akan jalan-jalan dan aku akan berpenampilan seperti ini,”ucap Yewon.
“Apa kau gila? Aku tidak suka bajumu seperti itu. Ganti saja!,”ucap Seonghyun. Yewon menggembungkan pipinya sebal.
“Wae? Seunghyun saja mengatakan kalau aku cantik dengan baju ini,”ucap Yewon.
“Tapi itu terlalu berlebihan. Lagi pula kita kan hanya ingin pergi jalan-jalan, bukan makan di restoran mewah,”jelas Seonghyun. Yewon pun akhirnya mengambil setelan andalannya, yaitu skinny jeans dan kaos lalu masuk ke kamar mandi.
“Seonghyun-a, kau kelewatan,”ucap Seunghyun. Seonghyun menoleh dan menatapnya.
“Apa kau mau pria lain menatapnya,huh? Aku tidak suka jika pria-pria lain memperhatikan Yewon,”ucap Seonghyun.
“Ahh… kau benar,”ucap Seunghyun paham.
======================

Mereka masuk ke café yang menjual beraneka ragam es krim dan Yewon langsung sibuk memilih es krim mana yang sebaiknya dia pesan.
“Aku bingung memilih yang mana,”gumam Yewon.
“Yang cokelat saja,”usul Seunghyun.
“Aku mau yang mocca. Kau juga mocca saja, Yewon-a,”ucap Seonghyun.
“Aish~~~ aku tidak suka mocca. Apa kau masih belum paham juga?,”ucap Yewon sebal. Seonghyun hanya menggedikkan bahunya dan memilih semangkuk es krim mocca.
“Aku cokelat saja,”ucap Yewon, sedangkan Seunghyun lebih memilih es krim rasa pisang. Mereka lalu duduk dan memakan es krim itu.
“Yewon-a,”panggil Seonghyun tiba-tiba.
“Hm?,”jawab Yewon tanpa mengalihkan pandangannya dari mangkuk es krim.
“Jadilah pacarku,”ucap Seonghyun yang dengan sukses membuat Yewon mengangkat kepalanya dan membulatkan matanya kaget. Seunghyun sendiri juga tidak kalah kaget mendengar perkataan Seonghyun barusan.
“Cepat jawab!,”ucap Seonghyun tanpa mempedulikan tatapan heran kedua temannya itu.
“Ne?,”tanya Yewon akhirnya bisa membuka suaranya.
“Ok, jadi mulai sekarang kau adalah pacarku,”ucap Seonghyun mengambil kesimpulan.
“Ya! Kau seenaknya saja,”ucap Yewon.
“Kurasa tadi aku mendengar kata ‘ne’ keluar dari mulutmu,”ucap Seonghyun.
“Tapi…,”ucap Yewon yang langsung dipotong oleh Seonghyun,”Tidak ada kata tapi, mulai sekarang, kau milikku, mengerti?,”ucap Seonghyun tegas.
=========================

Seunghyun masuk ke kamarnya dengan lunglai. Hatinya benar-benar sakit saat mendengar pengakuan Seonghyun pada Yewon. Seandainya saja dia lebih cepat, mungkin dialah yang menjadi pacar gadis itu, bukan Seonghyun. Seunghyun hanya bisa menatap foto dirinya dengan kedua temannya itu dengan senyuman getir terukir di bibirnya. Pertemanan mereka sejak kecil tanpa sadar telah menumbuhkan benih cinta di hatinya. Dia mencintai Yewon. Mencintai gadis itu sejak 3 tahun lalu. Dia berusaha menunjukkan perasaannya dengan memberikan perhatian pada gadis itu, tapi nyatanya Yewon tidak menyadarinya. Dan dia sendiri sama sekali tidak tau bahwa Seonghyun juga menyukai Yewon, sampai pengakuan pria itu tadi. Seunghyun menyesal karena dirinya terlalu lama berpikir, seandainya dia tidak berpikir terlalu lama dan menyatakan cintanya sejak dulu, mungkin perasaannya tidak akan tersakiti seperti ini.

Seunghyun merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamarnya. Dia tidak tau bagaimana harus bersikap esok hari saat bertemu kedua temannya itu, pasangan baru itu. Seunghyun menolehkan kepalanya saat didengarnya pintu kamarnya diketuk. Dia bangkit dan membuka pintu itu, lalu dilihatnya Yewon berdiri disana, bersama Seonghyun. Yewon langsung masuk dengan tampang kesal dan Seonghyun mengikutinya di belakang dengan wajah santai.
“Ada apa?,”tanya Seunghyun.
“Dia. Menyebalkan,”ucap Yewon menuding Seonghyun.
“Apa? Aku? Memang aku kenapa?,”tanya Seonghyun bingung.
“Kau seenaknya saja menciumku di depan umma. Apa kau gila?,”omel Yewon.
“Ya! Memang kenapa? Kau kan sekarang pacarku. Lagipula ommonim tidak keberatan,”ucap Seonghyun membela diri.
“Kau dengarkan, Seunghyun? Dia benar-benar gila!,”ucap Yewon meminta pembelaan pada Seunghyun. Seunghyun hanya tersenyum simpul.
“Seonghyun-a, kau tidak seharusnya begitu. Kalian kan baru beberapa jam yang lalu berpacaran. Lagipula tidak pantas kau melakukan hal itu di depan orang lain,”ucap Seunghyun dan Yewon mengangguk setuju.
“Aish~~ kalian ini. Baiklah, aku tidak akan melakukannya lagi di depan orang lain,”ucap Seonghyun.
“Dan kau tidak boleh melakukannya tanpa persetujuanku,”tambah Yewon.
“YA! Apa kau ingin aku bertanya dulu saat aku ingin menciummu? Mana ada yang seperti itu,”ucap Seonghyun kesal.
“Aku tidak peduli. Yang jelas kau tidak boleh seenaknya menyentuhku!,”ucap Yewon tegas.
==========================

[Dua tahun kemudian]

Yewon masuk ke kamar Seunghyun, membuat pria itu langsung menoleh.
“Ada apa?,”tanya Seunghyun.
“Apa kau melihat Seonghyun?,”tanya Yewon.
“Ne? memang dia kemana?,”Seunghyun balik bertanya.
“Sejak kelulusan minggu lalu dia tidak pernah lagi menampakkan batang hidungnya,”jawab Yewon seraya duduk di hadapan Seunghyun.
“Kau sudah mencari ke rumahnya?,”tanya Seunghyun dan Yewon menggeleng.
“Mau aku antar kesana?,”tawar Seunghyun dan Yewon langsung mengangguk semangat.

“Seunghyun-a, kenapa rumah ini kelihatannya sepi sekali?,”ucap Yewon seraya memperhatikan rumah Seonghyun.
“Molla,”jawab Seunghyun.
“Kita tunggu saja. Nanti pasti ada yang membukakan pintu,”ucap Seunghyun. Selang berapa lama, datang seorang wanita paruh baya menghampiri mereka.
“Kalian mencari siapa?,”tanya wanita itu.
“Anda siapa?,”Yewon balas bertanya karena dia tidak pernah melihat wanita itu sebelumnya.
“Saya pembantu disini. Kalian siapa ya?,”tanya wanita itu.
“Sejak kapan Seonghyun mengganti pembantunya?,”gumam Yewon.
“Kami ingin bertemu dengan Seonghyun. Apa kau bisa memanggilnya?,”ucap Seunghyun.
“Seonghyun? Siapa?,”tanya wanita itu bingung.
“Tentu saja pemilik rumah ini,”ucap Yewon mulai kesal dan Seunghyun langsung menenangkannya.
“Ahh… pemilik lama rumah ini? Mereka sudah tidak tinggal disini. Rumah ini sekarang sudah menjadi milik majikan saya,”ucap wanita itu mulai paham.
“Ne?,”tanya Yewon tidak percaya.

Yewon terduduk di taman dan menundukkan kepalanya. Rasanya seperti ada batu besar yang menghantam kepalanya saat mendengar ucapan wanita tadi. Apakah Seonghyun benar-benar sudah pergi? Kenapa dia tidak mengabarinya? Itulah pertanyaan yang kini ada di benak Yewon. Tidak mungkin Seonghyun pergi begitu saja. Seonghyun pasti akan mengabarinya. Ya, pasti. Jadi sebaiknya dia menunggu saja, karena nanti Seonghyun pasti akan menelponnya. Memberitahunya tentang keberadaannya saat ini. Yewon terkesiap saat sesuatu yang dingin menyentuh pipinya. Dia menoleh dan melihat sekaleng coke di hadapannya. Diapun mengambil coke yang disodorkan oleh Seunghyun dan membukanya lalu meminumnya sedikit. Seunghyun terdiam menunggu Yewon membuka suara.
“Seunghyun-a, menurutmu… Seonghyun kemana?,”ucap Yewon akhirnya.
“Aku tidak tau. Mungkin dia sedang mencari universitas yang bagus,”jawab Seunghyun dan dilihatnya Yewon mengangguk.
“Aku akan menunggunya,”ucap Yewon seraya tersenyum.
======================

Yewon merebahkan tubuhnya di kasur setelah berkali-kali dia ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Eunhye yang mendengar itu segera menghampiri anaknya dengan membawa segelas air hangat.
“Yewon-a, kau kenapa? Kenapa akhir-akhir ini kau sering sekali muntah?,”tanya Eunhye khawatir.
“Aku tidak tau,umma. Mungkin karena aku insomnia beberapa hari ini,”jawab Yewon.
“Yewon-a, atau jangan-jangan kau hamil?,”ucap Eunhye.
“Umma… jangan bercanda. Itu tidak mungkin,”ucap Yewon kesal.
“Sekarang jujur pada umma. Apa kau sudah pernah melakukan itu?,”tanya Eunhye dan Yewon terdiam.
“Apa dengan Seonghyun,huh?,”tanya Eunhye lagi dan Yewon dengan perlahan menganggukkan kepalanya.
“Kapan terakhir kali kalian melakukan itu?”tanya Eunhye.
“Sekitar…dua bulan yang lalu,”jawab Yewon takut-takut. Eunhye menghela napasnya kesal.
“Sekarang kau ikut umma! Kita harus memeriksakannya ke dokter,”ucap Eunhye.
“Umma… Aku tidak mungkin hamil. Itu sudah terlalu lama,”tolak Yewon.
“Ya! Memang kau pikir tanda-tanda kehamilan akan muncul saat itu juga, huh? Biasanya gejala-gejala itu akan muncul setelah usia kandungan 3-4 minggu, seperti kau ini. Jadi sebaiknya kau menurut saja pada umma dan kita periksakan kandunganmu,”ucap Eunhye kesal dengan kekerasan kepala putri semata wayangnya itu.

Yewon dengan gugup menunggu ucapan yang akan keluar dari mulut dokter Kim yang kini tengah membaca hasil pemeriksaannya. Dokter itu mengangguk paham dan kemudian menatap Yewon, membuat Yewon semakin gugup.
“Kau sedang hamil, Yewon-ssi,”ucap Dr.Kim dan langsung membuat Yewon terbelalak.
“Usia kandunganmu sudah empat minggu. Mulai sekarang, kau harus banyak mengonsumsi makanan bergizi, jangan tidur terlalu larut dan yang terpenting, jangan memikirkan hal-hal yang bisa membebani pikiranmu,”pesan Dr.Kim.
“Apa aku tidak bisa menggugurkannya saja?,”tanya Yewon yang langsung mendapat pukulan keras dari Eunhye yang kini memang duduk di sampingnya.
“Ya! Jangan berpikiran bodoh begitu,”omel Eunhye.
“Tapi Seonghyun sudah tidak ada,umma! Bagaimana mungkin aku bisa mempertahankan bayi ini jika appa nya saja tidak ada!,”ucap Yewon kesal dan air mata turun begitu saja.
“Aku tidak mungkin sanggup membesarkannya sendiri,umma! Lagipula, aku harus bilang apa pada orang-orang? Aku malu!!!!!!!,”teriak Yewon histeris dan Eunhye langsung memeluknya dan air matanya pun ikut mengalir.
“Bagaimana jika Seonghyun tidak akan pernah kembali? Aku harus menjawab apa jika anak ini menanyakan appanya?,”ucap Yewon terisak.
“Umma akan membantumu merawatnya, Yewon-a. Kau tidak perlu malu dan takut. Dan dengar, dia ini anakmu. Apa kau benar-benar tega membunuhnya,huh?,”tanya Eunhye. Yewon melepaskan pelukannya dan menatap Eunhye.
“Aku hanya takut tidak bisa membesarkannya,umma,”ucap Yewon. Eunhye tersenyum menenangkan dan membelai rambut Yewon.
“Umma akan membantumu. Kau tenang saja,hm?,”ucap Eunhye. Eunhye kembali menatap Dr.Kim yang tengah menatapnya.
“Yewon-ssi, kau tidak perlu khawatir. Jika kau memperhatikan asupan gizimu, anak itu pasti akan lahir dengan sehat. Jika kau ingin menggugurkannya, kau bukan hanya akan membunuhnya, tapi itu juga berbahaya untukmu. Aborsi bukanlah sesuatu yang mudah dan tanpa resiko. Untuk itu, aku sarankan kau tetap mempertahankan anak yang ada dalam kandunganmu itu. Rawat dia dengan penuh kasih sayang,”nasihat Dr.Kim.
===============================

“Yewon-a,makanlah,”Seunghyun menyodorkan sesendok makanan ke mulut Yewon, tetapi gadis itu menolaknya.
“Aku tidak mau Seunghyun-a. Mulutku tidak enak,”ucap Yewon.
“Ya! Kalau kau tidak makan kasihan anakmu. Nanti dia kelaparan,”ucap Seunghyun.
“Tapi mulutku benar-benar tidak enak. Lagi pula jika aku makan pasti akan keluar lagi,”ucap Yewon. Seunghyun pun akhirnya menyerah dan meletakkan piring itu.
“Kalau begitu aku buatkan susu. Dan kau harus berjanji kalau kau akan meminumnya sampai habis,”ucap Seunghyun lalu berjalan keluar dan menuju dapur. Yewon menoleh menatap pintu yang kini sudah tertutup dan bergumam,”Kau seperti suamiku saja.”

“Yewon-a,”ucap Seunghyun dengan wajah serius.
“Apa? Kenapa kau serius begitu?,”tanya Yewon.
“Aku bersedia mencantumkan namaku sebagai ayah anakmu nanti di akte kelahirannya,”jawab Seunghyun.
“Ne?,”tanya Yewon sangsi. Seunghyun menggenggam tangannya dan menatap mata Yewon dalam.
“Aku bersedia menjadi ayah dari anakmu. Bukankah kau tidak ingin dia lahir tanpa ayah? Untuk itu, aku bersedia menjadi ayahnya,”ucap Seunghyun dan Yewon hanya terdiam.
“Aku akan menjadi ayah sementaranya. Jika Seonghyun sudah kembali… biarlah dia tau bahwa Seonghyun adalah ayah kandungnya,”ucap Seunghyun.
“Apa kau serius, Seunghyun-a?,”tanya Yewon.
“Aku serius. Biar bagaimanapun, aku sudah menjagamu, menjaga kalian. Dan tidak bisa dipungkiri bahwa aku menyayangi anak ini,”ucap Seunghyun seraya membelai perut Yewon yang sudah membesar. Yewon hanya tertawa melihatnya.
“Kau ini seperti suamiku saja, Seunghyun-a,”canda Yewon.
==========================

[Tiga bulan kemudian]

Seunghyun berlari sekuat tenaga menuju ruang operasi dan melihat Eunhye berdiri disana.
“Bagaimana, ommonim?,”tanya Seunghyun dengan napas memburu.
“Kau masuklah, bantu Yewon,”ucap Eunhye dan Seunghyun pun akhirnya masuk ke ruang bersalin itu. Dilihatnya Yewon terbaring di atas ranjang dan sedang berusaha sekuat tenaga melahirkan anaknya. Seunghyun langsung mengampiri dan menggenggam erat tangan Yewon.
“Aku capek, Seunghyun-a,”ucap Yewon lemas tetapi tetap berusaha sekuat tenaga untuk melahirkan anak itu.
“Terus berjuang, Yewon-a. ingatlah bahwa nanti kau akan melihat wajah lucunya,”ucap Seunghyun memberi semangat. Seunghyun terus mengucapkan kalimat-kalimat yang membuat Yewon kembali bertenaga untuk melahirkan sampai akhirnya suara tangis bayi terdengar dan dia langsung terkulai lemas.
“Sudahkah?,”tanya Yewon lemas.
“Ne. Dia sudah lahir,”ucap Seunghyun tersenyum seraya membelai rambut Yewon dan mengusap peluh di keningnya. Seorang perawat memberikan bayi itu setelah membersihkannya dan Yewon tersenyum bahagia saat melihatnya.
“Anakmu perempuan, nyonya,”ucap perawat itu.

Yewon akhirnya bangun setelah tertidur cukup lama dan menolehkan kepalanya. Dilihatnya Seunghyun sedang membaca buku tentang perawatan bayi di sofa yang ada disana.
“Kau benar-benar berniat sekali menjadi seorang appa,”ucap Yewon dan Seunghyun langsung menolehkan kepalanya.
“Kau sudah bangun,”ucap Seunghyun seraya menghampirinya.
“Hmm… Badanku rasanya mau patah, tapi ini sudah lebih baik,”jawab Yewon.
“Apa kau sudah melihat anak itu?,”tanya Yewon.
“Sudah. Aku melihatnya di ruangan bayi. Apa kau mau melihatnya?,”tanya Seunghyun dan Yewon mengangguk.
“Biar aku panggilkan perawat agar membawanya kemari,”ucap Seunghyun yang kemudian keluar kamar. Selang berapa lama akhirnya Seunghyun datang bersama perawat yang membawa tempat tidur bayi dan ibunya juga ada disana.
“Aigoo~~ akhirnya kau bangun juga. Kau harus menyusui anak ini, Yewon-a,”ucap Eunhye.
“Bagaimana mungkin,umma? ASI ku pasti belum keluar,”ucap Yewon.
“Biarkan anak ini berbaring di badanmu dan mencarinya,”ucap Eunhye.
“Ne?,”tanya Yewon kaget.
“Kau jangan kaget seperti itu. Walaupun bayi belum bisa melihat, tetapi dia sudah punya naluri untuk mengetahui dimana letak puting susu ibunya,”ucap Eunhye yang dengan sukses membuat Yewon bersemu merah.
“Umma~ Jangan mengatakan hal itu! Ada Seunghyun disini,”ucap Yewon malu.
“Tsk… kau ini,”ucap Eunhye seraya menggendong bayi itu.
“Sekarang lepaskan kancing bajumu!,”perintah Eunhye.
“Aku pamit keluar,”ucap Seunghyun yang mengerti dan langsung pergi dari sana.

Seunghyun kembali masuk setelah tadi Eunhye keluar dan menyuruhnya untuk masuk. Dilihatnya Yewon tengah menggendong bayi itu dan membelai rambut bayi yang tengah tertidur itu. Yewon langsung menoleh dan tersenyum saat dilihatnya Seunghyun berjalan menghampirinya. Seunghyun mengambil kursi dan duduk di tepi ranjang Yewon.
“Apa kau sudah memikirkan nama untuknya?,”tanya Seunghyun.
“Belum. Aku belum mempunyai ide. Nanti sajalah,”jawab Yewon. Seunghyun mencondongkan tubuhnya dan menatap bayi yang tengah digendong Yewon itu.
“Kau mau menggendongnya?,”tawar Yewon.
“Tidak. Aku tidak berani. Nanti saja aku menggendongnya saat dia sudah agak besar,”ucap Seunghyun seraya menggenggam jemari bayi itu dan bayi itu ternyata balas menggenggam jari telunjuknya dengan jari-jari mungilnya.
“Dia lucu sekali,”ucap Seunghyun seraya berdiri dan menundukkan wajahnya lalu mencium pipi bayi itu. Membuat bayi itu sedikit menggeliat. Eunhye yang ternyata sedari tadi memandang pemandangan itu dari luar hanya tersenyum.
“Yewon-a, seharusnya orang yang kau cintai adalah Seunghyun, bukan Seonghyun,”ucap Eunhye.

============TBC===========

Seonghyun di chapter ini adalah Oh Wonbin.
seperti yang kita ketahui bahwa sejak SMP dia mengganti namanya sebagai Oh Seonghyun.
Jadi,jangan bingung ya..:)
[ Read More ]
 
 

Followers

My Update